Puasa selaku Media Self Control

Oleh: Dokter. H. Thobib Al- Asyhar, Meter. Si

Sesuatu kali, guru diniyyah kampung dikala aku kecil menceritakan. Isi cerita itu sampai saat ini masih terngiang dalam ingatan aku. Tidak hanya selaku guru, ia pula seseorang petani yang giat bekerja di ladangnya. Tiap pagi ke sawah serta siang sampai sore ia mengajar di Madrasah Diniyyah( Madin).


Pak guru menceritakan di hadapan murid- murid Madin, tercantum aku. Dikala ia bekerja di sawah, tetiba terdapat seseorang masyarakat yang betul- betul menguji kesabarannya. Orang tersebut yang nota bene owner sawah sebelahnya terencana menutup saluran air yang mengalir ke bagian sawah si guru, sedangkan aliran air tersebut masih sangat diperlukan buat tumbuhan padi.


Dikala ditegur ataupun diingatkan, orang tersebut malah marah- marah kepada si guru dengan perkata agresif serta menantang buat" duel". Pak guru semacam kena" pancingan" buat berikan pelajaran orang tersebut. Kemudian ia buru- buru beristighfar, serta mengatakan:" tolong jangan ganggu aku, aku lagi berpuasa". Begitu pak guru memperingatkan, sekalian menasehati dirinya sendiri.


Ya, pak guru betul- betul berupaya mengatur tekanan amarahnya dengan menyadari kalau dirinya lagi berpuasa. Ia berupaya sanggup mengatur amarahnya supaya puasanya senantiasa jadi perisai untuk dirinya. Memanglah berat, tetapi pak guru dapat.


Apa yang dikisahkan guru Madin tersebut cocok dengan suatu hadis Nabi:" Bila salah seseorang dari kamu lagi berpuasa, hingga janganlah berkata- kata kotor, serta jangan pula berperan bodoh. Bila terdapat seorang yang mencelanya ataupun mengganggunya, hendaklah mengucapkan:" sebetulnya saya lagi berpuasa".( HR. Bukhari serta Muslim).


Imam Nawawi dalam kitab Al- Adzkar berkata:" Tercantum yang disarankan merupakan bila seorang dicela oleh orang lain ataupun diajak berkelahi kala ia lagi berpuasa, hingga katakanlah:" Inni shaa- imun, inni shaa- imun"( saya lagi puasa, saya lagi puasa) sebanyak 2 kali.


Hadis Nabi di atas dengan jelas menampilkan kalau puasa betul- betul mengarahkan kita buat berlagak lemah lembut kepada sesama, walaupun dalam keadaan lapar serta haus membuat orang kilat naik darah. Sangat, cerminan akhlak yang sangat luhur. Lemah lembut merupakan akhlak para nabi, sikap orang- orang terhormat serta mulia. Dengan lemah lembut membuat seorang hendak terus menjadi mulia.


Karenanya, dikala Urwah bin Zubair dicela orang lain dengan perkata kurang baik, dia dengan tenang lumayan mengatakan:" inni atrukuka rafan linafsi"( saya membiarkanmu cuma buat membuat diriku lebih mulia).


Alkisah, terdapat seseorang alim( sufi) ditemui oleh tetangganya, seseorang anak muda iseng. Bukan hanya itu, ia betul- betul mau membuat si alim marah. Anak muda mengatakan,“ Ya syekh, saya mengundangmu tiba ke rumahku nanti malam. Saya terdapat butuh denganmu.” Si alim menyanggupinya. Dikala malam datang, si alim menghadiri rumah anak muda tersebut buat penuhi udangannya.


Dikala si alim hingga di rumahnya, anak muda tersebut mengatakan:“ Wahai syekh, kenapa kamu tiba ke rumahku? Ia menanggapi, bukankah engkau mengundangku malam ini? Anak muda tersebut menyangkal, memanglah siapa yang mengundang kamu? Saya tidak terdapat butuh dengan kamu,” cetusnya. Kemudian syekh menanggapi," Baiklah, jika begitu aku pamit kembali," tegas si alim.


Pada hari yang lain, dikala anak muda berjumpa lagi dengan syekh alim tersebut serta mengantarkan perihal sama kalau ia mengundangnya tiba ke rumah. Dikala syekh penuhi undangannya, lagi- lagi sang anak muda tersebut menyangkal. Apalagi peristiwa semacam ini sampai 3 kali. Anehnya, si alim tersebut tidak marah sama sekali.


Sebab penasaran, si anak muda nakal kemudian mengatakan:“ Wahai syekh, mengapa kamu tidak marah sama sekali kala saya" kerjain" buat tiba ke rumahku serta saya menyangkal?” Dengan lembut si alim menanggapi:" Wahai anak muda, saya penuhi undangan tiba ke rumah tetanggaku selaku kewajiban agama. Sekedar sebab Allah. Jadi bukan sebab kalian."


Perilaku tenang serta tabah si alim tersebut menggambarkan betapa dia telah hingga pada titik di mana pemahaman spiritual paling tinggi sudah dicapai. Nilai- nilai moral beragama betul- betul diresapi serta dijalani.


Orang yang beragama secara mendalam ditentukan ia mempunyai kearifan. Sanggup mengatur tekanan amarah, mengatur hawa nafsunya, serta mengatur segala kesenagan- kesenangan materialnya.


Demikian pula orang yang lagi berpuasa, dituntut supaya puasanya jadi" referensi moral" sehingga sanggup membentuk individu yang baik. Orang yang gampang marah, secara psikologis, menggambarkan ciri seorang. Dalam suatu riset di Amerika menampilkan kalau, sekali marah hendak mematikan dekat 500 sel otak yang berjumlah milyaran di kepala.


Bila kita marah berulang kali dalam satu hari, hingga berapa ribu sel otak kita terputus dalam satu hari. Bila marah jadi Kerutinan, ataupun marah- marah, hingga jadilah dia mempunyai energi ingat yang lemah. Rasulullah saw sempat mengantarkan pesan kepada kita, kalau orang hebat itu bukan seorang yang jago bertarung( berkelahi), namun orang- orang yang sanggup mengatur amarahnya.


Mudah- mudahan, puasa kita di bulan suci Ramadan ini bisa jadi perisai jiwa kita buat tidak gampang marah. Walaupun marah itu normal selaku ungkapan emosi yang dibolehkan, senantiasa masih senantiasa lebih baik yang sanggup mengatur( mengendalikan) diri sebab Allah swt. Wallahu alam bish- shawab. ( Dilansir dari halaman Kemenag RI)


(Thobib Angkatan laut(AL) Asyhar( Dosen SKSG Universitas Indonesia, Kasubdit Riset serta Dedikasi Warga).  

0 Komentar