Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • sosial dan budaya

Cerita Legenda dalam Upacara Yadnya Kasada di Bromo

Redaksi
Minggu, Agustus 25, 2024
Liburan ke kawasan Gunung Bromo, Jawa Timur. Salah satunya adalah mendatangi event Eksotika Bromo yang rencananya akan digelar 27-28 Juli 2024 di Lautan Pasir Bromo.

Masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2024, Eksotika Bromo merupakan sebuah festival dan pesta budaya yang akan memberikan pengalaman spiritual melalui ekspresi tradisi yang menyatu dengan keindahan alam.

Tari Remo khas dari Bromo
Tari Remo khas dari Bromo (Shutterstock/Eva Afifah)

Selain alam yang memesona, Bromo juga memiliki latar legenda yang menarik untuk dikulik. Hal ini bisa dilihat dari kepercayaan dan ritual yang masih dilakukan oleh masyarakat lokal secara turun-temurun hingga sekarang. Satu di antaranya adalah upacara adat Yadnya Kasada yang dilakukan oleh masyarakat asli Bromo, yakni Suku Tengger. 

Sebagai upaya menghormati masyarakat lokal yang merayakan upacara adat Yadnya Kasada, kawasan wisata Gunung Bromo dan sekitarnya ditutup selama empat hari untuk masyarakat umum. Tepatnya pada 21-24 Juni 2024. Lantas, apa itu upacara adat Yadnya Kasada?

Yadnya Kasada, Upacara Adat yang Sarat Makna

Yadnya Kasada adalah sebuah upacara persembahan yang dilakukan dengan melempar sesaji ke kawah. Upacara ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus rasa syukur serta bakti kepada Sang Hyang Widhi dan leluhur. Upacara ini dilakukan setiap bulan Kasada hari ke-15 dalam penanggalan tradisional Hindu Tengger. 

Ritual adat Yadnya Kasada tidak hanya untuk memohon keberkahan, tapi juga meminta keselamatan dan perlindungan dari malapetaka. Menariknya, upacara adat Yadnya Kasada yang dilakukan Suku Tengger ini memiliki daya tarik storynomics tourism yang menarik diketahui wisatawan nusantara maupun mancanegara. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari sejarah, sekaligus makna kuat dan mendalam di balik rangkaian upacara adat Yadnya Kasada.

Pura Luhur Poten di kawasan Bromo
Pura Luhur Poten di kawasan Bromo (Shutterstock/saiko3p)

Menurut kepercayaan, masyarakat Suku Tengger melakukan upacara Yadnya Kasada sebagai bentuk penghormatan atas pengorbanan yang dilakukan Kusuma, yakni anak dari pasangan Jaka Seger dengan seorang putri Raja Majapahit yang bernama Roro Anteng. 

Kala itu, Roro Anteng dan Jaka Seger melakukan pertapaan di Gunung Bromo untuk meminta keturunan kepada penunggu gunung, yakni Sang Hyang Widhi Wasa. Dalam pertapaan tersebut, keduanya berjanji akan mengorbankan anaknya kepada Kawah Gunung Bromo jika doanya dikabulkan. 

Singkat cerita, akhirnya Roro Anteng dan Jaka Seger dikaruniai 25 anak. Namun, keduanya melupakan janji yang telah diikrarkan saat memohon keturunan. Sehingga, membuat sang Dewa marah. Hingga akhirnya, mereka pun menceritakan janji tersebut pada semua anaknya. Tanpa disangka, Kusuma, sebagai anak terakhir, rela mengorbankan dirinya sebagai tumbal agar orang-orang yang ditinggalkan, termasuk keluarganya dapat hidup damai.

Namun, kala itu Kusuma mengungkapkan jika ia tetap meminta persembahan untuk Kawah Gunung Bromo setiap tanggal 15 bulan Kasada. Berawal dari hal tersebut, masyarakat Suku Tengger rutin melakukan ritual melemparkan persembahan ke dalam kawah sebagai bentuk penghormatan, sekalius memohon keberkahan, keselamatan, serta perlindungan. 

Storynomics di Balik Terciptanya Gunung Batok di Bromo

Selain legenda di Yadnya Kasada, kawasan Gunung Bromo juga punya storynomics yang tidak kalah populer adalah cerita di balik terciptanya Gunung Batok, atau gunung yang berada tepat di sebelah Gunung Bromo.

Menurut legenda, kemunculan gunung nonaktif dengan ketinggian 2.440 mdpl ini dilatarbelakangi kisah cinta dua sejoli. Namanya adalah Joko Seger yang terkenal dengan genggaman dan tendangan kuat, dengan seorang perempuan yang lahir tanpa tangisan bernama Rara Anteng. Sudah kenal sejak kecil, akhirnya keduanya pun saling jatuh hati. 

Sayangnya, karena kecantikannya, hidup Rara Anteng kerap tidak tenang. Hal ini disebabkan karena ia menjadi “penyebab” terjadinya pertempuran akibat menolak lamaran para putra raja dan pengusaha. Hingga akhirnya datang seorang bajak laut yang ingin melamar. Rara Anteng pun memutar otak agar bisa menolak lamaran tersebut, tanpa membuat bajak laut murka dan membunuh warga di desanya.

Singkat cerita, Rara Anteng mengungkapkan jika ia bersedia dipersunting asalkan sang bajak laut bisa membuat lautan padang pasir dengan mengeruk Gunung Bromo sebelum ayam berkokok saat fajar. Di tengah pengerjaannya, Rara Anteng dengan teman-temannya berinisiatif menumbuk padi agar ayam jantan berkokok sebelum fajar, dan berhasil.

Karena gagal, bajak laut merasa kecewa dan pergi sambil melemparkan cangkang berbentuk batok yang digunakan untuk mengeruk pasir. Di tengah kepergiannya, secara ajaib cangkang tersebut menjelma menjadi sebuah gunung yang saat ini dikenal dengan Gunung Batok. Sejak saat itu, Rara Anteng dan Joko Seger menikah dan mendirikan sebuah desa bernama “Tengger”, yang diambil dari gabungan kedua nama mereka: Anteng dan Seger.(*)
Tags:
  • sosial dan budaya
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • Pakaian Adat Jawa Timur: Identitas Budaya yang Terjaga di Tengah Zaman

    Sabtu, Januari 17, 2026
    Pakaian Adat Jawa Timur: Identitas Budaya yang Terjaga di Tengah Zaman
  • 2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak

    Kamis, Januari 15, 2026
    2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak
  • PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak

    Rabu, Januari 14, 2026
    PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak
  • 10 Upacara Adat Jawa Timur yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

    Sabtu, Maret 15, 2025
    10 Upacara Adat Jawa Timur yang Hingga Kini Masih Dilestarikan
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live