Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • e-Magazine
  • Pemerintahan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Sejarah
  • Kosakata
  • Puisi
  • Music
  • Film
  • Kultur
  • Wisata
  • Tips
  • Opini
  • Coretan
  • Rilis
  • Beranda
  • Ekonomi

Produksi Padi Melonjak, Indonesia Cerah dan Serapan Gabah Tinggi

Oleh Redaksi
Jumat, April 11, 2025

Majalengka, Ragamjatim.id - Untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Presiden Prabowo Subianto juga sudah menetapkan harga gabah kering panen Rp6.500 per kilogram.

Optimistime bangsa ini semestinya membuncah ketika produktivitas pertanian meningkat. Indikatornya adalah panen raya padi yang meningkat. Karena itu, Presiden Prabowo Subianto menilai keadaan Indonesia saat ini sebetulnya terbilang cerah dan tidak gelap.

“Saya juga heran, ada orang yang mengatakan Indonesia gelap. Kalau dia memang merasa gelap itu hak dia. Tetapi kalau saya bangun pagi, saya lihat Indonesia cerah. Saya ketemu petani, petani gembira. Peningkatan hasil mereka naik secara drastis, produksi naik secara drastis,” kata Presiden Parabowo dalam acara Sarasehan Ekonomi Bersama Presiden Republik Indonesia di Jakarta, Selasa (8/4/2025).

Presiden juga menegaskan bahwa pemerintah telah memangkas sejumlah aturan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Antara lain terkait aturan distribusi pupuk. “Kita potong semua regulasi yang tidak benar, kita sederhanakan,” ujar Kepala Negara.

Mata rantai birokrasi yang panjang membuat distribusi tidak merata, bahkan membuat harga jual ke petani menjadi mahal. Presiden Prabowo menguraikan penyebabnya adalah untuk menyalurkan pupuk bersubsidi harus melewati tanda tangan 15 menteri, 30 sekian gubernur, 500 bupati, baru kemudian sampai ke Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).

“Saya bilang ke Menteri Pertanian, dari pabrik pupuk langsung ke petani, enggak ada lagi itu tandatangan-tandatangan. Langsung! Alhamdulillah, pupuk yang tadinya langka yang tadi banyak diselundupkan, yang banyak di korupsi, sekarang sampai ke desa-desa,” ungkap Kepala Negara.

Presiden menambahkan begitu perizinan-perizinan dihilangkan, arus distribusi pupuk menjadi lancar dan produksi menjadi naik. Soal pupuk menjadi masalah pelik bagi petani dalam beberapa tahun terakhir.

Sebelumnya saat acara Panen Serentak 14 Provinsi di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025), Kepala Negara menyampaikan bahwa Data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2025, potensi luas panen nasional mencapai 1.595.583 hektare (ha), dengan estimasi produksi sebesar 8.631.204 ton gabah kering giling (GKG) atau setara 4,97 juta ton beras. Secara kumulatif, produksi Januari–April 2025 tercatat 13.948.785 ton GKG, angka tertinggi dalam tujuh tahun terakhir.

Empat belas provinsi utama seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Banten, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sumatra Selatan, Aceh, Lampung, Sumatera Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Sulawesi Selatan tercatat menyumbang hampir 91,42 persen produksi nasional bulan ini.

Dengan luas panen 1,43 juta ha dan produksi 7,89 juta ton GKG, wilayah ini menjadi tulang punggung produksi nasional. Jawa Timur menjadi penyumbang terbesar, disusul Jawa Barat dan Jawa Tengah. Di luar Pulau Jawa, kontribusi tertinggi berasal dari Sulsel, Lampung, dan NTB.

Presiden Prabowo pun menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap capaian ini yang menurutnya merupakan hasil dari kerja keras para petani serta sinergi lintas sektor.

Pernyataan tersebut mencerminkan keyakinan pemerintah akan potensi besar sektor pertanian sebagai salah satu pilar utama ekonomi nasional. Dengan dukungan kebijakan dan program-program strategis dari pemerintah, diharapkan hasil pertanian akan terus mengalami kemajuan.

Adapun, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan kenaikan produksi ini juga seiring dengan serapan gabah kering panen (GKP) yang tinggi dari Bulog.

“Ada Bulog kinerjanya luar biasa, yaitu naik kinerjanya Januari, Februari, Maret, dibanding lima tahun 10 tahun sebelumnya, itu naik dua ribu persen,” kata Mentan Amran saat panen raya di Majalengka, Jawa Barat, Senin (7/4/2025).

Sejauh ini stok beras nasional di gudang Bulog mencapai 2,4 juta ton. Jumlah tersebut diprediksi akan terus meningkat dan bisa menembus 3 juta ton pada akhir April. Kata dia, angka ini tertinggi selama 10-20 tahun terakhir.

“Per jam tadi Pak Wamentan itu (penyerapannya) 800 ribu ton. Yang dahulu hanya 35 ribu ton. Ini peningkatan spektakuler berkat kerja kerasnya teman-teman," imbuhnya.

Salah satunya, Perum Bulog Cabang Surakarta, Jawa Tengah. Mereka mencatat capaian signifikan dalam penyerapan gabah petani di Kabupaten Sukoharjo.

Hingga akhir Maret 2025, Bulog setempat telah menyerap sebanyak 2.894 ton gabah, atau mencapai lebih dari 200 persen dari target penyerapan bulan Maret.

Pemimpin Bulog Cabang Surakarta, Nanang Harianto, menyampaikan bahwa capaian ini merupakan hasil kolaborasi aktif dengan Kodim 0726/Sukoharjo serta Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Sukoharjo.

Menurut Nanang, penyerapan dilakukan melalui koordinasi langsung dengan Babinsa dan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di masing-masing desa. Petani cukup melapor ke Babinsa setempat yang kemudian meneruskan informasi ke tim Bulog.

Sementara, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Presiden Prabowo Subianto juga sudah menetapkan harga gabah kering panen Rp6.500 per kilogram. Sementara harga jagung disepakati naik dari Rp5.000 menjadi Rp5.500. Sejumlah daerah telah menerapkan patokan harga pembelian pemerintah tersebut.

Seturut demikan, untuk menjaga keseimbangan ekonomi dalam rantai distribusi pangan, pemerintah juga sejumlah komoditas pada tahun ini, salah satunya beras.

Menteri Koordinator bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, dasar penghentian impor beras itu adalah tren positif produksi beras nasional. Pemerintah juga akan menampung seluruh produksi gabah dan jagung dari petani dengan harga yang telah ditetapkan.

Pada 2024, pemerintah menetapkan kuota impor beras 3,6 juta ton. Sedangkan yang telah terealisasi baru sekitar 2,9 juta ton.

Satu hal, Kementan bersama Kementerian Pekerjaan Umum (PU) tengah membangun dan menormalisasi jaringan irigasi seluas 2 juta ha di berbagai lokasi. Tujuannya, untuk meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia dalam mewujudkan kemandirian pangan.(IND)
Tags:
  • Ekonomi
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Tag Popular
  • Flash News
  • Jawa Timur
  • Kultur
  • Opini
  • Pemerintahan
  • Sejarah
  • Seni Budaya
  • Tips
Most popular
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • Wayangan HUT ke 61 Golkar Dihadiri Ribuan Masyarakat, Ali Mufthi Terkesima dan Haru

    Minggu, November 30, 2025
    Wayangan HUT ke 61 Golkar Dihadiri Ribuan Masyarakat,  Ali Mufthi Terkesima dan Haru
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • 15 Motif Batik Jawa Timur, Kenali ciri dan Filosofinya

    Rabu, Mei 15, 2024
    15 Motif Batik Jawa Timur, Kenali ciri dan Filosofinya
  • 10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya

    Jumat, Juli 25, 2025
    10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya
  • Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Kelabang

    Kamis, Mei 01, 2025
    Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Kelabang
  • Kenali Motif Batik Banyuwangi Paling Legendaris

    Jumat, Maret 21, 2025
    Kenali Motif Batik Banyuwangi Paling Legendaris
Ragamjatim.id
Copyright © 2025 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live