DPRD Surabaya Soroti Lemahnya Komunikasi Revitalisasi Pasar Keputran Sisi Selatan
Surabaya, Ragamjatim.id – Anggota Komisi B DPRD Surabaya, Budi Leksono, menyoroti lemahnya kinerja Direktorat Pembinaan Pedagang yang dinilai tidak harmonis dalam membangun komunikasi dengan pedagang Pasar Keputran sisi selatan, khususnya terkait rencana pembangunan dan revitalisasi pasar.
Menurut Budi Leksono, dalam setiap pengambilan kebijakan strategis, direktorat terkait terkesan tidak melibatkan aspirasi pedagang, padahal mereka merupakan pihak yang paling terdampak dari kebijakan pembangunan maupun pembongkaran pasar.
DPRD Nilai Pedagang Tidak Dilibatkan
Budi Leksono menilai proses pengambilan keputusan yang berjalan selama ini cenderung sepihak. Sosialisasi kebijakan pasar dinilai tidak sejalan dengan realisasi di lapangan sehingga menurunkan kepercayaan pedagang.
“Direktur Pembinaan Pedagang ini sepertinya kurang harmonis. Dalam mengambil kebijakan tidak mempedulikan pedagang, termasuk rencana pembangunan dan revitalisasi Pasar Keputran sisi selatan,” ujar politisi yang akrab disapa Bulek, Senin (19/1/2026).
Pembangunan Pasar Dinilai Tanpa Perencanaan Matang
Ia menjelaskan, persoalan Pasar Keputran sisi selatan seharusnya dimulai dari perencanaan menyeluruh, mulai dari penyediaan Tempat Penampungan Sementara (TPS), instalasi pengolahan air limbah (IPAL), hingga kejelasan tahapan pembangunan pasar.
Namun dalam praktiknya, pasar sudah terlanjur dibongkar tanpa kepastian lanjutan.
“Pasar sudah dibongkar, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan tender maupun pemenang kontraktor. Ini membuat pedagang terlantar dan kecewa,” tegasnya.
Pedagang Keluhkan Sepinya Pasar dan Minim Fasilitas
Keluhan juga disampaikan Afid, Koordinator Pedagang Pasar Keputran sisi selatan sekaligus Ketua Paguyuban Pedagang Unggas. Ia menegaskan bahwa pedagang tidak pernah meminta penertiban PKL sebagaimana isu yang berkembang.
“Kami tidak pernah minta PKL dibongkar. Pedagang justru seolah difitnah sebagai pihak yang mendorong penertiban,” ujarnya.
Menurut Afid, pedagang hanya berharap aturan ditegakkan secara konsisten dan fasilitas dasar dipenuhi agar aktivitas jual beli bisa berjalan normal.
Air Bersih Jadi Persoalan Mendesak
Selain sepinya pasar, minimnya fasilitas dasar menjadi persoalan serius, terutama ketersediaan air bersih yang sangat dibutuhkan pedagang unggas.
“Di sini enggak ada air. Kita terpaksa ngebor sendiri, itu pun tidak maksimal. Keran ada 12, dinyalakan tiga saja sudah mati satu,” ungkap Afid.
Ia berharap pemerintah kota dan pengelola pasar segera memberikan solusi konkret, mulai dari penataan pasar hingga pemenuhan fasilitas dasar.
“Harapan kami sederhana, aturan ditegakkan, fasilitas dibenahi, dan pedagang bisa berjualan dengan tenang,” pungkasnya. (*)
