Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • pendidikan

Gunakan Pedagogi Transformatif, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning Jadi Simpul Sosial Baru di Madura

Redaksi
Selasa, Januari 27, 2026
Di tengah kegelisahan publik terhadap arah pendidikan nasional, yang kerap terjebak pada logika administratif, kompetisi angka, dan ketimpangan akses,

Pamekasan, Ragamjatim.id - Di tengah kegelisahan publik terhadap arah pendidikan nasional, yang kerap terjebak pada logika administratif, kompetisi angka, dan ketimpangan akses, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Kyai Mudrikah Kembang Kuning menghadirkan narasi alternatif tentang pendidikan sebagai ruangharapan. 

Proses monitoring dan verifikasi pengajuan izin operasional madrasah tersebut dilakukan oleh Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan, yang dikomandani oleh Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan KH. Badrus Shomad, S.Ag,. M,Pd.I, bersama Operator Kabupaten Pamekasan Jamik iyah SE. dan Tim Lakukan Monitoring dan Verifikasi Berkas Pengajuan Izin Operasional Pendirian dan Pembukaan Madrasah Tsanawiyah Kyai Mudrikah Kembang Kuning.

“Itu bukan hanya sekadar prosedur birokratis, melainkan momentum sosial yang menandai lahirnya institusi pendidikan berbasis keberpihakan dan keadilan sosial,” ujar Achmad Muhlis selaku Guru Besar Sosiologi Pendidikan Islam UIN Madura, Senin (26/1/2026).

Dijelaskan, pendirian MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning mencerminkan fungsi pendidikan sebagai instrumen mobilitassosial dan integrasi masyarakat. Madrasah ini secara eksplisitmenyasar keluarga tidak mampu, yatim, dan duafa, kelompoksosial yang selama ini kerap berada di pinggiran sistempendidikan formal. 

Dalam konteks ini, tambahnya, madrasah tidak hanyaberperan sebagai lembaga transfer ilmu, tetapi sebagai agenkorektif atas ketimpangan struktural yang diwariskan oleh kondisi ekonomi, geografis, dan sosial.

Pilihan untuk membuka akses pendidikan murah dan terjangkau menunjukkan kesadaran sosiologis bahwakemiskinan bukan semata kegagalan individu, melainkan produkrelasi sosial yang timpang. 

Dengan demikian, ujar Muhlis, pendirian madrasah ini dapat dibaca sebagai bentuk resistensi halusterhadap komersialisasi pendidikan, sekaligus afirmasi bahwapendidikan agama memiliki mandat sosial untuk membela yang lemah dan terpinggirkan.

“Keberpihakan kepada peserta didik yatim dan du‘afa‘ memiliki implikasi yang mendalam. Anak-anak dari latarbelakang rentan kerap membawa beban psikologis berupa rasa rendah diri, kecemasan masa depan, dan pengalaman eksklusisosial. Madrasah ini hadir dengan pendekatan inklusif dan kepedulian sosial tidak hanya menyediakan ruang belajar kognitif, tetapi juga ruang pemulihan psikologis. Pendidikan, dalam konteks ini, berfungsi sebagai proses restorasi martabat, mengembalikan rasa percaya diri dan makna hidup peserta didik,” bebernya.

Menurutnya, inisiatif penyediaan fasilitas teknologi melalui konsep one student one laptop patut dibaca tidak sekadar sebagai modernisasi sarana, tetapi sebagai strategi psikopedagogis untuk membangun kepercayaan diri dan kesiapan mental peserta didik menghadapi dunia digital. 

Bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, akses teknologi bukan hanya soal alat belajar, tetapi simbol pengakuan bahwa mereka setara secara potensial dengananak-anak dari kelas sosial mana pun. Hal ini berkontribusi pada pembentukan self-efficacy dan motivasi intrinsik peserta didik.

Dalam pandangan Muhlis, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning merepresentasikan upaya mengintegrasikan nilai keislaman, keadilan sosial, dan literasi teknologi dalam satu ekosistem pendidikan. 

Madrasah ini tidak menempatkan tradisi pesantren dan teknologi sebagai dua kutub yang bertentangan, melainkan sebagai dua sumberpengetahuan yang saling melengkapi. Pendidikan agama tidak diposisikan sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai fondasietis untuk menghadapi tantangan masa depan.

Model pendidikan semacam ini sejalan dengan gagasanpedagogi transformatif, di mana pendidikan dipahami sebagaiproses pembebasan, bukan sekadar reproduksi pengetahuan. Dengan biaya yang terjangkau dan fasilitas yang disiapkansecara serius, madrasah ini berpotensi menjadi ruang belajaryang memanusiakan manusia, tempat peserta didik tidak hanyadiajari apa yang harus diketahui, tetapi juga dibentuk menjadisubjek yang sadar, berdaya, dan berakhlak.

Lebih jauh, keterlibatan aktif Kementerian Agama Kabupaten Pamekasan dalam proses monitoring dan verifikasimenunjukkan bahwa negara, melalui instrumennya, masih memiliki peran strategis dalam menjaga mutu dan arah pendidikan keagamaan. Namun, yang perlu digarisbawahi, kualitas pendidikan tidak hanya diukur dari kelengkapandokumen dan kepatuhan administratif, melainkan darikeberpihakan nilai dan visi sosial yang diusung oleh lembagapendidikan itu sendiri.

“Dalam konteks masyarakat Madura yang kuat dengantradisi pesantren dan solidaritas komunal, MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning memiliki potensi besar untuk menjadi simpulsosial baru, menghubungkan pendidikan, pengasuhan, dan pengabdian sosial dalam satu napas. Madrasah semacam inibukan hanya mencetak lulusan, tetapi membentuk generasi yang memahami bahwa ilmu pengetahuan harus berpihak, dan teknologi harus beretika,” tegas Muhlis.

Akhirnya, pendirian dan pengajuan izin operasional MTs Kyai Mudrikah Kembang Kuning patut dibaca sebagai ikhtiarkolektif untuk mengembalikan pendidikan pada hakikatnya, yakni sebagai jalan pemanusiaan manusia. 

“Di tengah krisis keadilan pendidikan, madrasah ini mengajukan tesis sederhananamun radikal, bahwa anak-anak miskin tidak membutuhkanbelas kasihan, melainkan kesempatan untuk bersaing dan berkompetisi pada Lembaga Pendidikan yang dikelola denganvisi sosial, psikologis, dan pedagogis yang utuh, adalah bentukkesempatan paling bermartabat,” tukasnya. (*)
Tags:
  • pendidikan
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • Ribuan Pengurus DPD Golkar se-Jawa Timur Dijadwalkan Dikukuhkan di Jatim Expo

    Minggu, Februari 08, 2026
    Ribuan Pengurus DPD Golkar se-Jawa Timur Dijadwalkan Dikukuhkan di Jatim Expo
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • Atap SDN 4 Pandan Wangi Rata dengan Tanah, Kanit Dikbud Jerowaru Gerak Cepat 10 Menit Pasca-Kejadian

    Minggu, Februari 08, 2026
    Atap SDN 4 Pandan Wangi Rata dengan Tanah, Kanit Dikbud Jerowaru Gerak Cepat 10 Menit Pasca-Kejadian
  • OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi

    Sabtu, Januari 31, 2026
    OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi
  • 7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi

    Sabtu, Juli 26, 2025
    7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live