Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • sosial dan budaya

Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia

Redaksi
Senin, Januari 19, 2026
Museum Multatuli di Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten

Lebak, Ragamjatim.id – Pagi di Rangkasbitung terasa tenang ketika langkah kaki mulai menapaki halaman Museum Multatuli. Bangunan itu berdiri tanpa hingar-bingar, namun menyimpan kisah besar tentang perlawanan, kemanusiaan, dan suara nurani yang lahir dari tanah Lebak, Banten.

Museum Multatuli bukan sekadar ruang pamer benda sejarah. Ia adalah penanda ingatan kolektif, tempat di mana kisah kolonialisme, penderitaan rakyat, dan keberanian menyuarakan kebenaran dirajut menjadi satu narasi panjang.

Museum ini diresmikan pada 2018 dan mengambil nama Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang pejabat kolonial Belanda yang pernah bertugas sebagai asisten residen di Lebak pada pertengahan abad ke-19.

Multatuli dan Luka yang Dituliskan

Nama Multatuli dikenal luas lewat karya satir legendarisnya, Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda, yang pertama kali terbit pada 1860. Novel ini menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia karena secara terang-terangan membongkar praktik penindasan dan ketidakadilan kolonial di Hindia Belanda.

Di Museum Multatuli, kisah itu tidak hanya diceritakan lewat teks, tetapi juga lewat visual, arsip, dan artefak yang disusun berlapis. Setiap ruang membawa pengunjung menyusuri perjalanan Dekker, dari kegelisahan batin hingga keberaniannya menulis kebenaran yang kala itu dianggap berbahaya.

Dipandu Sejarah oleh Penjaga Museum

Saat berkeliling museum, pengunjung kerap dipandu langsung oleh Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli, yang akrab disapa Kang Ubai. Dengan tutur tenang dan penuh detail, Kang Ubai menjelaskan setiap sudut museum seolah membuka kembali lembar demi lembar sejarah.

Ia memulai dari panel-panel dinding yang menggambarkan situasi sosial Lebak pada masa kolonial, lalu berlanjut pada perjalanan pemikiran Multatuli yang melahirkan karya monumental.

“Multatuli menulis bukan untuk mencari pujian, tetapi karena nuraninya tidak bisa diam melihat ketidakadilan,” tutur Kang Ubai saat menjelaskan latar belakang lahirnya Max Havelaar.

Koleksi Buku Asli yang Terawat

Salah satu bagian paling menarik dari museum ini adalah koleksi buku-buku karya Multatuli yang masih terjaga dengan baik. Pengunjung dapat melihat edisi lama Max Havelaar dan karya-karya lain yang memperlihatkan betapa besar pengaruh pemikiran Dekker terhadap kesadaran antikolonial di Eropa maupun Hindia Belanda.

Buku-buku tersebut menjadi saksi bisu bahwa perubahan besar kerap lahir dari keberanian satu suara yang menolak bungkam.

Museum yang Hidup, Bukan Sekadar Etalase

Museum Multatuli dirancang bukan sebagai museum yang membeku dalam waktu. Ia dihidupkan melalui diskusi, kunjungan pelajar, kegiatan literasi, hingga perhelatan kebudayaan. Museum ini menjadi ruang belajar lintas generasi tentang sejarah, kemanusiaan, dan pentingnya keberpihakan pada keadilan.

“Museum ini kami harapkan menjadi pusat literasi dan pembelajaran, bukan hanya tentang Multatuli, tetapi tentang nilai kemanusiaan,” ujar Kang Ubai.

Letaknya yang berada di pusat Kota Rangkasbitung membuat museum ini mudah diakses. Tiket masuk pun sangat terjangkau, Rp1.000 untuk pelajar, Rp2.000 untuk dewasa, dan Rp15.000 bagi wisatawan mancanegara.

Dari Lebak, Suara Kemanusiaan Menggema

Bagi Kabupaten Lebak, Museum Multatuli bukan hanya aset wisata sejarah, tetapi simbol identitas daerah. Dari tanah inilah, kritik terhadap kolonialisme pernah bergema dan mengguncang dunia.

Mengunjungi Museum Multatuli berarti menapaki jejak keberanian intelektual, mengingat bahwa kata-kata jujur bisa menjadi kekuatan besar melampaui zamannya. Dari Rangkasbitung, suara kemanusiaan itu masih terus hidup, menunggu untuk dibaca ulang oleh generasi hari ini. (*)
Tags:
  • sosial dan budaya
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • Ribuan Pengurus DPD Golkar se-Jawa Timur Dijadwalkan Dikukuhkan di Jatim Expo

    Minggu, Februari 08, 2026
    Ribuan Pengurus DPD Golkar se-Jawa Timur Dijadwalkan Dikukuhkan di Jatim Expo
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • Atap SDN 4 Pandan Wangi Rata dengan Tanah, Kanit Dikbud Jerowaru Gerak Cepat 10 Menit Pasca-Kejadian

    Minggu, Februari 08, 2026
    Atap SDN 4 Pandan Wangi Rata dengan Tanah, Kanit Dikbud Jerowaru Gerak Cepat 10 Menit Pasca-Kejadian
  • OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi

    Sabtu, Januari 31, 2026
    OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi
  • 7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi

    Sabtu, Juli 26, 2025
    7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live