Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia

Museum Multatuli di Rangkasbitung Kabupaten Lebak Banten

Lebak, Ragamjatim.id – Pagi di Rangkasbitung terasa tenang ketika langkah kaki mulai menapaki halaman Museum Multatuli. Bangunan itu berdiri tanpa hingar-bingar, namun menyimpan kisah besar tentang perlawanan, kemanusiaan, dan suara nurani yang lahir dari tanah Lebak, Banten.

Museum Multatuli bukan sekadar ruang pamer benda sejarah. Ia adalah penanda ingatan kolektif, tempat di mana kisah kolonialisme, penderitaan rakyat, dan keberanian menyuarakan kebenaran dirajut menjadi satu narasi panjang.

Museum ini diresmikan pada 2018 dan mengambil nama Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, seorang pejabat kolonial Belanda yang pernah bertugas sebagai asisten residen di Lebak pada pertengahan abad ke-19.

Multatuli dan Luka yang Dituliskan

Nama Multatuli dikenal luas lewat karya satir legendarisnya, Max Havelaar atau Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda, yang pertama kali terbit pada 1860. Novel ini menjadi salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia karena secara terang-terangan membongkar praktik penindasan dan ketidakadilan kolonial di Hindia Belanda.

Di Museum Multatuli, kisah itu tidak hanya diceritakan lewat teks, tetapi juga lewat visual, arsip, dan artefak yang disusun berlapis. Setiap ruang membawa pengunjung menyusuri perjalanan Dekker, dari kegelisahan batin hingga keberaniannya menulis kebenaran yang kala itu dianggap berbahaya.

Dipandu Sejarah oleh Penjaga Museum

Saat berkeliling museum, pengunjung kerap dipandu langsung oleh Ubaidillah Muchtar, Kepala Museum Multatuli, yang akrab disapa Kang Ubai. Dengan tutur tenang dan penuh detail, Kang Ubai menjelaskan setiap sudut museum seolah membuka kembali lembar demi lembar sejarah.

Ia memulai dari panel-panel dinding yang menggambarkan situasi sosial Lebak pada masa kolonial, lalu berlanjut pada perjalanan pemikiran Multatuli yang melahirkan karya monumental.

“Multatuli menulis bukan untuk mencari pujian, tetapi karena nuraninya tidak bisa diam melihat ketidakadilan,” tutur Kang Ubai saat menjelaskan latar belakang lahirnya Max Havelaar.

Koleksi Buku Asli yang Terawat

Salah satu bagian paling menarik dari museum ini adalah koleksi buku-buku karya Multatuli yang masih terjaga dengan baik. Pengunjung dapat melihat edisi lama Max Havelaar dan karya-karya lain yang memperlihatkan betapa besar pengaruh pemikiran Dekker terhadap kesadaran antikolonial di Eropa maupun Hindia Belanda.

Buku-buku tersebut menjadi saksi bisu bahwa perubahan besar kerap lahir dari keberanian satu suara yang menolak bungkam.

Museum yang Hidup, Bukan Sekadar Etalase

Museum Multatuli dirancang bukan sebagai museum yang membeku dalam waktu. Ia dihidupkan melalui diskusi, kunjungan pelajar, kegiatan literasi, hingga perhelatan kebudayaan. Museum ini menjadi ruang belajar lintas generasi tentang sejarah, kemanusiaan, dan pentingnya keberpihakan pada keadilan.

“Museum ini kami harapkan menjadi pusat literasi dan pembelajaran, bukan hanya tentang Multatuli, tetapi tentang nilai kemanusiaan,” ujar Kang Ubai.

Letaknya yang berada di pusat Kota Rangkasbitung membuat museum ini mudah diakses. Tiket masuk pun sangat terjangkau, Rp1.000 untuk pelajar, Rp2.000 untuk dewasa, dan Rp15.000 bagi wisatawan mancanegara.

Dari Lebak, Suara Kemanusiaan Menggema

Bagi Kabupaten Lebak, Museum Multatuli bukan hanya aset wisata sejarah, tetapi simbol identitas daerah. Dari tanah inilah, kritik terhadap kolonialisme pernah bergema dan mengguncang dunia.

Mengunjungi Museum Multatuli berarti menapaki jejak keberanian intelektual, mengingat bahwa kata-kata jujur bisa menjadi kekuatan besar melampaui zamannya. Dari Rangkasbitung, suara kemanusiaan itu masih terus hidup, menunggu untuk dibaca ulang oleh generasi hari ini. (*)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia
  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia
  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia
  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia
  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia
  • Menelusuri Jejak Sejarah di Museum Multatuli, Dari Rangkasbitung untuk Dunia

Posting Komentar