Ketika Imlek dan Ramadan Datang Barengan: Negeri Ini Lagi-lagi Ngasih Pelajaran Tentang Hidup Berdampingan
Ragamjatim.id - Ada momen-momen tertentu yang bikin Indonesia terasa seperti sedang sengaja pamer kedewasaan. Salah satunya ketika Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan datang nyaris bersamaan. Dua tradisi besar, dua suasana yang kelihatannya berbeda, tapi tiba-tiba duduk di kalender yang sama.
Di satu sisi, lampion merah bergelantungan, ucapan gong xi fa cai berseliweran, kue keranjang mulai dibagi-bagi. Di sisi lain, jadwal imsak ditempel di kulkas, grup keluarga mulai ribut bahas menu buka, dan masjid kembali ramai menjelang magrib. Tidak saling mengganggu, tidak saling menutup. Justru berdampingan dengan tenang.
Yang menarik, pertemuan Imlek dan Ramadan ini bukan cuma soal tanggal. Tapi soal nilai yang diam-diam saling menyapa.
Imlek berbicara tentang awal baru, harapan, dan membersihkan diri dari nasib buruk tahun lalu. Ramadan pun datang membawa pesan serupa: menata ulang niat, menahan diri, dan memberi ruang bagi sesama. Satu dirayakan dengan pesta dan warna, satu dijalani dengan hening dan pengendalian. Caranya berbeda, tujuannya hampir sama.
Di banyak kota, kita bisa melihat pemandangan yang sederhana tapi bermakna. Warung Tionghoa yang tetap buka, tapi menutup tirai saat azan magrib. Masjid yang tetap berdiri tenang di tengah kawasan pecinan. Ucapan selamat Imlek berdampingan dengan ucapan marhaban ya Ramadan di linimasa media sosial.
Tak ada drama. Tak ada yang merasa paling berhak atas ruang.
Justru di situ letak keindahannya.
Indonesia memang sering ribut soal perbedaan. Tapi di momen-momen seperti ini, kita diingatkan bahwa hidup berdampingan itu sebenarnya sudah jadi kebiasaan, bukan sesuatu yang perlu diajarkan ulang tiap tahun.
Imlek dan Ramadan yang datang beriringan seperti sedang berbisik pelan: kalau kalender saja bisa akur, masa kita nggak?
Mungkin inilah definisi toleransi yang paling jujur. Bukan slogan besar, bukan pidato panjang. Tapi saling paham, saling menyesuaikan, dan saling memberi ruang. Tanpa perlu merasa kehilangan identitas.
Merah lampion dan senyap sahur tak perlu dipertentangkan. Keduanya sama-sama warna Indonesia.
Dan seperti biasa, negeri ini mengajarkan satu hal penting dengan cara yang sederhana: berbeda tidak harus berisik, dan berdampingan tidak perlu ribut.(red)
