Kuli Tinta Sang Pejuang
Bogor, 31 Januari 2026, Sejarah Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) tidak pernah berdiri sendiri. Dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga PWI, termaktub jelas bahwa perjuangan wartawan Indonesia adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah panjang perjuangan rakyat Indonesia merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sejak republik ini dilahirkan, wartawan bukan sekadar pencatat peristiwa. Mereka adalah kuli tinta, saksi zaman, sekaligus pejuang. Pena menjadi senjata, kata-kata menjelma peluru kesadaran.
Kini, di usia hampir delapan dekade kemerdekaan, PWI kembali menegaskan jati dirinya sebagai kumpulan kuli tinta sang pejuang. Pejuang yang bersiap melakukan terobosan digitalisasi, sekaligus melawan kedzaliman digital yang kerap dimanfaatkan para bandit negeri untuk menipu, membelokkan fakta, dan meninabobokan rakyat.
Pers dan Pertahanan Bangsa
Dalam sebuah pidato, Menteri Pertahanan Jenderal (Purn) Sjafrie Sjamsoedin menegaskan kembali posisi historis PWI sebagai mitra strategis tentara dan para pejuang penjaga kedaulatan bangsa. Sejak masa revolusi, pers hadir menjaga api kemerdekaan, membangkitkan semangat kebangsaan, dan membongkar kebobrokan yang menggerogoti negara dari dalam.
PWI, kata dia, bukan hanya penjaga informasi, tetapi bagian dari instrumen pertahanan non-militer bangsa.
Komitmen itu kini kembali disuarakan lantang. PWI menyatakan siap dan berani membela negara, berdiri bersama seluruh instrumen penjaga kedaulatan NKRI. Siap berjuang mengembalikan martabat anak bangsa bahkan bila harus ditempuh dengan pengorbanan.
Penjajahan Tanpa Senjata
Hari ini, ibu kandung bernama Indonesia terasa terkoyak. Setelah puluhan tahun merdeka, penjajah modern hadir tanpa senjata, namun dengan tipu daya, sogokan demokrasi, dan dominasi kekuasaan ekonomi. Rakyat dibuat tak berdaya, dilalaikan, bahkan diadu domba oleh arus informasi yang kerap tak berpihak pada kebenaran.
Di tengah kondisi itu, kuli tinta sang pejuang memilih berdiri. Menyuarakan dan menyiarkan cahaya kebenaran seterang rembulan saat padang bulan, ketika gelap tak lagi mampu menyembunyikan luka.
Ibu Pertiwi menangis. Kekayaan alam terkuras dan dinikmati segelintir orang. Amanat rakyat dikhianati oleh mereka yang pernah bersumpah setia. Korupsi menjadi tradisi, kemewahan dipertontonkan, sementara rakyat dipaksa bertahan dalam kemiskinan dan kebingungan informasi.
Bela Negara sebagai Laku
Maka PWI kembali menegaskan langkah: terdepan bersama rakyat, bergotong royong menjaga kedaulatan. Bela negara bukan slogan, melainkan laku. Mengembalikan kekayaan rakyat untuk sebesar-besarnya kemaslahatan umat, serta menyeret para pengkhianat ke hadapan nurani publik.
Kesadaran ini menguat dalam Retret Memperkuat Pers Profesional, Menjaga Ketahanan Informasi, Demokrasi, dan Ketahanan Nasional. Sebuah ruang refleksi, sekaligus titik balik. Wartawan disadarkan kembali pada perannya: membebaskan rakyat dari kemiskinan informasi dan jebakan tipu-tipu digital.
Alam seolah ikut bersaksi. Tanda-tanda perlawanan terhadap kedzaliman mulai tampak. Ada harapan bahwa kedaulatan rakyat yang nyaris terampas masih dapat direbut kembali.
Para peserta retret para kuli tinta sang pejuang siap menjadi garda terdepan. Berperang di ruang opini, melawan kenakalan digitalisasi, dan menembus kabut kepalsuan. Demi mengembalikan amanat umat yang lama terlumat oleh para penjilat kekuasaan.
Pena, Nurani, dan Kebangkitan
Malam itu sunyi. Para wartawan terdiam. Seperti rembulan tertutup awan, qolbu mereka meratap ketika mendengar pidato para menteri tentang negeri yang terasa “mati suri”.
Namun justru dari keheningan itulah tekad mengeras.
PWI kembali memeluk tradisi patriotiknya berjuang dalam semangat demokrasi, menjaga kedaulatan NKRI dengan pena yang jujur dan nurani yang merdeka.
Kini, para kuli tinta bangkit dari tidur panjang.
Siap menjadi penjuru informasi kebenaran.
Siap membela negara.
Siap membangunkan rakyat agar siuman dari panjangnya peninaboboan, menuju kehidupan yang adil, makmur, dan gemah ripah loh jinawi.
Karena selama masih ada kebenaran yang harus disuarakan,
kuli tinta akan tetap menjadi pejuang. (*)
