Kenapa Baju Berkabung Identik Warna Hitam? Ini Sejarah dan Maknanya
![]() |
| Ilustrasi baju berkabung pada zaman sekarang |
Ragamjatim.id - Dalam momen kehilangan, manusia selalu mencari cara untuk mengekspresikan rasa duka. Salah satunya melalui pakaian.
Di berbagai belahan dunia, warna gelap seperti hitam kerap menjadi pilihan utama saat berkabung. Tapi, pernahkah terpikir kenapa warna ini begitu melekat dengan suasana duka?
Ternyata, jawabannya tersembunyi dalam perjalanan sejarah panjang yang melintasi peradaban.
1. Akar Sejarah dari Zaman Kuno
Penggunaan warna hitam dalam berkabung sudah ada sejak masa kuno.
Di Mesir Kuno, warna hitam dan hijau tua sering dikaitkan dengan kehidupan setelah kematian. Warna ini melambangkan siklus hidup dan kematian, sekaligus misteri dunia setelahnya.
Sementara itu, di Romawi Kuno, tradisi mengenakan pakaian berkabung mulai terbentuk lebih jelas. Masyarakat mengenakan toga berwarna gelap yang dikenal sebagai toga pulla saat menghadiri pemakaman.
Dari sinilah, warna gelap mulai menjadi simbol universal untuk kehilangan.
2. Abad Pertengahan: Simbol Status dan Aturan Sosial
Memasuki era abad pertengahan di Eropa, berkabung bukan hanya soal emosi, tapi juga status sosial.
Aturan berpakaian diatur ketat melalui hukum yang dikenal sebagai sumptuary laws. Warna hitam menjadi identitas bagi kalangan bangsawan dan keluarga kerajaan.
Perempuan, terutama janda, mengenakan pakaian khusus lengkap dengan penutup kepala. Bahkan di beberapa wilayah, janda diwajibkan mengenakan pakaian berkabung sepanjang hidupnya.
Di sini, duka berubah menjadi “bahasa visual” yang menunjukkan posisi seseorang di masyarakat.
3. Era Victoria: Berkabung Jadi Tradisi yang Detail
Tradisi berkabung mencapai puncaknya pada masa Ratu Victoria.
Setelah wafatnya Pangeran Albert pada tahun 1861, ia mengenakan pakaian hitam hampir sepanjang sisa hidupnya. Sikap ini kemudian memengaruhi budaya berkabung di seluruh Eropa.
Pada era ini, aturan berkabung menjadi sangat rinci:
- Suami atau istri: hingga 2 tahun
- Orang tua: 6 bulan – 1 tahun
- Anak-anak: hingga 1 tahun
- Bayi: sekitar 6 minggu
Busana berkabung pun memiliki tahapan. Pada awalnya, pakaian didominasi kain hitam kusam seperti krep. Seiring waktu, bahan yang digunakan menjadi lebih halus dan elegan.
Menariknya, setelah masa berkabung penuh selesai, warna pakaian mulai “hidup kembali” secara perlahan.
4. Zaman Modern: Lebih Fleksibel, Tapi Simbol Tetap Ada
Saat ini, aturan berkabung tidak lagi seketat dulu.
Warna hitam tetap menjadi pilihan utama karena dianggap sederhana, sopan, dan menghormati suasana duka. Namun, penggunaannya biasanya hanya saat prosesi pemakaman atau acara tertentu saja.
Di sisi lain, budaya dan agama juga memengaruhi pilihan warna. Dalam beberapa tradisi, seperti Hindu, warna putih justru melambangkan kesucian dan menjadi warna utama saat berkabung.
Seolah-olah, setiap budaya memiliki “bahasa warna” masing-masing untuk berbicara tentang kehilangan.
Kesimpulan
Warna hitam dalam pakaian berkabung bukan sekadar pilihan estetika, melainkan simbol yang lahir dari sejarah panjang manusia dalam memahami kematian.
Dari toga gelap di Romawi hingga gaun hitam era Victoria, semuanya membentuk tradisi yang masih terasa hingga hari ini.
Namun pada akhirnya, warna hanyalah perantara.
Yang paling penting tetap sama: doa, penghormatan, dan kenangan yang ditinggalkan. (red)

Posting Komentar