Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, pasca ditetapkannya Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Surabaya, Ragamjatim.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kesenian Reyog sebagai warisan budaya dunia yang berkelanjutan, pasca ditetapkannya Reyog Ponorogo sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) oleh UNESCO.

Hal tersebut disampaikan saat Khofifah menerima seniman Tim Reyog Kyai Lodra di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, pekan lalu. Kunjungan ini menjadi bagian dari persiapan menuju Festival Reyog Nasional Ponorogo 2026 yang dijadwalkan berlangsung Juni mendatang.

Menurut Khofifah, Reyog tidak sekadar seni pertunjukan, melainkan representasi nilai, filosofi, dan identitas bangsa. Ia menekankan bahwa kekuatan utama Reyog justru terletak pada nilai keberanian, kebenaran, serta harmoni dalam keberagaman.

“Reyog bukan sekadar atraksi. Di dalamnya ada filosofi kuat yang membentuk karakter sekaligus menjadi pijakan dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menyebut pengakuan UNESCO dalam kategori In Need of Urgent Safeguarding pada akhir 2024 menjadi momentum penting. Namun, pengakuan tersebut harus diikuti langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan, termasuk pelestarian, regenerasi pelaku seni, hingga kesinambungan pertunjukan.

Salah satu perhatian penting adalah aspek kesejahteraan satwa (animal welfare). Pemerintah mendorong agar pertunjukan Reyog tidak lagi menggunakan material dari satwa dilindungi, melainkan beralih ke alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Seiring meningkatnya pengakuan global, Khofifah menilai ekosistem Reyog juga ikut berkembang, terlebih dengan posisi Ponorogo sebagai kota kreatif. Karena itu, ia mendorong penyelenggaraan pentas dan event secara rutin guna memperkuat regenerasi seniman.

“Semakin sering tampil, semakin terasah kemampuan mereka. Dari situ tumbuh rasa bangga dan dedikasi untuk melestarikan budaya,” katanya.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari institusi pendidikan hingga komunitas seni. Upaya ini mencakup pelatihan, pembinaan, serta pengembangan kreativitas generasi muda.

Selain itu, kerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam juga dijajaki, khususnya terkait pengembangbiakan burung merak Jawa sebagai bagian dari solusi keberlanjutan.

Perwakilan tim, Joko Winarko, menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah. Ia menegaskan keikutsertaan dalam festival bukan sekadar kompetisi, melainkan wujud komitmen generasi muda dalam menjaga warisan budaya.

Sebagai bentuk dukungan, Pemprov Jatim turut memberikan dana pembinaan sebesar Rp25 juta bagi tim. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen menjaga Reyog tetap hidup, berkembang, dan dikenal di tingkat global. (*)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO
  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO
  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO
  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO
  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO
  • Penguatan Ekosistem Reyog Jadi Fokus Pasca Pengakuan UNESCO

Posting Komentar