Gunung Kawi Viral karena Isu Pesugihan, Ini 3 Fakta Ilmiah yang Jarang Diketahui
Gunung Kawi di Malang viral karena isu pesugihan. Simak 3 fakta ilmiah tentang sejarah vulkanik, letusan, dan vegetasi pegunungannya.
RagamJatim.id – Gunung Kawi di Kabupaten Malang kembali menjadi perhatian publik setelah viral di media sosial akibat dikaitkan dengan dugaan praktik pesugihan. Berbagai unggahan video dan cerita yang beredar membuat nama gunung ini kembali ramai diperbincangkan.
Di balik berbagai narasi yang berkembang, Gunung Kawi sebenarnya menyimpan banyak fakta menarik yang dapat dijelaskan melalui ilmu pengetahuan. Mulai dari sejarah pembentukannya, karakter vulkaniknya, hingga ekosistem yang tumbuh di kawasan pegunungan tersebut.
Memahami sisi ilmiah Gunung Kawi memberikan gambaran yang lebih utuh tentang salah satu gunung di Jawa Timur ini, terlepas dari berbagai cerita mistis yang berkembang di masyarakat.
Berikut beberapa fakta ilmiah tentang Gunung Kawi yang menarik untuk diketahui.
1. Gunung Kawi Merupakan Bagian dari Kompleks Gunung Api Kawi-Butak
Gunung Kawi bukanlah gunung api yang berdiri sendiri. Berdasarkan data Smithsonian Global Volcanism Program (GVP), Gunung Kawi dan Gunung Butak merupakan bagian dari satu kompleks vulkanik yang dikenal sebagai Kawi-Butak.
Gunung Kawi berada di sisi barat laut, sedangkan Gunung Butak terletak di bagian tenggara. Keduanya membentuk bentang alam pegunungan yang saling berdekatan dan memiliki sejarah geologi yang berkaitan.
Kompleks Kawi-Butak terbentuk melalui proses vulkanisme yang berlangsung dalam kurun waktu sangat panjang. Oleh karena itu, ketika membahas Gunung Kawi, keberadaannya tidak dapat dipisahkan dari sistem vulkanik Kawi-Butak secara keseluruhan.
2. Tidak Memiliki Catatan Letusan Historis
Salah satu fakta menarik lainnya adalah Gunung Kawi tidak memiliki catatan letusan yang terdokumentasi dalam sejarah.
Menurut Smithsonian Global Volcanism Program (GVP), hingga saat ini tidak diketahui adanya letusan historis maupun letusan pada periode Holosen dari kompleks Gunung Kawi-Butak.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti Gunung Kawi tidak memiliki sejarah aktivitas vulkanik. Kawasan ini tetap terbentuk melalui proses vulkanisme dan menjadi bagian dari bentang alam gunung api yang terbentuk sejak masa Holosen atau sekitar 11.700 tahun lalu.
Dengan kata lain, karakter vulkanik Gunung Kawi tetap menjadi bagian penting dalam pembentukan lanskap alam di wilayah Malang.
3. Memiliki Vegetasi Pegunungan yang Beragam
Selain menarik dari sisi geologi, Gunung Kawi juga memiliki kekayaan ekosistem pegunungan.
Berdasarkan buku Eksplorasi Pendakian Lanskap Pegunungan Kawi-Butak karya Izzati Farhatun Nisa, Alfi Sahrina, dan Agung Suprianto (2024), kawasan puncak Gunung Kawi didominasi vegetasi khas pegunungan seperti bunga edelweis (Anaphalis longifolia) dan pohon cemara.
Jenis vegetasi di Gunung Kawi berubah mengikuti ketinggian wilayah. Bagian bawah didominasi lahan pertanian dan hutan hujan tropis, sementara kawasan yang lebih tinggi ditumbuhi vegetasi pegunungan yang khas.
Keanekaragaman vegetasi tersebut menunjukkan adanya variasi kondisi lingkungan di sepanjang jalur pendakian. Dari kawasan puncak, pendaki juga dapat menikmati panorama pegunungan lain di Jawa Timur, seperti kompleks Gunung Arjuno-Welirang dan Pegunungan Anjasmoro.
Gunung Kawi Menyimpan Kekayaan Alam di Balik Cerita Mistis
Viralnya Gunung Kawi di media sosial akibat isu pesugihan membuat banyak orang kembali menyoroti kawasan ini. Namun, di balik berbagai cerita yang berkembang, Gunung Kawi memiliki nilai ilmiah yang tidak kalah menarik untuk dipelajari.
Sebagai bagian dari kompleks vulkanik Kawi-Butak, gunung ini menyimpan sejarah geologi yang panjang, tidak memiliki catatan letusan historis yang diketahui, serta memiliki ekosistem pegunungan yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Memahami fakta-fakta ilmiah tersebut dapat memberikan sudut pandang yang lebih utuh tentang Gunung Kawi, sehingga tidak hanya dikenal melalui kisah-kisah mistis, tetapi juga sebagai salah satu bentang alam penting yang memperkaya kekayaan geologi dan ekologi Indonesia. (red)
Baca Juga:

Posting Komentar