Mengapa Hari Jadi Jawa Timur Ditetapkan 12 Oktober 1945? Ini Catatan Sejarahnya
![]() |
| HM Yousri Nur Raja Agam |
SURABAYA – Penetapan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur (HJJT)
pada 12 Oktober 1945 hingga kini masih menjadi bahan perbincangan di kalangan
pembaca, pengamat, peneliti, dan pemerhati sejarah. Pasalnya, tanggal tersebut
bukanlah salah satu dari empat alternatif yang semula direkomendasikan tim
peneliti sejarah dalam proses penentuan hari jadi provinsi ini.
Selama hampir tiga tahun, mulai 15 Oktober 2004 hingga 7 Mei
2007, Tim Penelitian dan Penentuan Hari Jadi Jawa Timur melakukan kajian untuk
mencari dasar sejarah yang kuat. Tim tersebut terdiri atas pakar sejarah dari
perguruan tinggi, pejabat ahli Pemerintah Provinsi Jawa Timur, serta unsur
Komisi A DPRD Jawa Timur.
Tim yang diketuai Nunuk Supri Rahayu itu melakukan kajian
pustaka dan penelusuran sumber sejarah di berbagai perpustakaan daerah,
perguruan tinggi, serta koleksi pribadi para dosen dan ahli sejarah.
Penelusuran juga dilakukan di Perpustakaan Nasional di
Jakarta. Bahkan, sebanyak 15 anggota tim yang dikomandani Ketua Komisi A DPRD
Jawa Timur saat itu, H. Sabron Djamil Pasaribu, berangkat ke Belanda untuk
mencari data mengenai sejarah pembentukan Provinsi Jawa Timur.
Namun, perjalanan ke luar negeri tersebut dinilai tidak
menghasilkan bukti sejarah yang kemudian menjadi dasar utama penetapan hari
jadi. Bukti yang akhirnya digunakan justru bersumber dari dokumen yang
ditemukan di Perpustakaan Nasional dan berbagai sumber di Jawa Timur.
Empat Alternatif Tanggal Hari Jadi
Setelah melalui serangkaian kajian, tim menyepakati empat
alternatif tanggal yang dinilai memiliki dasar sejarah untuk dijadikan Hari
Jadi Jawa Timur.
Pertama, 28 Desember 1255, yang dikaitkan dengan masa
kejayaan Kerajaan Singasari. Wilayah kekuasaan kerajaan tersebut dalam sejumlah
penafsiran disebut mencakup kawasan yang kini menjadi bagian dari Jawa Timur.
Kedua, 14 Agustus 1636, yang dikaitkan dengan masa Kerajaan
Mataram ketika istilah “Bang Wetan” digunakan sebagai sebutan untuk kawasan
Jawa Timur.
Ketiga, 5 Januari 1929, yakni masa pemerintahan Hindia
Belanda ketika status wilayah Oost Java atau Jawa Timur ditingkatkan dari
gewest menjadi provincie.
Keempat, 19 Agustus 1945, yaitu tanggal pembentukan delapan
provinsi di Indonesia setelah Proklamasi Kemerdekaan. Salah satunya adalah
Provinsi Jawa Timur yang menjadi bagian dari struktur pemerintahan Republik
Indonesia.
Delapan provinsi tersebut adalah Jawa Barat, Jawa Tengah,
Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.
Pemerintah kemudian menunjuk para gubernur untuk memimpin
masing-masing provinsi. R.M.T.A. Suryo ditetapkan sebagai Gubernur Jawa Timur.
Dari empat alternatif itu, 19 Agustus 1945 dinilai paling
sesuai dengan semangat kemerdekaan dan pembentukan pemerintahan Republik
Indonesia. Sementara itu, penggunaan tanggal pada masa kolonial dikhawatirkan
menimbulkan kesan bahwa penetapan hari jadi masih bertumpu pada warisan
pemerintahan Hindia Belanda.
Keinginan Agar Berbeda dari Provinsi Lain
Persoalan muncul ketika berkembang pendapat bahwa Hari Jadi
Jawa Timur harus memiliki tanggal yang berbeda dari provinsi-provinsi lainnya.
Selain itu, tanggal 19 Agustus dianggap terlalu berdekatan
dengan peringatan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus. Dikhawatirkan,
perayaan Hari Jadi Jawa Timur akan kurang mendapat perhatian karena berdekatan
dengan peringatan kemerdekaan yang gaungnya jauh lebih besar
Akibat pertimbangan tersebut, kesepakatan awal tim
penelitian kembali dipertanyakan. Muncul keinginan untuk mencari tanggal lain
di luar empat alternatif yang telah dikaji.
Padahal, jika penetapan hari jadi benar-benar didasarkan
pada perjalanan sejarah, keberadaan pemerintahan di wilayah Jawa Timur dapat
ditelusuri sejak masa kolonial Belanda. Bahkan, jauh sebelumnya, kawasan ini
telah mengenal bentuk-bentuk pemerintahan pada masa kerajaan, termasuk
Singasari dan Mataram.
Namun, di antara berbagai peristiwa sejarah tersebut,
kemudian ditemukan satu peristiwa yang dianggap memiliki keunikan tersendiri,
yakni saat Gubernur Jawa Timur R.M.T.A. Suryo mulai menjalankan tugasnya di
Surabaya.
Gubernur Suryo Bertahan di Bojonegoro
R.M.T.A. Suryo telah ditetapkan sebagai Gubernur Jawa Timur
setelah kemerdekaan. Akan tetapi, ia tidak langsung berkantor di Surabaya. Saat
itu, Suryo masih bertahan menjalankan tugasnya sebagai Residen Bojonegoro.
Situasi politik dan keamanan ketika itu semakin genting.
Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II membuka jalan bagi kedatangan pasukan
Sekutu yang kemudian mengambil alih kekuasaan di sejumlah wilayah, termasuk
Surabaya.
Secara de jure, Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah
terbentuk dan R.M.T.A. Suryo telah ditetapkan sebagai gubernur. Namun, secara
de facto, berbagai urusan pemerintahan di Surabaya masih harus ditangani oleh
Residen Surabaya, R. Sudirman.
Berulang kali utusan dari Surabaya datang ke Bojonegoro
untuk menjemput Suryo. Namun, ia belum bersedia segera pindah ke Surabaya.
Setelah Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari, Surabaya, pada
21 September 1945, sejumlah tokoh pejuang sepakat untuk kembali menjemput
Gubernur Suryo ke Bojonegoro. Upaya tersebut akhirnya membuahkan hasil.
Pada 10 Oktober 1945, Suryo bertolak menuju Surabaya dengan
pengawalan para pemuda pejuang, termasuk Arek-Arek Suroboyo.
Setibanya di Surabaya, ia bertemu dengan Residen R. Sudirman
dan sejumlah tokoh setempat. Dua hari kemudian, tepatnya pada 12 Oktober 1945,
Suryo mulai memasuki Kantor Gubernur Jawa Timur di Alun-alun Straat, yang kini
dikenal sebagai Jalan Pahlawan Nomor 110, Surabaya.
Tanggal tersebut kemudian dimaknai sebagai hari pertama
Suryo menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Jawa Timur di Surabaya.
Di sinilah letak keunikan penetapan Hari Jadi Jawa Timur.
Bukan tanggal pembentukan provinsi, bukan pula tanggal pengangkatan gubernur,
melainkan tanggal ketika gubernur pertama yang ditetapkan setelah kemerdekaan
mulai berkantor dan menjalankan tugasnya di ibu kota provinsi
Unik, bukan?
Foto Gubernur Zaman Belanda Masih Dipajang
Ada hal lain yang juga menarik perhatian. Meskipun Hari Jadi
Jawa Timur ditetapkan pada 12 Oktober 1945, foto-foto para gubernur Oost Java
pada masa pemerintahan Hindia Belanda masih dipajang di sejumlah gedung
pemerintahan, termasuk Kantor Gubernur Jawa Timur di Jalan Pahlawan Nomor 110
dan Gedung Negara Grahadi di Jalan Gubernur Suryo Nomor 7, Surabaya.
Para pejabat yang pernah memimpin Oost Java pada masa
kolonial itu antara lain M. Ch. Handerman (1929–1931), Ch. De Han (1931–1933),
J.H.B. Kuneman (1933–1936), Ch. O. van der Plas (1936–1941), dan Mr. Ch.
Hartevelt (1941–1942).
Sementara itu, deretan gubernur Jawa Timur setelah
kemerdekaan dimulai dari R.M.T.A. Suryo yang menjabat pada 1945–1948, disusul
Dr. Moerdjani (1948–1949), R. Samadikoen (1949–1957), R.T.A. Milano
(1957–1959), dan R. Soewondo Ranuwidjojo (1959–1963).
Selanjutnya, jabatan tersebut diemban Moch. Wijono
(1963–1967), R.P. Mohammad Noer (1967–1976), H. Soenandar Prijosoedarmo
(1976–1983), H. Wahono (1983–1988), H. Soelarso (1988–1993), H.M. Basofi
Soedirman (1993–1998), dan H. Imam Utomo (1998–2008).
Setelah itu, Setia Purwaka menjabat sebagai penjabat
gubernur pada 2008–2009. Kepemimpinan kemudian beralih kepada H. Soekarwo
(2009–2019), Khofifah Indar Parawansa (2019–2024), Adhy Karyono sebagai
penjabat gubernur pada 16 Februari 2024 hingga 20 Februari 2025, dan kembali
kepada Khofifah Indar Parawansa untuk periode 2025–2030
Ditetapkan Melalui Peraturan Daerah
Secara resmi, Hari Jadi Provinsi Jawa Timur pada 12 Oktober
ditetapkan melalui Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2007.
Sejak saat itu, tanggal tersebut menjadi dasar peringatan hari jadi provinsi
hingga sekarang.
Meski demikian, proses penetapan yang berlangsung setelah
kajian panjang itu tetap menyisakan pertanyaan di kalangan sejumlah pemerhati
sejarah.
Jika tanggal 19 Agustus 1945 dinilai memiliki dasar kuat
karena berkaitan langsung dengan pembentukan provinsi setelah kemerdekaan,
mengapa akhirnya dipilih 12 Oktober 1945 yang menandai awal pelaksanaan tugas
Gubernur Suryo di Surabaya?
Pertanyaan itulah yang membuat penetapan Hari Jadi Jawa
Timur terkesan unik sekaligus menarik untuk terus dikaji.
Sejumlah pengamat dan ahli sejarah bahkan hanya tersenyum
ketika diajak berdiskusi mengenai penetapan tersebut.

Posting Komentar