Pemprov Jatim Beri Santunan Rp 10juta Bagi Petugas Pemilu yang Meninggal

Pj Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono memberikan keterangan terkait santunan dari Pemprov Jatim bagi para petugas pemilu yang meninggal dunia

Surabaya  - Sebanyak 75 orang yang meninggal melakasanakan tugas pada Pemilu 14 Februari 2024 lalu akan menerima bantuan dari Pemprov Jawa Timur. Besarannya, tiap orang 10 juta rupiah sehingga total anggaran yang dikerluarkan Pemprov Jawa Timur sebanyak Rp750 juta.


Pj. Gubernur Jawa Timur Adhy Karyono mengatakan, ke 75 orang meninggal melaksanakan tugas Pemilu, berada di lingkungan KPUD, Bawaslu, petugas pengamanan dan ada pula yang dari saksi dua orang.


“Pemprov akan mengcover semua meskipun standartnya kecil. Tapi ini adalah bentuk apresiasi Pemprov Jawa Timur,” ungkap Adhy Karyono kepada wartawan, di Surabaya, Senin (26/2/2024).


Apresiasi yang diberikan tersebut di luar BPJS. Kalau BPJSA kan nilai bisa lebih besar. Namun untuk Pemprov Jawa Timur nilainya tidak seberapa. Tapi inilah yang bisa kita lakukan.


Malahan mulai hari ini keluarga korban meninggal sudah mulai kita salurkan. Dan kita akan terus mencari dimana keluarga mereka. Targetnya dalam satu munggu kedepan 75 orang sudah tuntas menerima bantuan dari Pemprov Jawa Timur.


Mereka yang meninggal tersebut dinilai sangat berjasa untuk kelancaran Pemilu 2024 yang damai dan aman. Mereka bukan meninggal karena kecelakaan melainkan kebanyakan ada sakit bawaan. Sebab mengurus Pemilu bukan hanya pada hari coblosan saja melainkan sudah sejak awal mereka sudah bertugas. Maka bisa jadi mereka karena kelelahan, kurang tidur, ada riwayat jantung atau penyakit lain.


Adhy Karyono yang sebelumnya menjabat Sekdaprov menyatakan, kalau santunan dari BPJS sebesar Rp 40 juta rupiah. Sementara dari Pemprov Jatim mendapatkan Rp 10 juta.


Berdasarkan data dari KPU Jawa Timur, mereka yang meninggal rata rata mempunyai penyakit bawaan. Ada yang meninggal di rumah, tempat pemungutan suara dan juga rumah sakit. Mereka kelelahan karena melakukan kegiatan yang menyita tenaga mereka baik sebelum pemilu atau saat pemungutan suara.


" Ya karena memang ada sakit bawaan karena memang mengurus Pemilu itu bukan hanya satu hari saja tetapi sebelumnya kurang tidur ada yang riwayat jantung, ada penyakit lain " pungkas Adhy Karyono. (sumber wartatransparansi.com

0 Komentar