Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • sejarah

Candi Tebing Gunung Kawi

Redaksi
Kamis, Mei 23, 2024
Candi Tebing Gunung Kawi

Ragamjatim.id - Candi Tebing Gunung Kawi terletak di Banjar Paneka, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar, Bali. Candi ini dibangun pada abad ke 11 Masehi pada masa pemerintahan dinasti Udayana (Warmadewa). 

Candi ini diperkirakan mulai dibangun pada masa kepemimpinan Raja Sri Haji Paduka Dharmawangsa  Marakata Pangkaja Stanattunggadewa (944 – 948 saka atau 1025 – 1049 M) dan berakhir pada kepemimpinan Raja Anak Wungsu (971 – 999 saka / 1049-1080 M).

Candi Tebing Gunung Kawi

Prasasti Tengkulak yang menyebutkan angka 945 saka atau 1023 masehi menyebutkan bahwa di tepi Sungai Pakerisan terdapat tempat pertapaan atau kantyangan yang bernama Amarawati. Para ahli arkeolog meyakini bahwa Amarawati adalah sebutan untuk Candi Tebing Gunung Kawi. 

Sepuluh Candi Gunung Kawi terletak pada tiga titik yaitu lima candi berada di sisi timur Sungai Tukad Pakerisan, dan sisanya tersebar di dua titik di sebelah barat sungai. Lima candi yang berada pada sisi timur Sungai Tukad dianggap sebagai bagian utama dari Candi Tebing Gunung Kawi.

Pada bagian utara dari sisi barat Sungai Tukad Pakerisan, ada emat candi yang berderet dari utara sampai ke selatan serta menghadap ke arah Sungai Tukad Pakerisan. Kemudian terdapat satu candi yang ada di sisi selatan, yang berjarak 200 meter dari candi sebelah utara. 

Menurut sejarah, Candi Tebing Gunung Kawi merupakan tempat pemujaan bagi Raja Udayana yang dibangun oleh anak keduanya Raja Marakarta. Anak pertamnya menjadi raja kerajaan Kediri menggantikan kakeknya Mpu Sendok. Raja Udayana memiliki tiga anak yaitu Airlangga, Marakarta dan Anak Wungsu.

Dari ke sepuluh candi diperkirakan candi yang berada pada sisi utara sungai dari lima candi di sisi timur sungai merupakan candi tertua. Hal ini dijelaskan dari tulisan Haji Lumah Ing Jalu dari aksara kwadrat pada gerbang candi. Tulisan ini memiliki arti “Sang raja dimakamkan di jalu (Sungai Tukad Pakerisan)” dari tulisan inilah diketahui bahwa candi ini merupakan tempat pemujaan arwah dari Raja Udayana. Keempat candi lain diperkirakan merupakan candi untuk permaisuri serta anak – anak dari Raja Udayana.

Menurut arkeolog Dr. R. Goris, ke empat candi yang berada pada sisi barat sungai merupakan kuil (pedharman) yang diperuntukkan pada keempat selir dari Raja Udayana. Satu candi yang berada di sebelah selatan sungai diduga diperuntukkan pejabat pejabat kerajaan setingkat menteri atau penasehat raja. 

Menurut beberapa referensi, keberadaan Candi Tebing Gunung Kawi dikaitkan dengan sosok Mpu Kuturan. Mpu Kuturan merupakan seorang utusan Raja AIrlangga untuk Raja Anak Wungsu. Pada perkembangannya Mpu Kuturan dijadikan penasehat raja dan memiliki peran penting pada Kerajaan Bedahulu. Seluruh komplek Candi Tebing Gunung Kawi difungsikan sebagai pura serta sebagai sarana peribadatan oleh keluarga Raja Anak Wungsu. 

Yang menarik adalah candi Hindu ini terdapat ceruk – ceruk yang dianggap sebagai tempat meditasi umat Buddha. Ceruk tersebut dipahat pada dinding tebing seperti candi Hindu di sekitarnya. Hal inimenunjukkan adanya toleransi umat beragama pada kerajaan Bedahulu.(*)
Tags:
  • sejarah
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak

    Rabu, Januari 14, 2026
    PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • KUHP Baru Bukan Sekadar Ganti Kitab, Tapi Ganti Cara Negara Menghukum

    Selasa, Januari 13, 2026
    KUHP Baru Bukan Sekadar Ganti Kitab, Tapi Ganti Cara Negara Menghukum
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • 2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak

    Kamis, Januari 15, 2026
    2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak
  • Dari Surabaya untuk Indonesia, PMI Tunjukkan Standar Kemanusiaan Kelas Dunia

    Kamis, Januari 15, 2026
    Dari Surabaya untuk Indonesia, PMI Tunjukkan Standar Kemanusiaan Kelas Dunia
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live