Dikbud Mojokerto Hadirkan Kantin Sehat di Sekolah


MOJOKERTO
(ragamjatim.id) - Pj. Walikota Mojokerto, Ali Kuncoro bersama Kadis Dikbud (Pendidikan dan Kebudayaan), Ruby Hartoyo sepakat minta sekolahan yang menyebar di kota Mojokerto memaksimalkan kantin sehat di sekolahan masing-masing. Upaya ini guna memastikan jajanan yang dibeli pelajar di sekolahan di jamin  lebih bernutrisi dan higinis, Selasa (30/4/2024).


“Jika semua sekolahan yang ada di kota Mojokerto sudah tersedia kantin sehat dengan bangunan standart konsep adiwiyata, pengurus koperasi sekolahan yang mengelolanya bisa menentukan atau memilih  jajanan yang bernutrisi dan lebih higinis, yang akan dibeli para pelajar di sekolahan,” jelas P. Walikota Mojokerto, Ali Kuncoro, usai menggelar rapat bersama Kadis Dikbud, Ruby Hartoyo, di aula Dikbud Kota Mojokerto, Selasa (30/4/2024) sore.


Menurut Pj. Walikota Mojokerto bagi sekolahan khususnya SMP (negeri/swasta)  di  kota Mojokerto yang sudah masuk sekolahan adiwiyata tidak asing dengan adanya kantin sehat di sekolahannya. Karena kriteria masuk sekolah adiwiyata selain garus punya kantin sehat juga harus memenuhi dan menyiapkan 4 aspek Pokok seperti Kebijakan Berwawasan Lingkungan, Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan, Kegiatan Lingkungan Berbasis Partisipatif  dan Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan.


Masih penjelasan Ali Kuncoro, semua sekolahan berharap menjadikan sekolah adiwiyata sesua 4 aspek tersebut, namun  komponen dan standar sebagai Sekolah Adiwiyata terkadang masih belum maksimal dimiliki setiap sekolah di kota Mojokerto, khusnya terkendalan luas lahan sekolahan.


“Jika standart menuju sekolah adiwiyata sulit terpenuhi, setidaknya setiap sekolahan memprioritaskan adanya kantin sehat, karena dengan memilih jajanan yang bernutrisi dan lebih higinis mampu memenuhi kebutuhan gizi pada pelajar dengan jajanan yang dibelinya, juga membantu pemerintah guna memutus adanya anak yang stunting,” tukas Mas. Pj, panggilan akrabnya Ali Kuncoro.


Secara terpisah, Plt, Kadis Dikbud kota Mojokerto, Ruby Hartoyo menjelaskan sejumlah sekolahan khusnya SMPN di kota Mojokerto sudah ada yang masuk sekolah adiwiyata  dengan memenuhi 4 aspek tersebut termasuk memiliki kantin sehat di sekolahan, dan sekarang tinggal memaksimalkan saja fungsinya.


“Saat ini hanya sekolahan tingkat SMP saja yang disasar masuk sekolahan adiwiyata dan sudah ada yang tercatat sebagai sekolah adiwiyata khusnya SMPN yang luas lahannya terpenuhi. Namun bagi sekolahan yang tidak bisa memenui 4 aspek menuju sekolah adiwiyata, perlu adanya kantin sehat mengingat pentinnya peran kantin sehat disekolahan, guna membantu pemkot Mojokerto mengentas masalah stunting yang masih tersisa 1 % lebih ”jelas Ruby Hartoyo.


Menurut plt. Kadis Dikbud, upaya lembaga pendidikan mendukung penuntasan terkait stunting, prioritas utama perlunya kantin sehat utamanya lembaga PAUD terdiri (Play Group –TK), karena identik dengan kesukaan jajan anak usia disekolahan membeli dan menkonsumsi jenis jajanan yang kurang bernutrisi. Sedangkan sasaran prioritas SMP lebih untuk menjadi sekolah adiwiyata, karena sdm untuk siswa yang terlibat dan gurunya lebih mumpuni untuk mengelola 4 aspek yang terkait lingkungan.


 “Jika disekolahan PAUD sudah ada kantin sehatnya, maka guru bisa mengarahkan mitra kerja kantin mengisi jenis jajanan yang dijual harus mengandung nutrisi disisi lain juga lebih higinis jika dibanding beli jajanan di PKL di luar sekolahan,”tambahnya.


Menurut Ruby Hartoyo, biasanya anak usia dini suka jajanan  jenis cilok, penthol, cireng, cimol dan sejenisnya dan rata-rata jajanan itu disukai anak kecil. Bahkan pelajar SD dan SMP-pun juga suka jajanan yang kurang bernutrisi tersebut.  Namun jika sekolahan sudah punya kantin sehat, yang jenis jajanannya diawasi dan diarahkan para guru,  maka jajanan dengan model dan nama yang sama bisa lebih bernutrisi dan higinis.


Ruby mencontohkan, jika bahan jenis jajanan yang disukai anak tersebut tersebut , selama ini kebanyakan dari ktepung kanji dan terigu saja dengan rajikan bumbu, maka pengelola kantin sekolah bisa menyarankan pembuat jajanan atau menggandeng UMKM di Disperindang untuk memproduksi jajanan seperti (cireng, cilok, cimol maupun sempol) yang semula hanya berbahan tepung saja bisa ditambah dengan putih telor dan daging ayam dengan rasa yang lebih enak meski harganya sedikit bertambah.


“Kita fokus terlebih dahulu pada pembuatan kantin sehat pada lembaga pendidikan PAUD karena punya andil menuntaskan stunting. Jika sudah tuntas baru menyasar SD dan berlanjut pada SMP yang menyebar di kota Mojokerto,”tambah Ruby Hartoyo.


Menurut Kadis Dikbut, jika ada sekolahhan yang masih belum pahan hadirnya kantin sehat di sekolahan, bisa melakukan study tidu di sekolahan yang di kota Mojokerto, kemudian menyediakan disekolahan masing-masing dengan inovasi yang baru yang lebih baik dan berdampak bagi anak didik.


Keberadaan kantin sehat disekolahan yang sudah ada di kota Mojokerto, menyediakan jajanan pilihan yang benar-benar ada kandungan nutrisi (vitamin dan gizi). Sehingga mitra penjual jajanan disekolahan harus menyajikan barang jajanan dipastikan ada kandungan nutrisi, dengan dipantau para guru disekolahan. 


“Bahkan cara pembeliannya pelajar tidak menggunakan uang tunai, melainkan dengan vocher kantin sekolah, yang menukarkan uang tunai dengan voucher di pengelola (koperasi)/TU sekolahan, sehingga ljajanan terjamin lebih higinis,” tukas Kadis Dikbud kota Mojokerto.(*)

0 Komentar