Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • opini

Filsafat tak se sederhana menyeduh secangkir kopi

Redaksi
Selasa, Februari 25, 2025
Filsafat tak se sederhana menyeduh secangkir kopi

Walaupun
kelezatan filsafat lebih mendalam daripada kopi. Mengapa tidak? Kopi dapat menghangatkan interaksi. Menghidupkan diskusi. Memudahkan kompromi. Meluluhkan emosi. Membangun harmoni hingga menciptakan kerinduan untuk ngopi lagi.

Bagi pencinta kopi, filsafat bukanlah sekadar proses menyeduh kopi. Namun, filsafat menentukan manfaat dari penyajian kopi. Filsafat terwujud dalam aktivitas berpikir. Menentukan jenis kopi yang tepat untuk dinikmati, seberapa banyak sendok mempengaruhi konsentrasi, pilihan gula, ukuran cangkir, cara mengaduk, teknik menyajikan, dan berapa menit rasa ideal harus mulai diminum.

Ilustrasi kopi di atas menegaskan bahwa setiap hasil tidak terlepas dari pemikiran. Setiap kebijakan memerlukan dasar alasan. Mengambil keputusan butuh perencanaan. Melaksanakan aksi memerlukan ketepatan. Masing-masing perencanaan tidak bisa lepas dari penalaran. Bahkan terhadap realitas, penting untuk melakukan re-evaluasi. Inilah gambaran sederhana kinerja filsafat.

Banyak orang yang salah paham tentang filsafat. Tidak mengherankan jika istilah tersebut jarang menjadi topik diskusi. Seolah filsafat adalah domain yang tersegmentasi. Sebuah monopoli dari kelompok tertentu. Dibahas terbatas di lingkungan akademis dan kalangan cendekiawan karena dianggap tidak pernah membumi. Bahkan siapa pun yang mendekati filsafat selalu dikaitkan dengan ketidakwarasan.

Konon, filsafat adalah 'dunia makrifat'. Tidak memiliki urgensi fungsional untuk dimasuki. Tidak menarik sebagai komoditas industri. Hanya ada dalam angan-angan dan melayang di angkasa. Di angkasa berarti berada di ketinggian yang tak terjangkau oleh akal. Hanya sebatas imajinasi. Mungkin lebih cenderung halusinasi. Rumit. Sulit dipahami. Minim kegunaan dan jauh dari manfaat.

Tentu saja, pandangan ini tidak hanya keliru, tetapi juga menyesatkan. Filsafat memang tidak pernah membumi karena keberadaannya bukanlah objek inderawi. Filsafat adalah alat sekaligus rumus berpikir. Tak terlihat dengan mata telanjang.

Di dalamnya terkandung pedoman berpikir logis. Terdapat dalam pikiran manusia. Diperlukan dalam upaya melahirkan proposisi sebagai kamera yang memotret kejadian, menjadi dasar proyeksi, memperkuat akar kebijakan, merawat kearifan, mengembangkan akal budi, mengeksplorasi dasar etika, dan membaca secara kritis.

Filsafat mempertanyakan realitas manusia secara mendalam.

Filsafat adalah ilmu yang mendekati berbagai persoalan secara prinsipal dan fundamental. Oleh karena itu, filsafat sering kali memberi kesan abstrak dan sangat teoritis. Kesan semacam ini tidak bisa dihindari. Perlu dicatat bahwa filsafat bukanlah ilmu untuk dirinya sendiri. Manusia berfilsafat karena mereka memerlukannya.

Mereka mengharapkan sesuatu darinya. Filsafat menjadi sarana bagi manusia, termasuk juga bagi pembaca artikel ini, untuk mencapai kejelasan terhadap masalah dan tantangan dalam segala dimensi kehidupan.

Melalui alat yang disebut filsafat, manusia dapat mengambil posisi dalam perdebatan antara kepastian hukum dan keadilan. Mampu menilai apakah hukuman mati tepat di negara Pancasila. Dapat memutuskan sikap, apakah Euthanasia itu konstitusional atau sebaliknya terhadap konsensus nasional. Melakukan eksplorasi, benarkah Marx anti Tuhan? Apakah tepat disebut Pancasila sakti? Benarkah Pancasila berasal dari tanah air kita?

Dengan alat filsafat, lahir berbagai refleksi berupa pertanyaan:

Mungkinkah hukum lingkungan masa depan memposisikan pohon dan sungai sebagai subyek hukum? Sudah tepatkah para guru dan dosen melatih murid dan mahasiswa untuk menjawab pertanyaan dengan benar, ataukah sebaliknya, tugas di kelas justru mengajari mereka untuk bertanya dengan pertanyaan-pertanyaan kritis, prinsipil, dan mendasar? Teropong filsafat juga bisa digunakan untuk mengevaluasi, sudah tepatkah hakim sebagai pelayan keadilan melakukan mogok kerja? Padahal mogok kerja hakim adalah fakta yang menunda keadilan.

Sementara keadilan yang tertunda adalah ketidakadilan itu sendiri.

Filsafat juga membidani lahirnya opini untuk mencari inti dan akar konsep profesionalisme hingga membedakan hakikat kebebasan antara freedom dan liberty.

Melalui filsafat, orang akan mencari dasar yang masuk akal sebelum vokal meluapkan daya kritisnya. Dengan filsafat juga, tidak akan terjadi pertikaian dalam grup whatsapp menjelang pilkada atas dikotomi paslonku dan paslonmu. Caci maki bisa dihindari. Demokrasi akan berjalan ceria. Setiap tim sukses tidak bersaing membuka aib paslon. Semua fokus pada program serta rencana pengelolaan yang visioner.

Dialog menjadi kebudayaan. Dialektika muncul dengan penguatan argumen, bukan emosi. Semua orang dengan kapasitasnya akan percaya diri mengekspresikan pendapat. Bebas berkomentar dan menyanggah lawan bicara dengan senyuman dan canda. Tanpa emosi, bersih dari rasa benci yang kekanakan dan terkesan pemula, yang pada akhirnya menjadi komoditas jenaka yang mengundang tawa.

Sungguh filsafat memberikan kontribusi terhadap kedewasaan berdemokrasi. Filsafat bukan masalah benar/salah, melainkan cenderung memberikan kisi-kisi konstruksi berpikir dengan kebebasan menggunakan variabel yang dikemas dalam berbagai perspektif. Kedewasaan berpikir ditentukan sejauh mana orang berpikir filsafat untuk mengupas sebuah problema dan produknya.

Melalui kepiawaian berpikir filsafat, orang akan terhindar dari ideologi yang buta. Orang Jember menyebutnya 'kardi' (dalam bahasa Madura, karepa dibik berarti membuta pada penalaran). Menginternalisasi filsafat akan menyelamatkan dari egosentris yang mencari pembenaran diri. Berkat filsafat, orang akan mengkritisi, benarkah Fox Populi, Fox Dei (suara banyak orang identik dengan suara Tuhan). Bisa menguji apakah sudah tepat kredo 'tidak ada lawan dan kawan dalam politik, melainkan hanya kepentingan abadi'.

Berpikir filsafat adalah aktivitas nalar yang berbasis logika.

Mengangkat ontologis multitematis. Membidani epistemologi untuk mengemukakan diskursus dalam jalinan dialektika sistemik. Detail dan komprehensif. Melahirkan berbagai teks baru sebagai hasil renungan. Diakomodasikan untuk memperkaya pengambilan keputusan. Tentu saja, semua itu digagas dalam upaya memanusiakan manusia dari berbagai aspeknya. Melakukan pembongkaran terhadap tradisi yang kontradiktif dengan tuntutan zaman.

Berpikir filsafat tak lebih merawat atmosfir kearifan agar setiap benturan pemikiran anak bangsa berada dalam kehangatan yang bermartabat. Nalar yang logis, lepas dan terjaga konsistensinya agar tidak terhisap pada ekstra logika. Lepas dari pengaruh berbagai faktor dan kepentingan yang acapkali menjebak.

Filsafat itu alat.

Wahana konstruksi berpikir. Sebagai disiplin sistemik, setiap mengkaji persoalan. Filsafat selalu menanamkan sistematika ketat tentang : bicara apa (ontologis), ada problem apa, bagaimana cara menjawab dan apa jawabnya (axiologis), serta apa manfaatnya. Dengan kerangka berpikir demikian orang akan memposisikan diri pada kendali, fokus, cermat dan akurat berpikir.

Atas dasar pandangan filsafat, orang akan bicara nilai yang berorientasi manfaat. Nalar ketemu nalar yang memandang bahwa alam sekitar dan seisinya tidak pernah absolut. Selalu membuka ruang untuk dikritisi. Keabadian adalah perubahan itu sendiri. Hanya dengan filsafat, orang akan mau dan mampu menyesuaikan dengan keabadian itu sendiri.

Berfilsafat dari setiap konteks persoalan lebih fungsional daripada mendiskusikan teori-teori filsafat yang pada gilirannya membuat orang menjadi etalase referensi tanpa bisa menggunakan untuk meringankan hidup dan kehidupannya. Ayo berselancar dengan filsafat guna bersahabat dengan gelombang peradaban yang terus meninggi. Berfilsafat dari konteks lebih bermakna dari sekedar bincang filsafat.(*)
Tags:
  • opini
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi

    Sabtu, Januari 31, 2026
    OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • 7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi

    Sabtu, Juli 26, 2025
    7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • 10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya

    Jumat, Juli 25, 2025
    10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya
  • Khofifah Apresiasi Peran Pesantren Bentuk Generasi Qur’ani di Bangkalan

    Minggu, Februari 01, 2026
    Khofifah Apresiasi Peran Pesantren Bentuk Generasi Qur’ani di Bangkalan
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live