Menyusuri Rasa dan Ingatan di Mojokerto
Pagi belum sepenuhnya terang ketika kami memasuki kawasan Trowulan, Mojokerto. Embun masih menempel di rerumputan sekitar Kolam Segaran, situs bersejarah yang menjadi saksi kejayaan Majapahit. Di tempat inilah perjalanan rasa kami dimulai. Bukan di restoran besar, bukan pula di kafe modern, melainkan di warung-warung kecil yang hidup berdampingan dengan sejarah.
Aroma ikan goreng dan sambal pedas menguar dari balik dapur sederhana. Beberapa meja kayu sudah terisi. Ada rombongan keluarga, ada pula pengunjung yang datang sendiri, menikmati sarapan dengan tenang.
Sambel Wader dan Kesetiaan pada Resep Lama
Sepiring nasi hangat, ikan wader goreng kering, sambal merah yang ditumbuk kasar, dan lalapan sederhana. Itulah sambel wader khas Kolam Segaran. Sekilas tampak biasa. Namun saat suapan pertama masuk, rasa gurih dan pedasnya langsung menetap.
“Resepnya tidak pernah kami ubah,” kata Sri (56), pedagang sambel wader yang telah berjualan lebih dari dua puluh tahun. Tangannya cekatan menyiapkan pesanan sambil sesekali menyapa pelanggan.
Menurut Sri, sebagian besar pembeli adalah wisatawan yang datang ke Trowulan. Namun tak sedikit pula pelanggan lama yang sengaja kembali hanya untuk makan sambel wader.
“Mereka bilang, rasanya bikin kangen. Kalau ke Mojokerto, pasti mampir,” ujarnya.
Di sini, sambel wader bukan sekadar menu. Ia adalah cerita tentang ketekunan. Tentang pedagang yang memilih bertahan dengan cara lama, di tengah perubahan selera dan zaman.
Makan di Tengah Jejak Sejarah
Sambil menyantap sambel wader, pengunjung bisa memandang Kolam Segaran yang tenang. Kolam ini dipercaya dulunya menjadi bagian penting dari kompleks Kerajaan Majapahit. Airnya kini tak lagi digunakan seperti masa lalu, namun keberadaannya tetap memberi suasana khas.
“Rasanya beda kalau makan di sini,” ujar Agus (41), wisatawan asal Sidoarjo yang kami temui. “Habis lihat-lihat situs, terus makan sambel wader, kayak menyatu dengan suasana.”
Kuliner dan sejarah berjalan berdampingan. Tidak saling menutupi, justru saling menguatkan.
Onde-Onde Hangat di Pusat Kota
Menjelang siang, perjalanan berlanjut ke pusat kota Mojokerto. Di sebuah toko onde-onde legendaris, antrean sudah mengular. Wajan besar di bagian depan toko terus menyala. Onde-onde diangkat satu per satu, mengilap oleh minyak dan taburan wijen.
“Kalau sudah sore, biasanya habis,” kata Yanto, penjual onde-onde yang melayani pelanggan tanpa henti.
Onde-onde Mojokerto dikenal dengan kulitnya yang renyah dan isian kacang hijau yang lembut. Banyak pembeli memilih menikmatinya langsung, selagi hangat.
“Kalau pulang ke Surabaya, pasti beli ini,” ujar Rina (34), seorang pembeli. “Onde-ondenya beda, rasanya khas Mojokerto.”
Baca Juga: Sejarah Onde - onde Kuliner Khas Mojokerto
Bagi banyak orang, onde-onde bukan sekadar oleh-oleh. Ia adalah pengikat perjalanan.
Pagi di Pasar, Denyut yang Tak Pernah Padam
Pagi hari di Pasar Tanjung Anyar Mojokerto selalu hidup. Lapak jajanan pasar berderet rapi. Warna-warni klepon, cenil, lupis, dan getuk menghiasi tampah bambu.
“Jam lima subuh sudah mulai ramai,” kata Suminah (48), pedagang jajanan pasar. “Banyak yang beli buat sarapan.”
Jajanan pasar di Mojokerto bertahan di tengah gempuran makanan modern. Rasanya sederhana, harganya terjangkau, namun selalu dicari.
“Anak muda juga masih suka,” tambah Suminah. “Mungkin karena ini rasa dari kecil.”
Kuliner sebagai Penanda Waktu
Di Mojokerto, kuliner bukan sekadar konsumsi. Ia menjadi penanda waktu. Sambel wader mengingatkan pada perjalanan ke Trowulan. Onde-onde menjadi oleh-oleh yang menandai kepulangan. Jajanan pasar membuka pagi dengan kenangan lama.
Setiap suapan membawa cerita. Tentang orang-orang yang memasak, menjual, dan menjaga rasa agar tetap sama.
Catatan dari Perjalanan Rasa
Sore hari, kami bersiap meninggalkan Mojokerto. Catatan wawancara telah penuh. Kamera menyimpan foto-foto sederhana, namun bermakna. Yang tertinggal bukan hanya rasa di lidah, tetapi juga cerita orang-orang yang kami temui.
Perjalanan ini mengajarkan kami bahwa mengenal sebuah daerah bisa dimulai dari meja makan. Dari sambel wader yang pedas, onde-onde yang hangat, hingga jajanan pasar yang setia menemani pagi.
Mojokerto kami tinggalkan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Kota ini tak menawarkan gemerlap. Namun justru di kesederhanaannya, ia memberi ruang untuk berhenti sejenak, menikmati rasa, dan mengingat.
Dan kami tahu, suatu hari nanti, alasan untuk kembali akan selalu sama. Mencari rasa. Menemukan cerita.
