Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

Ragamjatim | Jatim Bicara, Ragam Cerita

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • kuliner

5 Makanan Imlek Khas China yang Jarang Ada di Indonesia, Penuh Filosofi Keberuntungan

Redaksi
Selasa, Februari 17, 2026
Hidangan tangyuan, lion’s head meatballs, dan babaofan khas China saat perayaan Tahun Baru Imlek

Ragamjatim.id - Perayaan Imlek di Indonesia identik dengan kue keranjang, ikan bandeng, jeruk mandarin, hingga lontong Cap Go Meh. Namun di Tiongkok sendiri, ragam hidangan Tahun Baru Lunar jauh lebih beragam dan sarat makna simbolis.

Menariknya, ada beberapa makanan Imlek khas China yang jarang ditemui dalam perayaan Imlek di Indonesia. Padahal, masing-masing memiliki filosofi mendalam tentang kebahagiaan, kemakmuran, hingga keharmonisan keluarga.

Berikut lima sajian khas yang bisa jadi inspirasi meja makan keluargamu tahun ini.

1. Tangyuan, Simbol Reuni dan Keutuhan Keluarga


Tangyuan adalah bola-bola ketan berisi pasta wijen hitam, kacang merah, atau kacang tanah yang disajikan dalam kuah manis hangat. Sekilas mirip ronde, tetapi maknanya jauh lebih dalam.

Di Tiongkok, terutama wilayah selatan, tangyuan identik dengan Lantern Festival atau Cap Go Meh, yang menjadi penutup rangkaian Chinese New Year.

Kata “tangyuan” terdengar seperti “tuan yuan” yang berarti reuni atau kebersamaan. Bentuknya yang bulat melambangkan keluarga yang utuh dan tidak terpisah.

Di Indonesia, tangyuan tidak terlalu populer saat malam Tahun Baru Imlek, padahal maknanya sangat kuat sebagai simbol persatuan.

2. Lion’s Head Meatballs, Lambang Keberanian

Meski namanya mengandung kata “singa”, lion’s head meatballs atau shizi tou sebenarnya adalah bakso daging babi berukuran besar khas wilayah Huaiyang.

Ukuran satu bola bisa sebesar kepalan tangan orang dewasa. Penyajiannya unik karena dikelilingi sawi putih yang menjuntai, menyerupai surai singa.

Dalam budaya Tiongkok, singa melambangkan kekuatan dan perlindungan. Menghidangkan shizi tou saat Imlek dipercaya menjadi simbol keberanian dan tekad menghadapi tahun baru.

Di Indonesia, hidangan ini jarang ditemui karena faktor bahan dan preferensi kuliner yang berbeda.

3. Udang Ala Kanton, Simbol Tawa dan Kebahagiaan


Di Indonesia, sebagian masyarakat Tionghoa menghindari udang saat Imlek karena kata “xia” dalam Mandarin berarti pendek dan dianggap kurang membawa keberuntungan.

Namun di wilayah Guangdong, China Selatan, masyarakat Kanton justru menyajikan udang kukus bawang putih atau tumis cepat lada garam sebagai menu utama Tahun Baru.

Dalam bahasa Kanton, udang disebut “ha”, bunyinya menyerupai tawa “ha ha ha”. Karena itu, memakan udang saat Imlek dipercaya membawa kebahagiaan dan tawa sepanjang tahun.

Makna bisa berbeda, tergantung dialek dan budaya lokalnya.

4. Buddha Jumps Over the Wall, Simbol Kemakmuran Tinggi

Nama hidangan ini terdengar seperti judul legenda, dan memang ada kisah di baliknya.

Buddha Jumps Over the Wall atau fo tiao qiang adalah sup kental mewah berisi bahan premium seperti abalon, teripang, jamur shiitake, hingga ginseng. Proses memasaknya bisa memakan waktu satu hingga dua hari.

Konon, aromanya begitu harum hingga membuat seorang biksu melompati tembok untuk mencicipinya. Dari situlah nama unik ini berasal.

Hidangan ini melambangkan kemakmuran luar biasa dan kehormatan bagi keluarga yang menyajikannya.

Di Indonesia, menu ini hampir tidak pernah muncul saat Imlek karena bahan-bahannya mahal dan sulit diperoleh.

5. Eight-Treasure Rice Pudding, Delapan Harta Keberuntungan


Sebagai penutup, ada babaofan atau eight-treasure rice pudding. Ini adalah nasi ketan manis yang dihias delapan jenis buah kering dan kacang-kacangan seperti kurma merah, biji teratai, lengkeng kering, dan kismis.

Di tengahnya terdapat pasta kacang merah yang lembut.

Angka delapan dalam budaya Tiongkok melambangkan keberuntungan dan kemakmuran. Setiap “harta” dalam hidangan ini memiliki makna tersendiri, mulai dari umur panjang hingga keharmonisan rumah tangga.

Jika di Indonesia penutup Imlek identik dengan jeruk atau manisan, di China babaofan menjadi simbol manisnya harapan di awal tahun.

Tradisi Sama, Rasa Berbeda

Perbedaan hidangan Imlek antara Indonesia dan China menunjukkan bagaimana tradisi beradaptasi dengan budaya lokal. Akar perayaannya sama, tetapi cita rasanya bisa berbeda sesuai wilayah dan sejarah masing-masing komunitas.

Pada akhirnya, tujuan semua hidangan ini tetap satu: menyambut tahun baru dengan rasa syukur, doa yang baik, dan kebersamaan di meja makan.

Jika ingin suasana Imlek tahun ini terasa berbeda, lima makanan khas China di atas bisa menjadi inspirasi unik untuk dicoba bersama keluarga. Siapa tahu, bukan hanya perut yang kenyang, tapi juga harapan yang semakin bulat dan utuh seperti tangyuan di mangkuk hangatmu.(red)
Tags:
  • kuliner
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Trending
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
  • Ribuan Pengurus DPD Golkar se-Jawa Timur Dijadwalkan Dikukuhkan di Jatim Expo

    Minggu, Februari 08, 2026
  • 7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi

    Sabtu, Juli 26, 2025
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live