7 Tradisi Unik Indonesia yang Hampir Punah, Tapi Kini Dihidupkan Kembali oleh Generasi Z Mewarisi Warisan, Membawa Napas Baru Lewat Kreativitas dan Digitalisasi
RagamJatim.id – Indonesia bukan hanya kaya akan keindahan alam dan ragam kulinernya, tetapi juga dikenal sebagai negara yang memiliki warisan budaya luar biasa. Namun, di balik keragaman itu, tak sedikit tradisi yang nyaris hilang ditelan zaman. Modernisasi, urbanisasi, hingga lunturnya ketertarikan generasi muda membuat beberapa warisan budaya tradisional mulai kehilangan eksistensinya.
Akan tetapi, di tengah arus globalisasi yang begitu kuat, muncul satu gelombang baru: Generasi Z yang kembali menghidupkan tradisi-tradisi unik ini dengan sentuhan modern. Berikut ini adalah 7 tradisi Indonesia yang hampir punah, namun kini bangkit kembali berkat kreativitas dan kepedulian anak-anak muda masa kini.
1. Tenun Ikat Sumba – Bangkit Lewat Kolaborasi Fashion dan Digital
Tenun ikat khas Sumba sempat kehilangan pamornya karena dianggap kuno dan kurang relevan dengan gaya hidup modern. Namun, sejumlah anak muda, terutama pelaku fashion dari kalangan Gen Z, justru melihat potensi besar di balik motif dan nilai filosofis tenun ini.
Melalui kolaborasi dengan desainer muda dan influencer fashion, serta dukungan marketplace digital, tenun Sumba kini kembali eksis di pentas lokal hingga internasional. Banyak kampanye sosial yang digerakkan lewat Instagram dan TikTok yang turut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan warisan ini.
2. Wayang Suket – Seni Rumput yang Menyuarakan Kearifan Lokal
Melalui kolaborasi dengan desainer muda dan influencer fashion, serta dukungan marketplace digital, tenun Sumba kini kembali eksis di pentas lokal hingga internasional. Banyak kampanye sosial yang digerakkan lewat Instagram dan TikTok yang turut mengedukasi masyarakat tentang pentingnya melestarikan warisan ini.
2. Wayang Suket – Seni Rumput yang Menyuarakan Kearifan Lokal
Wayang Suket (wayang dari rumput) sempat dianggap hanya hiburan kelas desa. Kini, tradisi ini dihidupkan kembali oleh komunitas seni muda seperti Komunitas Wayang Suket Wonosobo dan pegiat seni di Jogja dan Surabaya.
Dengan pendekatan kontemporer, pementasan wayang suket kini sering diiringi dengan musik elektronik dan dibawakan dalam konteks isu sosial, lingkungan, hingga keresahan generasi muda. Wayang suket menjadi simbol kesederhanaan dan keteguhan budaya lokal dalam menghadapi tantangan modern.
3. Batik Tulis – Kembali Populer Lewat Workshop dan NFT
Dengan pendekatan kontemporer, pementasan wayang suket kini sering diiringi dengan musik elektronik dan dibawakan dalam konteks isu sosial, lingkungan, hingga keresahan generasi muda. Wayang suket menjadi simbol kesederhanaan dan keteguhan budaya lokal dalam menghadapi tantangan modern.
3. Batik Tulis – Kembali Populer Lewat Workshop dan NFT
Batik tulis yang penuh detail dan membutuhkan waktu lama mulai ditinggalkan oleh generasi muda yang menyukai proses cepat. Namun kini, batik tulis kembali naik daun berkat workshop kreatif yang digelar komunitas seni dan pelajar Gen Z, serta kehadiran batik dalam bentuk digital seperti NFT (Non-Fungible Token).
Di beberapa kota, Gen Z menggabungkan pola batik dengan desain streetwear, menjadikannya lebih dekat dengan gaya hidup milenial dan Gen Z masa kini. Kampanye #BatikIsCool pun menjadi viral di media sosial.
4. Ma’Nene’ dari Toraja – Dirayakan Ulang Sebagai Simbol Cinta Keluarga
Di beberapa kota, Gen Z menggabungkan pola batik dengan desain streetwear, menjadikannya lebih dekat dengan gaya hidup milenial dan Gen Z masa kini. Kampanye #BatikIsCool pun menjadi viral di media sosial.
4. Ma’Nene’ dari Toraja – Dirayakan Ulang Sebagai Simbol Cinta Keluarga
Tradisi Ma’Nene’, yaitu ritual mengganti pakaian leluhur yang telah meninggal di Toraja, dulunya dianggap menyeramkan bahkan kontroversial. Namun kini, banyak anak muda Toraja dan pegiat budaya digital yang mendokumentasikan tradisi ini secara positif melalui vlog, dokumenter, dan media sosial.
Ma’Nene’ menjadi simbol penghormatan pada leluhur dan pentingnya nilai kekeluargaan, bukan sekadar upacara adat. Penjelasan yang lebih edukatif dari generasi muda membuat masyarakat luas lebih menghargai nilai budayanya.
5. Pantun dan Gurindam – Dihidupkan Lewat Platform Musik dan Puisi Digital
Ma’Nene’ menjadi simbol penghormatan pada leluhur dan pentingnya nilai kekeluargaan, bukan sekadar upacara adat. Penjelasan yang lebih edukatif dari generasi muda membuat masyarakat luas lebih menghargai nilai budayanya.
5. Pantun dan Gurindam – Dihidupkan Lewat Platform Musik dan Puisi Digital
Di era yang serba instan, bentuk puisi lama seperti pantun dan gurindam hampir terlupakan. Namun berkat kreativitas Gen Z yang aktif di platform seperti TikTok, SoundCloud, hingga YouTube Shorts, pantun kini hadir dalam bentuk baru: rap berbahasa Melayu, spoken word berirama gurindam, hingga lagu viral berlirik pantun.
Komunitas seperti “Pantun Academy” di Riau dan “Poetry Vibes Indonesia” menjadi wadah tumbuhnya seniman digital muda yang ingin menghidupkan kembali budaya literasi lama dengan format kekinian.
6. Tari Caci dari Flores – Menyala Lagi Lewat Festival dan TikTok Challenge
Komunitas seperti “Pantun Academy” di Riau dan “Poetry Vibes Indonesia” menjadi wadah tumbuhnya seniman digital muda yang ingin menghidupkan kembali budaya literasi lama dengan format kekinian.
6. Tari Caci dari Flores – Menyala Lagi Lewat Festival dan TikTok Challenge
Tari Caci, tarian perang tradisional Manggarai, sempat mengalami penurunan peminat akibat stigma kekerasan dan ritual kuno. Kini, justru anak muda Manggarai dan beberapa kreator lokal memperkenalkannya sebagai seni bela diri warisan luhur yang penuh nilai keberanian dan persaudaraan.
Dengan kostum atraktif dan gerakan yang enerjik, Tari Caci bahkan dijadikan tantangan TikTok Challenge oleh komunitas budaya digital di NTT dan berhasil viral. Generasi Z memadukannya dengan musik EDM lokal untuk menarik minat penonton muda.
7. Aksara Nusantara – Bangkit Lewat Media Digital dan Teknologi
Dengan kostum atraktif dan gerakan yang enerjik, Tari Caci bahkan dijadikan tantangan TikTok Challenge oleh komunitas budaya digital di NTT dan berhasil viral. Generasi Z memadukannya dengan musik EDM lokal untuk menarik minat penonton muda.
7. Aksara Nusantara – Bangkit Lewat Media Digital dan Teknologi
Aksara Jawa, Aksara Bugis (Lontara), dan Aksara Bali dulunya nyaris punah karena tak lagi digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Kini, Gen Z mulai mempopulerkannya lewat filter Instagram, stiker WhatsApp, hingga font digital untuk desain.
Komunitas “Aksaraya” dan “Nusantara Script” menciptakan proyek digitalisasi aksara nusantara agar bisa digunakan dalam komunikasi digital, bahkan dalam kampanye edukatif di sekolah-sekolah.
Kesimpulan:
Kebangkitan kembali tradisi-tradisi hampir punah di tangan Generasi Z bukan hanya tentang nostalgia, tetapi merupakan bukti nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia tetap relevan bila disajikan dengan pendekatan segar dan adaptif.
Lewat teknologi, kreativitas, dan platform digital, warisan budaya Indonesia kini tak lagi usang, melainkan tampil penuh warna dan makna bagi dunia. Mari terus dukung dan apresiasi upaya anak-anak muda ini dalam menjaga jati diri bangsa melalui budaya.
Komunitas “Aksaraya” dan “Nusantara Script” menciptakan proyek digitalisasi aksara nusantara agar bisa digunakan dalam komunikasi digital, bahkan dalam kampanye edukatif di sekolah-sekolah.
Kesimpulan:
Kebangkitan kembali tradisi-tradisi hampir punah di tangan Generasi Z bukan hanya tentang nostalgia, tetapi merupakan bukti nyata bahwa kekayaan budaya Indonesia tetap relevan bila disajikan dengan pendekatan segar dan adaptif.
Lewat teknologi, kreativitas, dan platform digital, warisan budaya Indonesia kini tak lagi usang, melainkan tampil penuh warna dan makna bagi dunia. Mari terus dukung dan apresiasi upaya anak-anak muda ini dalam menjaga jati diri bangsa melalui budaya.