Demo Buruh PT Pakerin di LPS Surabaya Picu Kemacetan, Dialog Jadi Harapan
Surabaya, Ragamjatim.id – Kota Surabaya kembali menjadi panggung aspirasi. Ratusan buruh PT Pakerin menggelar aksi unjuk rasa di depan kawasan Tunjungan Plaza 5 dan 6, Embong Malang, Kamis (12/2/2026) sore. Aksi yang dimulai sekitar pukul 16.45 WIB itu sempat memicu kemacetan di jantung kawasan bisnis kota.
Dari lima lajur jalan protokol yang tersedia, hanya dua lajur yang dapat dilalui kendaraan secara bergantian. Arus lalu lintas tersendat hingga kawasan Basuki Rahmat dan Tunjungan. Sejumlah pekerja perkantoran dan pengunjung pusat perbelanjaan terpaksa menunggu situasi kembali kondusif.
Dalam orasinya, massa yang membawa atribut FSPMI meminta perwakilan mereka diterima oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Koordinator lapangan sempat menginstruksikan agar tiap korlap membawa 10 orang untuk masuk ke lokasi pertemuan. Sebanyak 55 perwakilan akhirnya diterima pihak LPS di Pakuwon Tower untuk berdiskusi.
Setelah pertemuan berlangsung, massa berangsur menepi dan arus lalu lintas kembali normal tanpa insiden besar.
Pakuwon: Aspirasi Hak, Ketertiban Tetap Dijaga
Aksi berlangsung di kawasan milik PT Pakuwon Jati Tbk yang mencakup pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, dan perkantoran. Pengacara senior Pakuwon Jati Tbk, George Handiwiyanto, menyampaikan empati terhadap buruh dan menegaskan bahwa menyampaikan aspirasi merupakan hak konstitusional.
Namun, ia mengingatkan agar penyampaian aspirasi tetap mengedepankan dialog dan tidak mengganggu kepentingan publik.
“Dengan berdialog lebih efektif, karena apa yang dikeluhkan buruh bisa didengar langsung oleh pihak manajemen,” ujarnya.
Menurut George, aksi di jalan protokol padat kendaraan berpotensi mengganggu hak pengguna jalan dan pekerja di kawasan tersebut. Ia khawatir frekuensi aksi yang berulang dapat menimbulkan keresahan dan berdampak pada aktivitas ekonomi.
Dialog Jadi Solusi
Di balik kemacetan yang terjadi, terdapat tuntutan buruh yang ingin didengar. Di sisi lain, kepentingan masyarakat luas juga perlu dijaga. George berharap persoalan ketenagakerjaan ke depan lebih mengedepankan ruang dialog formal antara perwakilan buruh dan pihak terkait.
Aksi buruh PT Pakerin berakhir kondusif setelah perwakilan diterima berdiskusi. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa komunikasi terbuka dan empati menjadi kunci penyelesaian dinamika sosial di ruang publik yang strategis. (*)
