Perbedaan Imlek dan Cap Go Meh: Sejarah, Makna, Tradisi, dan Waktu Perayaannya
Ragamjatim.id - Di Pecinan, udara terasa seperti halaman buku yang dibuka perlahan. Dupa menulis doa ke langit, kue keranjang merekatkan percakapan keluarga, dan lampion merah menggantung seperti matahari-matahari kecil yang sengaja diturunkan ke jalanan. Lalu muncul pertanyaan yang sering bikin orang ragu saat memberi ucapan: sebenarnya apa bedanya Imlek dan Cap Go Meh?
Keduanya memang satu rangkaian, tetapi jantungnya berdetak dengan ritme yang berbeda. Mari kita bedah dengan tenang, seperti membuka amplop angpao tanpa merobek harapannya.
1. Sejarah: Dari Musim Semi hingga Festival Lampion
Imlek dikenal dunia sebagai Chinese New Year. Akar sejarahnya tumbuh ribuan tahun lalu di Tiongkok sebagai festival agraris untuk menyambut musim semi. Pada masa itu, para petani bersyukur atas panen dan memanjatkan doa agar tanah kembali subur di tahun berikutnya.
Ada pula legenda tentang monster Nian yang konon takut pada warna merah dan suara gaduh. Dari kisah inilah lahir tradisi petasan, lampion merah, dan dekorasi bernuansa menyala yang kini menjadi ciri khas Imlek.
Imlek dirayakan pada tanggal 1 bulan pertama kalender lunar. Secara etimologi, kata “Im” berarti bulan dan “Lek” berarti penanggalan.
Sementara itu, Cap Go Meh berakar dari tradisi Dinasti Han sekitar abad ke-2 sebelum Masehi. Di Tiongkok, perayaan ini dikenal sebagai Lantern Festival. Awalnya, para biksu menyalakan lampion untuk menghormati Sang Buddha pada hari ke-15 bulan pertama.
Dalam dialek Hokkian:
- Cap = sepuluh
- Go = lima
- Meh = malam
Artinya malam kelima belas. Seiring waktu, tradisi ini berkembang menjadi pesta rakyat dengan lampion warna-warni yang menerangi malam bulan purnama pertama dalam tahun baru.
2. Waktu dan Durasi: Pembuka dan Penutup
Perbedaan paling jelas terletak pada waktu pelaksanaannya.
Imlek jatuh pada hari pertama bulan pertama kalender lunar. Ia adalah titik nol. Awal yang baru. Simbol lembaran yang kembali putih.
Cap Go Meh hadir 15 hari kemudian sebagai penutup seluruh rangkaian perayaan. Jika Imlek adalah pintu gerbang, maka Cap Go Meh adalah gerbang keluar yang dihiasi cahaya dan parade.
3. Makna dan Fokus: Rumah vs Ruang Publik
Imlek bersifat intim. Fokusnya keluarga dan leluhur. Tradisi makan malam reuni menjadi momen sakral. Banyak orang rela menempuh perjalanan jauh demi duduk satu meja dengan orang tua dan kerabat.
Doa-doa dipanjatkan di altar rumah. Harapan yang dimohon bersifat personal: kesehatan, rezeki, keharmonisan.
Sebaliknya, Cap Go Meh lebih komunal. Ia bergerak keluar rumah menuju jalanan kota. Energinya lebih riuh. Perayaan ini menjadi ajang berkumpul masyarakat luas dalam suasana terbuka dan meriah.
Di Indonesia, kemeriahan Cap Go Meh sangat terasa di Singkawang, terutama lewat parade Tatung yang ikonik dan penuh atraksi budaya.
4. Kuliner: Manisnya Harapan dan Hangatnya Akulturasi
Saat Imlek, kue keranjang atau nian gao hampir selalu hadir. Teksturnya yang lengket melambangkan keeratan keluarga, sementara rasa manisnya menjadi simbol kehidupan yang lebih baik.
Ikan juga kerap disajikan karena pelafalannya dalam bahasa Mandarin menyerupai kata yang berarti kelimpahan.
Ketika Cap Go Meh tiba, di Indonesia muncul hidangan khas berupa Lontong Cap Go Meh. Sajian ini adalah bukti akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara: lontong, opor ayam, sambal goreng, dan bubuk kedelai berpadu dalam satu piring yang kaya sejarah.
Di Tiongkok sendiri, masyarakat menyantap yuanxiao atau tangyuan, bola ketan manis berbentuk bulat yang melambangkan persatuan keluarga.
5. Aktivitas dan Hiburan: Khidmat vs Karnaval
Hari Imlek biasanya berlangsung lebih tenang. Aktivitas banyak dilakukan di rumah atau kelenteng. Tradisi angpao menjadi simbol berbagi rezeki. Membersihkan rumah sebelum tahun baru juga diyakini sebagai cara membuang sial.
Sebaliknya, Cap Go Meh identik dengan parade besar, barongsai, liong, dan festival lampion. Jalanan berubah menjadi panggung terbuka, dipenuhi warna, bunyi tambur, dan sorak warga.
6. Simbolisme dan Doa
Saat Imlek, ucapan yang sering terdengar adalah “Gong Xi Fa Cai” yang berarti harapan akan kemakmuran dan keberuntungan. Warna merah mendominasi sebagai simbol energi positif dan penolak bala.
Pada Cap Go Meh, lampion menjadi simbol utama. Cahaya yang menyala di malam hari melambangkan harapan kolektif bagi komunitas. Doa yang dipanjatkan lebih bersifat sosial: kerukunan, keselamatan bersama, dan kedamaian.
Jadi, Apa Bedanya?
Sederhananya:
- Imlek adalah awal tahun baru lunar yang berfokus pada keluarga dan doa pribadi.
- Cap Go Meh adalah hari ke-15 yang menjadi penutup rangkaian perayaan dengan nuansa publik dan festival cahaya.
Keduanya seperti dua bab dalam satu buku yang sama. Tanpa Imlek, Cap Go Meh kehilangan konteksnya. Tanpa Cap Go Meh, rangkaian Imlek terasa belum benar-benar usai.
Memahami perbedaan ini membuat kamu tidak lagi keliru saat memberi ucapan atau ikut merayakan. Di balik lampion yang bergoyang pelan dan aroma dupa yang menari di udara, tersimpan sejarah panjang dan filosofi yang membuat dua momen ini tetap hidup dari generasi ke generasi.(red)
