Merawat Cinta
Kita sering merasakan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat indah dan penuh cahaya. Masjid penuh guna melaksanakan ibadah solat wajib apa;agi disaat solat tarawih.
Majelis ilmu ramai dan terasa lembut dihati. Lisan mudah berdzikir dan Air mata mudah
jatuh ketika mendengar ayat-ayat Allah.
Namun setelah Ramadhan berlalu, suasana itu perlahan berubah. Masjid mulai renggang.
Majelis tak seramai dulu. Kesibukan dunia kembali menyita waktu dan perhatian kita. Tidak
ada semangat kolektif yang mendorong kita untuk beribadah lebih, Padahal sesungguhnya, ukuran cinta kita kepada Allah dan Rasul-Nya bukan hanya terlihat di bulan Ramadhan.
Justru yang paling berat adalah menjaga ruh Ramadhan itu di bulan-bulan biasa. Disinilah keikhlasan dan keistiqamahan kita diuji.
Apakah kita beribadah karena suasana?
Ataukah karena cinta?
Apakah kita mendatangi majelis ilmu hanya karena momentum Ramadhan?
Ataukah karena kita sadar bahwa hati ini selalu membutuhkan cahaya?
Dalam hal ini kita perlu merenungkan sabda Nabi ﷺ yang diriwayatkan dalam Lubabul
Hadis:
مَنْ زَارَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا زَارَنِيْ وَمَنْ صَافَحَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا
صَافَحَنِيْ وَمَنْ جَالَسَ عَالِمًا فَكَاَنَّمَا جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا وَمَنْ
جَالَسَنِيْ فِي الدُّنْيَا اَجْلَسْتُهُ مَعِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa mengunjungi orang alim, maka seolah-olah dia mengunjungiku. Barang siapa bersalaman dengan orang alim, maka seolah-olah dia bersalaman denganku. Barang siapa duduk bersama orang alim, maka seolah-olah dia duduk bersamaku di dunia. Dan barang siapa yang duduk bersamaku di dunia, maka aku akan mendudukkannya bersamaku pada hari kiamat.”
Coba kita bayangkan.
Siapa di antara kita yang tidak rindu kepada Rasulullah ﷺ?
Siapa yang tidak ingin bertemu beliau?
Siapa yang tidak ingin duduk di dekat beliau di hari kiamat?
Namun kita sadar, kita hidup jauh dari zaman beliau. Kita tidak pernah melihat wajah beliau.
Tidak pernah mendengar suara beliau secara langsung, akan tetapi kenapa kita bisa menaruh
rasa cinta kepadanya?
Lalu bagaimana caranya agar kita tetap dekat dengan Nabi?
Hadis ini memberi jawaban yang sangat lembut:
Dekatilah orang-orang alim.
Karena ulama adalah pewaris para nabi. Mereka mewarisi ilmu, akhlak, dan perjuangan.
Ketika kita duduk di majelis mereka, sesungguhnya kita sedang duduk di taman warisan
kenabian.
Ketika tidak ada euforia tarawih. Ketika tidak ada kultum setiap malam. Ketika tidak ada
suasana “musiman” yang mendorong kita.
Apakah kita masih mau melangkahkan kaki ke majelis ilmu?
Mengunjungi orang alim bukan sekadar datang ke rumahnya. Itu tanda kerendahan hati.
Tanda bahwa kita sadar: kita butuh ilmu. Kita butuh nasihat. Kita butuh cahaya.
Bersalaman dengan orang alim bukan sekadar berjabat tangan. Itu adab. Itu bentuk ta’dzim.
Itu pengakuan bahwa kita menghormati pewaris Rasulullah ﷺ.
Duduk bersama orang alim bukan sekadar duduk fisik. Itu berarti menenangkan diri.
Mematikan kesombongan. Membuka hati untuk menerima kebenaran.
Dan yang paling menyentuh adalah janji di akhir hadis itu…
“Barang siapa duduk bersamaku di dunia, maka aku akan mendudukkannya bersamaku di hari kiamat.”
Hari kiamat adalah hari ketika manusia berlarian.
Anak lari dari orang tua.
Saudara lari dari saudaranya.
Semua sibuk dengan urusannya sendiri.
Di saat itulah, kedekatan dengan Rasulullah ﷺ adalah keselamatan.
Dan jalan itu ternyata sederhana:
Dekat dengan ahli ilmu.
Cinta kepada mereka.
Hormat kepada mereka.
Istiqamah hadir di majelis mereka meskipun bukan Ramadhan.
Kalau di bulan Ramadhan kita semangat ke masjid karena suasana, maka setelah Ramadhan
kita harus datang karena cinta.
Cinta kepada ilmu.
Cinta kepada orang-orang saleh.
Dan yang paling utama, cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang mencintai ulama, memuliakan
mereka, dan istiqamah dalam majelis ilmu.
Semoga kelak kita benar-benar dikumpulkan bersama Guru kita dan Rasulullah ﷺ, bukan
hanya dalam angan-angan, tetapi dalam kenyataan. Aamiin Ya Mujibassailin
Al Faqir : Rubait Dasururi, SE., M.Si

Posting Komentar