Jatim-Kalbar Membuka Babak Baru Integrasi Ekonomi, Transaksi Misi Dagang Tembus Rp2,529 Triliun
Pontianak, Ragamjatim.id – Pertemuan ekonomi Jawa Timur dan Kalimantan Barat di Pontianak bukan sekadar forum jual beli antarpelaku usaha. Di balik transaksi yang mencapai Rp2,529 triliun, terbuka gambaran tentang bagaimana dua wilayah dengan karakter ekonomi berbeda dapat saling mengisi, membangun rantai pasok, sekaligus memperluas pusat-pusat pertumbuhan baru.
Misi Dagang dan Investasi Jatim-Kalbar yang dipimpin Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Novotel Convention Center Pontianak, Selasa (11/8/2026), mencatat transaksi sebesar Rp2.529.710.925.000.
Angka itu terdiri atas penjualan produk Jawa Timur ke Kalimantan Barat sebesar Rp1.480.881.842.000, pembelian Jawa Timur dari Kalimantan Barat Rp163.829.083.000, serta komitmen investasi Jawa Timur di Kalimantan Barat sebesar Rp885 miliar.
Bagi Jawa Timur, angka tersebut memperlihatkan bahwa pasar domestik antardaerah masih memiliki ruang ekspansi yang besar. Produk industri, pertanian, peternakan, pangan hingga perikanan Jawa Timur memiliki pasar yang kuat di Kalimantan Barat. Sebaliknya, Jawa Timur membutuhkan bahan baku dan komoditas dari Kalimantan Barat untuk menopang aktivitas industri dan konsumsi.
Arus tersebut membuat hubungan ekonomi kedua provinsi tidak berhenti pada transaksi perdagangan. Ia membentuk ekosistem ekonomi yang menghubungkan produsen, distributor, industri pengolahan, hingga konsumen.
Data perdagangan antarwilayah 2024 menunjukkan total perdagangan Jatim-Kalbar mencapai Rp4,31 triliun. Nilai penjualan Jawa Timur ke Kalimantan Barat mencapai Rp3,75 triliun, sedangkan pembelian Jawa Timur dari Kalimantan Barat sebesar Rp562,27 miliar. Dengan struktur tersebut, Jawa Timur mencatat surplus perdagangan sekitar Rp3,19 triliun.
Khofifah melihat kondisi itu sebagai modal untuk memperluas hubungan ekonomi yang lebih beragam dan berimbang.
“Ini menunjukkan kuatnya keterhubungan ekonomi kedua provinsi sekaligus besarnya ruang untuk memperluas perdagangan dua arah secara lebih beragam dan seimbang,” ujar Khofifah.
Yang menarik, misi dagang kali ini tidak hanya mempertemukan komoditas. Investasi mulai bergerak mengikuti peluang pasar.
Komitmen investasi senilai Rp885 miliar diarahkan pada perluasan industri pupuk bahan amelioran di Kabupaten Mempawah, perkebunan sawit di Kabupaten Landak, serta industri pupuk buatan hara makro primer di Kabupaten Mempawah.
Artinya, hubungan ekonomi Jatim-Kalbar mulai bergerak dari sekadar perdagangan menuju penguatan kapasitas produksi.
Sebanyak 162 pelaku usaha ikut terlibat, terdiri dari 62 pelaku usaha Jawa Timur dan 100 pelaku usaha Kalimantan Barat. Sektor yang dipertemukan juga cukup luas, mulai peternakan, perkebunan, pupuk, kopi, perikanan hingga komoditas arang dan briket.
Jawa Timur membawa kekuatan industri dan hilirisasi. Kalimantan Barat menawarkan sumber daya alam dan komoditas yang dibutuhkan pasar. Pertemuan dua kekuatan itu menciptakan peluang untuk membangun rantai nilai yang lebih panjang di dalam negeri.
Khofifah bahkan mendorong kerja sama peternakan. Dengan populasi sapi terbesar di Indonesia, Jawa Timur memiliki basis pengetahuan, teknologi dan sumber daya manusia yang dapat ditransfer ke Kalimantan Barat.
Pemprov Kalbar pun diundang mengirimkan tim untuk mengikuti pelatihan inseminasi buatan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Langkah ini memperlihatkan bahwa kerja sama ekonomi tidak harus berhenti pada transaksi komoditas, tetapi dapat berkembang menjadi transfer teknologi dan peningkatan produktivitas.
Capaian Pontianak juga menunjukkan lonjakan dibandingkan Misi Dagang Jatim-Kalbar pada 2022 yang hanya mencatat komitmen transaksi Rp109,31 miliar melalui 24 transaksi.
Bagi Khofifah, kenaikan tersebut harus menjadi momentum memperbesar skala hubungan ekonomi kedua provinsi.
Secara kumulatif, sejak 2019 hingga 2026, Jawa Timur telah melaksanakan 53 kali misi dagang dalam negeri dengan total komitmen transaksi Rp41,28 triliun dari 2.282 transaksi dan melibatkan 2.654 pelaku usaha.
“Capaian misi dagang kali ini harus menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama melalui perluasan komoditas, peningkatan investasi serta pengembangan kemitraan usaha yang berkelanjutan,” tegas Khofifah.
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan mengakui besarnya capaian tersebut. Ia menyebut nilai transaksi kali ini merupakan yang terbesar dibandingkan misi dagang sebelumnya.
Di titik inilah misi dagang Jatim-Kalbar memperoleh makna yang lebih luas: bukan sekadar mencatat angka transaksi, tetapi membuka jalur baru bagi modal, komoditas, teknologi dan pasar untuk bergerak lebih cepat antarwilayah.
Jika konektivitas tersebut terus diperkuat, surplus perdagangan tidak hanya menjadi angka statistik. Ia dapat berubah menjadi investasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas produksi dan pertumbuhan ekonomi baru bagi kedua provinsi. (*)
Baca Juga:

Posting Komentar