Perpres Logistik Terbit, Pemerintah Percepat Integrasi dan Digitalisasi Nasional
![]() |
| Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto |
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menugaskan Menteri
Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkuat ekosistem
logistik nasional guna menekan biaya distribusi dan meningkatkan daya saing
ekonomi. Penugasan tersebut dituangkan dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor
41 Tahun 2026 tentang Penguatan Logistik Nasional yang diundangkan pada 16 Juli
2026.
Airlangga mengatakan, penguatan ekosistem logistik menjadi
salah satu langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang di
Indonesia. Melalui perpres tersebut, Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian mengoordinasikan percepatan transformasi sistem logistik nasional.
“Arahan Presiden sangat jelas, bahwa penguatan ekosistem
logistik nasional menjadi kunci untuk menekan biaya logistik dan meningkatkan
daya saing ekonomi,” ujar Airlangga.
Berdasarkan data yang disampaikan pemerintah, biaya logistik
nasional tercatat sekitar 14,29 persen terhadap produk domestik bruto (PDB)
pada 2022. Pemerintah menargetkan angka tersebut turun secara bertahap hingga
mencapai 8 persen dalam beberapa tahun mendatang.
Perpres Nomor 41 Tahun 2026 memuat tiga strategi utama,
yakni penguatan infrastruktur konektivitas dan sarana penunjang logistik,
integrasi serta digitalisasi layanan, dan peningkatan daya saing sumber daya
manusia (SDM) serta penyedia jasa logistik.
Salah satu langkah yang didorong pemerintah adalah
pengembangan National Logistics Ecosystem (NLE). Platform tersebut akan
diperkuat melalui digitalisasi menyeluruh untuk mengintegrasikan layanan
logistik dari hulu hingga hilir.
Airlangga menyebutkan, penerapan NLE selama ini telah
berkontribusi terhadap pengurangan biaya logistik hingga 17 persen dan
pemangkasan waktu layanan hingga 73 persen. Pengembangan selanjutnya diarahkan
untuk memperluas integrasi layanan yang sebelumnya berfokus pada perizinan
antarpelaku usaha dan pemerintah serta antarlembaga pemerintah.
Pemerintah juga mendorong pengembangan pelabuhan darat atau
dry port, termasuk di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Fasilitas
tersebut diharapkan dapat mendekatkan layanan kepabeanan ke kawasan industri
sekaligus mengurangi beban truk di jalan raya.
Selain itu, integrasi transportasi jalan, kereta api, dan
laut menjadi prioritas untuk meningkatkan efisiensi distribusi barang.
Pemerintah juga membuka akses Kredit Industri Padat Karya (KIPK) bagi sektor
transportasi dan pergudangan melalui Peraturan Menteri Koordinator Bidang
Perekonomian Nomor 10 Tahun 2026. Pembiayaan tersebut diharapkan mendukung
peremajaan armada truk dan meningkatkan kualitas layanan angkutan.
Penguatan kompetensi tenaga kerja logistik turut dilakukan
melalui pelatihan vokasi, sertifikasi, dan pengembangan kapasitas penyedia jasa
Airlangga berharap koordinasi lintas sektor dalam
pelaksanaan perpres tersebut dapat membantu menurunkan biaya logistik hingga 8
persen. Efisiensi distribusi diharapkan meningkatkan daya saing produk ekspor
sekaligus menjaga keterjangkauan harga barang di pasar domestik. (ais)

Posting Komentar