Refleksi Nuzulul Qur'an di Era Global


HAMPIR tiap prosesi bulan Suci Ramadan, hamba Allah SWT yang dirinya terpanggil beribadah mempunyai hasrat yang begitu bergelora. Selain mengharapkan ridlo Allah dan senang dengan amaliyah puasa sebagai ibadah wajib, taraweh dan tadarus Al-Qur'an merupakan pernik-pernik Ramadan yang memiliki makna tersendiri dari masa ke masa.


Sejauh mana konteks kekinian dari bulan Ramadan 1445 Hijriyah yang penuh Rahmat, ampunan dan dijauhkan dari api neraka serta turunnya Al Qur'an dan bulan yang lebih mulia dari seribu bulan? Tentu semua kembali kepada aktifitas kita sendiri.


Penulis sengaja memberikan histori sejarah Jabal Nur (Gunung Bercahaya) dengan khasanah khusus Gua Hiro, tempat Rasulullah berkhalwat (menyendiri) hingga mendapatkan wahyu turun ayat 1-5 surat Al Alaq yang pertama. Setidaknya, umat Baginda Rasulullah SAW bisa berpikir jernih disertai keyakinan dan keimanan tentang ke-Agungan Dzat Yang Maha Rahman - Rahim.


Firman Allah SWT yang turun melalui malaikat Jibril AS, yaitu:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ - ١

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,"

خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ - ٢

"Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah."

اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ - ٣

"Bacalah & Tuhanmulah Yang Mahamulia,"

الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ - ٤

"Yang mengajar (manusia) dengan pena"

عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ - ٥

"Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."


Bagi Al Faqir, 5 ayat ini tentu penuh makna. Bukan sekedar penjelasan dan ketegasan tentang profil Baginda Rasulullah SAW yang ummi (tidak bisa membaca) sehingga terjadi dialog antara Rasulullah dengan Jibril, namun mengajarkan kepada kita untuk selalu mengkaitkan segala kemampuan (kenikmatan) melihat, mendengar, mengucap (baca) dan merasa (secara jasad dan batin) dengan kekuasaan dan Wewenang mutlak Sang Khalik.


Artinya, kita punya kewenangan menentukan ikhtiar dan usaha kita bisa meraih keberhasilan karena kita. Sebaliknya, ketidakpastian dan kebodohan kita yang terus menerus mengajak dalam ketakwaan akan diberikan solusi, jalan keluar dan persepsi khusnudlon terhadap Sang Pencipta.


Kebetulan Al Faqir, telah diberikan kenikmatan dan kesempatan beberapa kali bisa berziarah ke Gua Hiro bersama jamaah haji atau umroh. Beragam komentar, cerita dan takjub membayangkan era Rasulullah SAW. Intinya, ada uswah (contoh) yang tidak lekang oleh zaman.  Termasuk perjuangan penduduk setempat (mukimin) yang membantu memperbaiki rute jalan batu terjal dengan semen ala kadarnya dengan meminta imbalan seikhlasnya. Tentu kalau membayangkan era Rasulullah, tidak bisa terukur.


Saat ini, kondisi tersebut boleh dikatakan telah berubah 100 persen. Inisiatif kerajaan Saudi Arabia membangun museum Wahyu di kaki Gunung An-Nur (Jabal Nur) memberikan pencerahan kepada para jamaah (peziarah) untuk memasuki era baru. Peradaban yang kian modern dengan desain serta penampilan tiga/ empat dimensi panorama zaman Jahiliah, Rasulullah hingga kini.


Diorama yang begitu mempesona, termasuk replika Gua Hiro yang dipindah ke areal museum Wahyu Makkah, bukan sekedar mengajak pengunjung seperti berada di era Rasulullah, namun sebagai wujud ada kecintaan dan keterpaduan jiwa saling berjuang serta menyayangi. Allah SWT, bukan sekedar menguji kepada manusia yang paling Dicintai, namun memberikan realita dan reaksi nyata, bahwa hidup ini penuh perjuangan.


Dulu, saat Al Faqir jalan setapak bersama jamaah naik ke Gua Hiro dibutuhkan waktu sekitar dua jam. Itupun ada jedda (istirahat) karena reaksi kebutuhan oksigen menipis seiring ketinggian gunung batu An-Nur (bercahaya).


Segala kegundahan, kecemasan, dan rasa capai hilang begitu kita berada di lorong menuju Gua Hiro. Bahkan, ada areal sedikit menanjak, di mana secara kalkulasi badan seseorang sulit menerobos, faktanya orang yang gemuk pun diberikan kemudahan. Artinya, setiap ikhtiar tidak ada yang percuma dan yakinlah bahwa dalam pengorbanan pasti ada tujuan teraih, setiap kesusahan selalu ada kebahagiaan.


Maka, Al Faqir hanya bisa berharap, mudah-mudahan saudara seiman seagama diberikan keteguhan dan keikhlasan dalam menghamba, khususnya di bulan Ramadan yang penuh berkah. Setidaknya, keyakinan bahwa urusan puasa Ramadan menjadi hak prerogatif Allah SWT, merupakan jaminan yang tidak terbantahkan. Wallahu a'lam bish-showab. (ragamjatim.id)

0 Komentar