Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • e-Magazine
  • Pemerintahan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Sejarah
  • Kosakata
  • Puisi
  • Music
  • Film
  • Kultur
  • Wisata
  • Tips
  • Opini
  • Coretan
  • Rilis
  • Beranda
  • Edukasi
  • Kultur

Bahaya Quiet Quitting di Kalangan Milenial: Trend atau Tanda Ketidakbahagiaan Kerja?

Oleh Redaksi
Sabtu, Juli 26, 2025
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan pekerja milenial. Muncul sebagai respon terhadap tekanan kerja dan ekspektasi berlebihan di lingkungan korporat, fenomena ini memicu perdebatan besar: apakah ini hanya tren sementara, bentuk perlawanan diam-diam, atau justru tanda serius dari ketidakbahagiaan kerja?

RagamJatim.id
– Dalam beberapa tahun terakhir, istilah quiet quitting menjadi perbincangan hangat, terutama di kalangan pekerja milenial. Muncul sebagai respon terhadap tekanan kerja dan ekspektasi berlebihan di lingkungan korporat, fenomena ini memicu perdebatan besar: apakah ini hanya tren sementara, bentuk perlawanan diam-diam, atau justru tanda serius dari ketidakbahagiaan kerja?

Fenomena ini bukan sekadar berhenti bekerja, melainkan berhenti "lebih" bekerja. Mereka tetap hadir, menyelesaikan tugas sesuai deskripsi kerja, namun tidak mau melampaui batas atau melakukan upaya ekstra. Pada titik tertentu, quiet quitting bisa menjadi cerminan dari budaya kerja yang disfungsional, dan bila dibiarkan, bisa berdampak buruk bagi organisasi maupun individu itu sendiri.

Apa Itu Quiet Quitting?

Istilah "quiet quitting" pertama kali populer di media sosial seperti TikTok dan Twitter sekitar tahun 2022. Namun, bukan berarti para pelaku quiet quitting benar-benar "mengundurkan diri". Justru mereka tetap berada di tempat kerja, tetapi hanya melakukan tugas minimum yang diwajibkan. Tak ada inisiatif lebih, tak ada partisipasi di luar jam kerja, bahkan tak ada keterlibatan emosional terhadap pekerjaan.

Bagi sebagian orang, ini dianggap sebagai bentuk menjaga work-life balance. Namun bagi perusahaan, ini bisa menjadi indikator disengagement karyawan yang harus segera ditangani.

Mengapa Quiet Quitting Meningkat di Kalangan Milenial?

Ada beberapa faktor yang mendorong tren ini merebak, khususnya di generasi milenial yang kini mendominasi angkatan kerja:

1. Kelelahan Mental dan Burnout
Generasi milenial tumbuh di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, ditambah budaya hustle yang terus digaungkan. Akibatnya, banyak dari mereka merasa lelah secara mental. Quiet quitting menjadi pilihan ketika burnout tak lagi bisa diabaikan.

2. Kekecewaan terhadap Janji Karier
Banyak pekerja muda merasa tidak dihargai secara adil, baik dari segi finansial maupun pengakuan. Janji-janji promosi yang tak kunjung terealisasi, gaji stagnan, atau beban kerja yang terus meningkat menjadi pemicu utama.

3. Pandemi yang Mengubah Perspektif Hidup
Pandemi COVID-19 menjadi momen refleksi besar bagi banyak orang. Prioritas hidup berubah. Kesehatan mental, waktu bersama keluarga, dan kehidupan di luar pekerjaan menjadi lebih penting ketimbang sekadar mengejar target.

Dampaknya terhadap Dunia Kerja
Quiet quitting bisa menggerogoti produktivitas organisasi secara perlahan tapi pasti. Meski secara teknis tak melanggar aturan, budaya “setengah hati” ini dapat menciptakan lingkungan kerja yang tidak sehat, menurunkan motivasi tim, dan menghambat kolaborasi.

Dampak negatifnya meliputi:
  • Menurunnya loyalitas terhadap perusahaan
  • Turunnya kualitas pelayanan atau produk
  • Meningkatnya turnover rate
  • Sulitnya membangun tim yang solid
Namun di sisi lain, tren ini juga memaksa perusahaan untuk introspeksi, meninjau kembali bagaimana mereka memperlakukan karyawannya dan apakah sistem kerja yang diterapkan sudah cukup manusiawi dan adil.

Apakah Quiet Quitting Selalu Buruk?

Tidak selalu. Dalam beberapa kasus, quiet quitting bisa menjadi mekanisme bertahan bagi individu yang merasa terjebak dalam sistem yang tidak berpihak pada keseimbangan hidup. Dengan menetapkan batas yang sehat, karyawan bisa menghindari overworking dan menjaga kesehatan mental mereka.

Yang menjadi masalah adalah jika kondisi ini tidak dibicarakan secara terbuka, dan hanya dipendam dalam diam. Di sinilah pentingnya komunikasi dua arah antara manajemen dan karyawan.

Tanda-Tanda Quiet Quitting di Tempat Kerja

Pimpinan organisasi perlu waspada terhadap beberapa gejala berikut:
  • Penurunan inisiatif dan kreativitas
  • Karyawan tidak lagi aktif berdiskusi atau memberi masukan
  • Enggan mengambil tanggung jawab tambahan
  • Tidak lagi tertarik mengikuti pelatihan atau pengembangan diri
  • Waktu kerja dihabiskan hanya untuk "menyelesaikan tugas", tanpa semangat
Jika satu atau dua dari gejala ini muncul, perlu dilakukan evaluasi budaya kerja dan sistem komunikasi internal.

Solusi: Mengatasi Quiet Quitting dari Akar Masalah

1. Bangun Budaya Apresiasi
Pengakuan atas hasil kerja, sekecil apa pun, bisa meningkatkan semangat kerja. Jangan menunggu hasil luar biasa untuk mengapresiasi.

2. Fasilitasi Keseimbangan Hidup
Sediakan ruang fleksibilitas dalam bekerja. Jadwal hybrid, cuti mental health, dan pendekatan kerja berbasis hasil (bukan jam kerja) bisa menjadi solusi.

3. Transparansi Jalur Karier
Milenial sangat peduli dengan pertumbuhan. Transparansi soal jalur promosi, penilaian kinerja, dan peluang pengembangan diri bisa mencegah mereka kehilangan harapan.

4. Libatkan Mereka dalam Keputusan
Berikan ruang bagi karyawan untuk menyuarakan ide, kritik, dan masukan terhadap sistem kerja. Keterlibatan ini menumbuhkan rasa memiliki dan tanggung jawab.

Kesimpulan: Trend atau Tanda Bahaya?
Quiet quitting bisa menjadi cermin dari kegagalan komunikasi dan kepemimpinan di tempat kerja. Bagi milenial, ini bukan sekadar trend, melainkan bentuk nyata dari kegelisahan mereka terhadap sistem kerja yang dianggap tidak adil dan melelahkan.

Namun jika direspon dengan bijak, fenomena ini bisa menjadi peluang untuk membangun budaya kerja yang lebih sehat, transparan, dan manusiawi. Dunia kerja yang adaptif terhadap kebutuhan generasi muda tidak hanya akan meningkatkan produktivitas, tetapi juga mempertahankan talenta terbaik dalam jangka panjang.
Tags:
  • Edukasi
  • Kultur
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal

Most popular
  • Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya

    Minggu, Agustus 24, 2025
    Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya
  • Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia
  • Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya

    Senin, Agustus 25, 2025
    Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya
  • Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia

    Jumat, Agustus 29, 2025
    Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia
  • Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih
  • Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah

    Rabu, Agustus 27, 2025
    Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah
Ragamjatim.id
Copyright © 2025 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live