Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • e-Magazine
  • Pemerintahan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Sejarah
  • Kosakata
  • Puisi
  • Music
  • Film
  • Kultur
  • Wisata
  • Tips
  • Opini
  • Coretan
  • Rilis
  • Beranda
  • Nusantara
  • Tokoh

KH. Abdurrahman Wahid: Presiden Keempat Republik Indonesia, Sang Guru Bangsa yang Humanis dan Pluralis

Oleh Redaksi
Kamis, Juli 31, 2025
Nama KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah politik dan keagamaan Indonesia.

RagamJatim.id
– Nama KH. Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah politik dan keagamaan Indonesia. Dikenal sebagai pemimpin yang berani, pluralis, dan humoris, Gus Dur menjadi Presiden keempat Republik Indonesia dengan jejak pemikiran dan kontribusi yang melampaui zamannya. Artikel ini mengulas biografi lengkap KH. Abdurrahman Wahid mulai dari masa kecil hingga akhir hayatnya, serta perannya dalam membentuk wajah demokrasi dan kerukunan bangsa.

Masa Kecil dan Latar Belakang Keluarga

KH. Abdurrahman Wahid lahir di Jombang, Jawa Timur pada 7 September 1940. Ia merupakan putra pertama dari KH. Wahid Hasyim, Menteri Agama pertama RI, dan cucu dari KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi Islam terbesar di Indonesia. Latar belakang keluarganya yang kental dengan nilai-nilai keislaman, nasionalisme, dan pendidikan menjadikan Gus Dur tumbuh sebagai sosok intelektual sejak dini.

Nama "Abdurrahman Wahid" adalah perpaduan dari nama kakek dan ayahnya. Sejak kecil, Gus Dur sudah menunjukkan ketertarikan pada ilmu pengetahuan, budaya, dan sastra. Ia juga dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan daya ingat yang luar biasa.

Pendidikan dan Perjalanan Intelektual

Gus Dur mengawali pendidikannya di lingkungan pesantren Tebuireng, namun kemudian melanjutkan sekolah formal hingga akhirnya mendapat kesempatan menimba ilmu di luar negeri. Ia sempat belajar di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, dan kemudian melanjutkan studi di Universitas Baghdad, Irak. Di luar negeri, Gus Dur aktif membaca karya-karya filsuf dan pemikir Barat seperti Karl Marx, Max Weber, hingga Sigmund Freud, tanpa meninggalkan akar keislamannya.

Sekembalinya ke Indonesia pada 1971, Gus Dur aktif menulis di berbagai media massa dan menjadi pengamat sosial-politik yang tajam. Pemikirannya yang inklusif dan terbuka menjadikan dirinya sebagai sosok pembaharu di lingkungan Nahdlatul Ulama dan masyarakat muslim Indonesia pada umumnya.

Karier Organisasi dan Politik

Karier Gus Dur di NU dimulai pada era 1980-an. Ia diangkat sebagai Ketua Umum PBNU pada 1984 melalui muktamar Situbondo, dan kepemimpinannya menandai babak baru dalam sejarah NU karena berhasil membawa organisasi tersebut menjadi independen dari partai politik.

Pada 1998, setelah runtuhnya Orde Baru, Gus Dur mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai wadah politik yang mewakili aspirasi warga NU. Melalui pemilu demokratis pertama di era reformasi pada 1999, Gus Dur kemudian terpilih menjadi Presiden RI ke-4 melalui sidang MPR RI.

Masa Kepemimpinan sebagai Presiden RI

Gus Dur dilantik sebagai Presiden pada 20 Oktober 1999 menggantikan BJ Habibie. Pemerintahannya ditandai dengan upaya kuat membangun demokrasi, menegakkan HAM, serta merawat keberagaman. Beberapa langkah progresif yang diambil Gus Dur antara lain:
  1. Membubarkan Departemen Penerangan dan Departemen Sosial yang dianggap menjadi alat kontrol negara Orde Baru.
  2. Mencabut larangan aktivitas etnis Tionghoa dan menjadikan Imlek sebagai hari libur nasional.
  3. Menunjuk beberapa menteri dari kalangan minoritas, termasuk perempuan dan non-muslim.
Namun, masa pemerintahannya juga tidak lepas dari kontroversi dan tantangan politik. Konflik internal, tekanan parlemen, serta gaya komunikasi Gus Dur yang kerap tidak konvensional membuat kepemimpinannya rentan. Akhirnya, pada 23 Juli 2001, Gus Dur diberhentikan oleh MPR dan digantikan oleh Megawati Soekarnoputri.

Kiprah Pasca Kepresidenan

Pasca meninggalkan istana, Gus Dur tetap aktif sebagai tokoh nasional dan internasional. Ia sering menghadiri forum-forum dialog lintas agama, seminar kebudayaan, dan menjadi pembicara dalam isu-isu hak asasi manusia serta demokrasi. Meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, suara dan pandangannya tetap diperhitungkan.

Ia juga dikenal sebagai pelindung kelompok minoritas dan pejuang kebebasan berekspresi. Gus Dur bahkan dijuluki sebagai "Bapak Pluralisme Indonesia" karena keberaniannya melawan intoleransi.

Gaya Kepemimpinan dan Pandangan Keagamaan

Gus Dur dikenal dengan gaya kepemimpinan yang egaliter dan humanis. Ia lebih senang berdialog dengan rakyat secara langsung daripada mengandalkan birokrasi. Gaya bicaranya yang santai, diselingi humor, dan sikapnya yang apa adanya membuatnya dicintai banyak kalangan.

Dalam bidang keagamaan, Gus Dur dikenal dengan pandangannya yang terbuka terhadap perbedaan. Ia sering mengatakan bahwa "Islam datang untuk memuliakan manusia, bukan menghina". Sikap ini ia tunjukkan dengan aktif membela hak-hak kelompok minoritas dan mendorong Islam yang ramah, bukan marah.

Wafatnya Sang Guru Bangsa

KH. Abdurrahman Wahid wafat pada 30 Desember 2009 di Jakarta karena komplikasi penyakit. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi bangsa Indonesia. Ia dimakamkan di kompleks pemakaman keluarga di Jombang, Jawa Timur, dan makamnya hingga kini menjadi salah satu tempat ziarah paling ramai dikunjungi.

Pemerintah Indonesia menetapkan Gus Dur sebagai Pahlawan Nasional pada 2010. Warisan pemikiran dan perjuangannya terus hidup dalam gerakan demokrasi, toleransi, dan keberagaman di Indonesia.

Warisan dan Pengaruh Gus Dur

Lebih dari sekadar presiden, Gus Dur adalah simbol keberanian intelektual, keteguhan moral, dan keikhlasan dalam melayani bangsa. Ia menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk berpikir kritis, menghargai perbedaan, dan memperjuangkan keadilan sosial.

Lembaga-lembaga seperti The Wahid Foundation terus melanjutkan misi dan nilai-nilai Gus Dur dalam merawat perdamaian dan keadilan sosial. Buku-buku, film dokumenter, dan forum-forum dialog banyak yang mengangkat tentang pemikiran dan kontribusinya.

Penutup
KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah lebih dari sekadar Presiden RI ke-4. Ia adalah pelopor pluralisme, penjaga demokrasi, dan pembela kaum marjinal. Meski telah tiada, jejaknya masih hidup dalam denyut kehidupan bangsa.

RagamJatim.id mengajak pembaca untuk tidak hanya mengenang Gus Dur sebagai pemimpin, tetapi juga sebagai guru bangsa yang telah menanamkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Gitu aja kok repot”, kata-kata legendarisnya, kini menjadi simbol dari kebijaksanaan sederhana yang mendalam. Selamat jalan, Gus Dur. Jasamu abadi untuk Indonesia.
Tags:
  • Nusantara
  • Tokoh
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal

Most popular
  • Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya

    Minggu, Agustus 24, 2025
    Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya
  • Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia
  • Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya

    Senin, Agustus 25, 2025
    Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya
  • Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia

    Jumat, Agustus 29, 2025
    Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia
  • Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih
  • Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah

    Rabu, Agustus 27, 2025
    Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah
Ragamjatim.id
Copyright © 2025 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live