Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • e-Magazine
  • Pemerintahan
  • Ekonomi
  • Pendidikan
  • Seni Budaya
  • Sejarah
  • Kosakata
  • Puisi
  • Music
  • Film
  • Kultur
  • Wisata
  • Tips
  • Opini
  • Coretan
  • Rilis
  • Beranda
  • Kultur
  • Teknologi

Mengapa Semua Orang Mendadak Jadi Content Creator? Ini Penjelasan Psikologinya

Oleh Redaksi
Sabtu, Juli 26, 2025
Di era digital seperti sekarang, menjadi content creator bukan lagi mimpi eksklusif para selebritas internet. Nyaris semua orang dari pelajar, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, hingga pensiunan kini berlomba menciptakan konten di media sosial. Entah itu sekadar membagikan daily routine, tutorial masak, opini publik, atau bahkan kehidupan pribadi yang dikemas ala sinematik.

RagamJatim.id
– Di era digital seperti sekarang, menjadi content creator bukan lagi mimpi eksklusif para selebritas internet. Nyaris semua orang dari pelajar, ibu rumah tangga, pegawai kantoran, hingga pensiunan kini berlomba menciptakan konten di media sosial. Entah itu sekadar membagikan daily routine, tutorial masak, opini publik, atau bahkan kehidupan pribadi yang dikemas ala sinematik.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa semua orang tiba-tiba merasa perlu jadi content creator? Apa yang memicu ledakan kreativitas digital ini? Apakah ini murni karena keinginan berbagi, atau ada sisi psikologis yang mempengaruhi dorongan tersebut?

Dalam artikel ini, tim redaksi RagamJatim.id akan mengupas alasan psikologis di balik tren besar ini, sekaligus mengungkap dampaknya terhadap identitas, hubungan sosial, dan kesehatan mental generasi digital.

Dari Konsumen Jadi Kreator: Pergeseran Budaya Digital

Sebelum era media sosial, mayoritas masyarakat hanya menjadi konsumen konten. Televisi, radio, dan media cetak mendominasi penyebaran informasi. Namun seiring kemunculan YouTube, Instagram, TikTok, dan platform serupa, masyarakat kini bisa memproduksi konten sendiri tanpa batasan.

Perangkat makin terjangkau, aplikasi makin ramah pengguna, dan algoritma media sosial membuka peluang viral hanya dalam hitungan jam. Ini membuat peran "content creator" menjadi demokratis dan massal.

1. Kebutuhan Dasar untuk Diakui dan Dihargai

Psikolog dunia Abraham Maslow menyebutkan bahwa manusia memiliki lima tingkat kebutuhan dasar. Salah satunya adalah kebutuhan akan penghargaan dan pengakuan sosial.

Menjadi content creator secara tidak langsung memenuhi kebutuhan ini. Saat seseorang mengunggah konten dan mendapat likes, views, atau komentar positif, otaknya melepaskan hormon dopamin — zat kimia yang memicu perasaan senang dan puas. Inilah yang membuat aktivitas tersebut terasa menyenangkan dan adiktif.

2. Mencari Identitas Diri di Era Digital

Di tengah kebisingan dunia maya, banyak orang terutama generasi muda menggunakan media sosial sebagai cermin identitas. Mereka membangun persona online yang kadang jauh berbeda dari kehidupan nyata. Melalui konten, mereka bisa menjadi siapa pun yang mereka inginkan: traveler, fashion expert, food reviewer, atau aktivis sosial.

Menurut psikolog sosial, ini adalah bentuk pencarian jati diri dan validasi. “Aku posting, maka aku ada.”

Fenomena ini sangat kuat di kalangan Gen Z, yang lahir dan besar dalam atmosfer digital, di mana batas antara kehidupan nyata dan maya makin kabur.

3. Eksistensi dan Rasa Berdaya

Bagi banyak orang, membuat konten adalah bentuk pengungkapan eksistensi diri. Mereka merasa punya suara, opini, dan pengalaman yang patut dibagikan. Di era sebelumnya, tidak semua orang punya panggung. Tapi kini, siapa pun bisa viral dari kamar kos sekalipun.

Hal ini menciptakan ilusi bahwa setiap orang bisa “besar” asalkan cukup kreatif, konsisten, dan paham algoritma. Ini menjadi dorongan kuat untuk terus berkarya, meski tanpa jaminan keuntungan finansial.

4. Harapan Menjadi "Seseorang"

Tak sedikit pula yang melihat profesi content creator sebagai jalan pintas menuju popularitas dan penghasilan. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan persaingan kerja yang ketat, menjadi selebgram atau YouTuber dianggap sebagai alternatif realistis yang menjanjikan.

Namun psikolog mengingatkan bahwa ketenaran digital bisa jadi pisau bermata dua. Sukses yang instan tak selalu dibarengi kesiapan mental dan kontrol diri, terutama jika popularitas datang terlalu cepat.

5. Momen Healing dan Ekspresi Diri

Uniknya, sebagian besar content creator justru memulai karena alasan personal, bukan profesional. Mereka ingin berbagi kisah, mengobati trauma, atau menyembuhkan luka batin melalui karya digital.

Kegiatan ini disebut sebagai self-expression therapy, di mana proses membuat konten menjadi medium penyembuhan. Menulis blog, membuat video jurnal, atau berbagi curahan hati lewat podcast menjadi jalan pelarian yang sehat dari tekanan hidup sehari-hari.

6. Efek Domino: Tren yang Menular

Alasan lain yang tidak kalah kuat adalah efek domino atau tekanan sosial. Ketika semua teman sibuk membuat konten dan viral, kita merasa "tertinggal" jika tidak ikut serta. Inilah yang dikenal sebagai FOMO (Fear of Missing Out).

Tanpa sadar, kita ikut membuat konten bukan karena ingin, tapi karena takut jadi tidak relevan di lingkungan sosial terutama di platform seperti TikTok dan Instagram yang sangat berbasis tren.

Dampak Psikologis: Antara Positif dan Ancaman

Tak bisa dimungkiri, jadi content creator punya sisi positif: meningkatkan kepercayaan diri, menambah keterampilan digital, dan membuka peluang ekonomi. Namun, sisi gelapnya pun tak kalah nyata.

Banyak kreator pemula merasa tertekan oleh angka-angka: jumlah followers, engagement rate, hingga algoritma yang berubah-ubah. Ada pula yang mengalami krisis identitas, kelelahan mental (digital burnout), atau kecanduan eksistensi digital.

Karena itu, para psikolog menyarankan agar masyarakat terutama generasi muda lebih sadar dan bijak saat menjadikan aktivitas ini sebagai rutinitas.

Penutup: Apakah Semua Orang Harus Jadi Kreator?
Jawabannya: tidak. Namun semua orang memang punya hak untuk berkreasi dan menyuarakan isi pikirannya. Menjadi content creator hanyalah salah satu bentuk ekspresi di zaman digital.

Yang terpenting adalah mengetahui tujuan kita membuat konten: apakah untuk berbagi, mengekspresikan diri, menyebarkan inspirasi, atau sekadar mencari pengakuan sesaat?

Jika kamu memilih jadi content creator, pastikan kamu tetap autentik, waras secara mental, dan sadar akan batasan antara dunia nyata dan maya.

Karena pada akhirnya, dunia tidak butuh konten sempurna. Dunia butuh konten yang jujur dan manusiawi.
Tags:
  • Kultur
  • Teknologi
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal

Most popular
  • Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya

    Minggu, Agustus 24, 2025
    Semarakkan HUT RI ke-80 di RT 009 RW 001 Kelurahan Kandangan, Benowo – Surabaya
  • Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Pencak Silat: Warisan, Jati Diri, dan Kebanggaan Bangsa Indonesia yang Mendunia
  • Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya

    Senin, Agustus 25, 2025
    Perantau Aceh Nusantara Banjiri Festival Budaya
  • Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia

    Jumat, Agustus 29, 2025
    Pasar Mulai Bergairah, Sekar Laut Ekspor Krupuk ke Malaysia
  • Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih

    Selasa, Agustus 26, 2025
    Alexander Zwiers Resmi Ditunjuk Sebagai Direktur Teknik Timnas Indonesia: Profil Lengkap, Prestasi, dan Harapan Baru Sepak Bola Merah Putih
  • Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah

    Rabu, Agustus 27, 2025
    Ojol Jatim Tolak Demo, Nyatakan Dukungan untuk Khofifah
Ragamjatim.id
Copyright © 2025 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live