Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Indeks
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • sosial dan budaya

Riak Budaya di Tengah Arus Serumpun: Ketika Pacu Jalur Diakui Malaysia?

Redaksi
Rabu, Juli 09, 2025
Satu lagi riak mengusik tenang aliran Sungai Kuantan. Bukan karena arus deras atau perahu melaju, melainkan oleh polemik budaya yang kembali memanaskan hubungan dua negeri serumpun: Indonesia dan Malaysia. Isunya: “Pacu Jalur”

RagamJatim.id
– Satu lagi riak mengusik tenang aliran Sungai Kuantan. Bukan karena arus deras atau perahu melaju, melainkan oleh polemik budaya yang kembali memanaskan hubungan dua negeri serumpun: Indonesia dan Malaysia. Isunya: “Pacu Jalur” warisan budaya masyarakat Riau diklaim sebagai bagian dari kekayaan budaya Malaysia.

Kabar ini sontak mengundang gelombang reaksi dari warganet hingga tokoh budaya. Warganet Indonesia menyuarakan keresahannya, sementara kalangan budayawan menyebut ini sebagai bentuk “pencatutan naratif” atas budaya yang secara historis dan antropologis berakar kuat di bumi Melayu Riau.

Mengenal Pacu Jalur: Balapan Perahu, Jiwa Komunal

Pacu Jalur bukan sekadar lomba dayung. Ia adalah denyut nadi tradisi, pesta rakyat, dan ekspresi budaya komunal masyarakat Kuantan Singingi yang sudah berlangsung sejak abad ke-17. Perahu panjang yang bisa diisi puluhan orang itu menjadi simbol kekompakan, sportivitas, dan kebanggaan daerah.

Biasanya digelar setiap Agustus, Pacu Jalur bukan hanya ajang olahraga air, tetapi juga bagian dari ritual adat dan penghormatan terhadap Sungai Kuantan, yang sejak dulu menjadi urat nadi kehidupan masyarakat.

“Ini bukan hanya soal lomba, ini tentang warisan,” ungkap salah satu tokoh adat Kenegerian Kari, Kuantan Singingi, kepada RagamJatim.id. “Pacu Jalur adalah identitas.”

Malaysia dan ‘Warisan Budaya Milik Siapa?’

Isu bermula dari beredarnya unggahan di media sosial dan sejumlah forum daring Malaysia yang menyebut “Festival Perahu Tradisional” sebagai budaya lokal yang serupa dengan Pacu Jalur. Tak hanya itu, dalam beberapa dokumentasi kegiatan kebudayaan di negara bagian tertentu seperti Perlis dan Kedah, atribut serta nama kegiatan disebut sangat menyerupai dengan Pacu Jalur baik dari bentuk perahu, jumlah pendayung, hingga penataan ritual pembukaannya.

Hal ini kemudian memunculkan kecurigaan adanya klaim sepihak atau setidaknya “pencatutan budaya” tanpa menyebut asal-usul tradisi yang sebenarnya.

Respons Pemerintah dan Budayawan Indonesia

Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI melalui pernyataan tertulis menegaskan bahwa Pacu Jalur telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia sejak 2014. Penetapan ini memperkuat legalitas budaya tersebut secara nasional dan internasional.

“Kita tidak anti keragaman lintas batas. Tapi kita menolak klaim budaya tanpa dasar sejarah dan tanpa etika penghormatan antar bangsa,” ujar salah satu pejabat Kemendikbud kepada RagamJatim.id.

Di sisi lain, budayawan dari Universitas Riau menilai fenomena ini sebagai gejala ‘glokalitas budaya’ di mana akar budaya serumpun rentan ditarik ke dalam klaim nasionalisme sempit oleh negara-negara yang memiliki sejarah dan etnisitas bersilangan.

Bukan Kali Pertama: Pola Lama, Masalah Baru

Persoalan klaim budaya bukan cerita baru antara Indonesia dan Malaysia. Dari Reog Ponorogo, Batik, Rendang, Tari Pendet, hingga Angklung, semuanya pernah jadi bagian dari kontroversi serupa.

Namun yang membedakan kini adalah respons publik yang lebih cepat, massif, dan terkadang emosional. Era digital membawa narasi menjadi senjata, dan viralitas menjadi pengadilan baru.

Menjaga Warisan: Bukan Hanya Soal Klaim, Tapi Juga Dokumentasi

Di tengah panasnya polemik, muncul juga introspeksi: apakah kita sudah cukup mendokumentasikan budaya sendiri? Sudahkah semua warisan leluhur tercatat, didaftarkan, dan dijaga bukan hanya secara simbolik, tapi juga secara legal dan digital?

Inilah saatnya pemerintah daerah, pelaku budaya, dan komunitas lokal bekerja sama mengarsipkan setiap ekspresi budaya tradisional kita. Warisan bukan untuk dibanggakan semata, tapi untuk dijaga dari lupa dan dijarah.

Kesimpulan: Serumpun Tapi Tak Serampangan

Dalam akar sejarah, Indonesia dan Malaysia adalah saudara tua dalam rumpun Melayu. Namun kekerabatan tidak boleh dijadikan alasan pembenaran atas tindakan klaim budaya tanpa etika dan legitimasi.

Pacu Jalur adalah milik masyarakat Riau. Jika serupa kegiatan muncul di wilayah lain, maka harus diakui sebagai hasil migrasi budaya bukan klaim penciptaan baru. Menghormati budaya sesama bangsa serumpun justru menjadi bentuk kedewasaan dalam peradaban.

Mari jaga warisan ini dengan bijak, bukan hanya dengan kemarahan, tapi dengan pengakuan yang berbasis sejarah dan penghormatan.
Tags:
  • sosial dan budaya
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak

    Rabu, Januari 14, 2026
    PMI Jatim Tinjau Luapan Sungai di Lamongan, Ribuan Rumah Warga Terdampak
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • KUHP Baru Bukan Sekadar Ganti Kitab, Tapi Ganti Cara Negara Menghukum

    Selasa, Januari 13, 2026
    KUHP Baru Bukan Sekadar Ganti Kitab, Tapi Ganti Cara Negara Menghukum
  • 2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak

    Kamis, Januari 15, 2026
    2.000 Pelari Ramaikan “Lelono by Mantra” Batu, Taklukkan Lintasan Gunung Butak
  • Dari Surabaya untuk Indonesia, PMI Tunjukkan Standar Kemanusiaan Kelas Dunia

    Kamis, Januari 15, 2026
    Dari Surabaya untuk Indonesia, PMI Tunjukkan Standar Kemanusiaan Kelas Dunia
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live