Ragamjatim.id

Ragamjatim.id

  • Home
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kode Etik
  • RJ Radio
  • Index
  • Pemerintahan
  • Politik
  • Hukum & Kriminal
  • Sosial & Budaya
  • Pendidikan
  • Sejarah
  • Lifestyle
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Kosakata
  • Diajeng
  • Wisata
  • Kuliner
  • Opini
  • Rilis
  • Beranda
  • ekonomi dan bisnis

UMKM Lokal vs Produk Impor Murah: Siapa yang Akan Bertahan di 2025? Pasar Domestik Dibanjiri Produk Asing, UMKM Kian Terjepit

Redaksi
Jumat, Juli 04, 2025
Di tengah gempuran produk impor murah yang membanjiri etalase digital dan pasar tradisional, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal menghadapi tekanan kompetisi yang kian pelik. Pertanyaannya sederhana, namun krusial: siapa yang akan bertahan di tahun 2025 UMKM lokal, atau barang impor yang makin dominan?

Ragamjatim.id, Mojokerto
– Di tengah gempuran produk impor murah yang membanjiri etalase digital dan pasar tradisional, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal menghadapi tekanan kompetisi yang kian pelik. Pertanyaannya sederhana, namun krusial: siapa yang akan bertahan di tahun 2025 UMKM lokal, atau barang impor yang makin dominan?

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa sepanjang 2024, nilai impor barang konsumsi meningkat sebesar 8,6% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini bersinggungan langsung dengan merosotnya permintaan terhadap produk UMKM lokal di sejumlah sektor, terutama di bidang fashion, kerajinan, kuliner kemasan, hingga perabot rumah tangga.

“Kami sudah jualan online, sudah ikut pelatihan digital, tapi tetap saja orang lebih pilih produk luar. Kami tidak bisa bersaing dari harga,” ujar Lilis Nurhayati, pengrajin tas anyaman asal Jombang kepada RagamJatim.id, Kamis (3/7/2025).

Pasar Bebas, UMKM Terjepit
Salah satu faktor utama yang memperparah tekanan terhadap UMKM adalah keberadaan produk impor berharga murah, yang masuk melalui platform e-commerce internasional dan dijual langsung ke konsumen Indonesia dengan ongkos kirim minim, bahkan gratis.

Di sisi lain, UMKM lokal masih dibebani oleh biaya bahan baku yang tinggi, logistik yang tidak efisien, serta keterbatasan modal promosi dan branding digital.

“Produk lokal kalah bukan karena kualitas, tapi karena sistem. Barang impor bisa masuk lewat jalur e-commerce tanpa bea masuk atau pajak yang jelas. Sementara UMKM lokal harus bertarung di arena yang tidak setara,” kata pengamat ekonomi digital dari Universitas Brawijaya, Dr. Dimas Arya.

Pemerintah Sudah Bertindak, Tapi Belum Cukup
Kementerian Koperasi dan UKM mengklaim telah mendorong digitalisasi UMKM lewat program onboarding marketplace, pelatihan, dan kampanye Bangga Buatan Indonesia. Target 30 juta UMKM go digital hingga akhir 2024 diklaim tercapai.

Namun, transformasi digital saja tidak menjamin keberlanjutan. Tanpa proteksi kebijakan terhadap banjirnya produk impor dan penguatan regulasi dagang digital, UMKM akan tetap kalah di ‘halaman rumah sendiri’.

2025: Tahun Penentuan
Memasuki semester kedua tahun 2025, para pelaku UMKM lokal semakin mendesak pemerintah untuk menegakkan aturan perdagangan yang adil dan membatasi akses langsung produk asing ke konsumen tanpa melalui mekanisme distribusi resmi.

Selain itu, edukasi konsumen menjadi penting. Kampanye literasi konsumen untuk mendukung produk lokal bukan hanya soal nasionalisme, tetapi strategi bertahan hidup ekonomi rakyat kecil.

Pilihan Konsumen Menentukan Masa Depan
Setiap keputusan belanja masyarakat berkontribusi pada arah ekonomi nasional. Membeli produk lokal berarti mendukung pekerjaan tetangga, warisan keterampilan tradisional, serta kemandirian bangsa.

“Kalau hari ini kita diam, tahun depan bisa jadi tak ada lagi pengrajin bambu, pembuat batik tulis, atau pembuat sambal rumahan yang bertahan. Pasar kita akan sepenuhnya dikuasai algoritma luar,” ujar Wahyu Fajar, pelaku UMKM kuliner dari Lumajang.

Redaksi RagamJatim.id Berpendapat, RagamJatim.id menegaskan bahwa keberpihakan kepada UMKM bukan romantisme, tapi kebutuhan strategis. Di tengah arus globalisasi dan tekanan digitalisasi, UMKM lokal adalah pertahanan terakhir ekonomi rakyat. Bila tidak diperkuat, maka bukan tak mungkin kita akan menjadi negara pembeli di tanah sendiri.

Tahun 2025 adalah momen penentu. Pilihan ada di tangan kita: mau sekadar murah, atau mau memberdayakan?
Tags:
  • ekonomi dan bisnis
Bagikan:
Baca juga
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terkait
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Berita terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Tampilkan Semua
Posting Komentar
Batal
Topik populer
  • lifestyle
  • jawatimur
  • ekonomi dan bisnis
  • sejarah
  • wisata
  • teknologi
Most popular
  • 10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya

    Selasa, Mei 07, 2024
    10 Senjata Tradisional Jawa Timur, Kenali Filosofinya
  • OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi

    Sabtu, Januari 31, 2026
    OPON VI 2026 Diikuti 1.500 Lebih Anggota PMR dari 19 Provinsi
  • Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda

    Jumat, Agustus 01, 2025
    Dari Keris hingga Celurit: Senjata Tradisional Jatim yang Melegenda
  • Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya

    Kamis, Mei 01, 2025
    Jenis Kelabang di Indonesia yang Berbahaya
  • Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Kelabang

    Kamis, Mei 01, 2025
    Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Kelabang
  • 10 Upacara Adat Jawa Timur yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

    Sabtu, Maret 15, 2025
    10 Upacara Adat Jawa Timur yang Hingga Kini Masih Dilestarikan
  • 10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya

    Jumat, Juli 25, 2025
    10 Komunitas Anak Muda Kreatif di Surabaya, Beserta Kegiatan dan Tujuannya
Copyright ©2026 Ragamjatim.id All rights reserved.
Live