Peringatan Isra’ Mi’raj, Gubernur Khofifah Ajak Masyarakat Perkuat Disiplin Salat dan Iman
Surabaya, Ragamjatim.id - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak seluruh masyarakat menjadikan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H yang jatuh pada Jumat (16/1) sebagai momentum spiritual untuk meningkatkan kedisiplinan ibadah serta keimanan dan ketakwaan yang tercermin dalam perilaku sehari-hari.
Pasalnya, peristiwa Isra’ Mi’raj mengingatkan kembali akan datangnya perintah salat. Nabi Muhammad SAW dipanggil langsung oleh Allah SWT melalui perjalanan dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina, sebelum naik ke Sidratul Muntaha.
“Dari Isra’ Mi’raj inilah lahir perintah salat lima waktu. Bayangkan, Rasulullah SAW dipanggil langsung ke langit ketujuh untuk menerima perintah ini. Maka, yang pertama-tama harus kita perbaiki dalam momentum ini adalah disiplin salat kita,” kata Gubernur Khofifah di sela-sela kegiatannya di Surabaya.
Disiplin Salat Membentuk Karakter dan Tanggung Jawab Sosial
Khofifah menilai peristiwa monumental dalam sejarah Islam tersebut sarat dengan pesan kehidupan yang relevan sepanjang zaman. Ritual keagamaan, menurutnya, tidak akan membawa dampak besar tanpa diiringi pemaknaan yang lebih substantif.
“Nilai-nilai Isra’ Mi’raj sangat relevan dengan tantangan masyarakat modern. Salat bukan sekadar rutinitas ibadah, tetapi sarana membentuk keteraturan hidup,” jelasnya.
Ia menambahkan, disiplin salat mengajarkan umat untuk menghargai waktu, bertanggung jawab, dan tertib dalam menjalankan peran sosial. Di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh distraksi, nilai kedisiplinan justru semakin dibutuhkan.
Isra’ Mi’raj sebagai Ujian Iman dan Perekat Kebersamaan
Selain disiplin, Khofifah menegaskan bahwa Isra’ Mi’raj juga merupakan ujian keimanan. Kisah perjalanan Rasulullah SAW yang melampaui nalar manusia kala itu menuntut kedewasaan dalam menyikapinya.
“Keimanan yang matang akan melahirkan sikap saling menghargai. Orang yang beriman tidak mudah menghakimi atau merendahkan pihak lain. Dalam masyarakat majemuk, iman seharusnya menjadi sumber ketenangan, bukan pemicu konflik,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa ketakwaan kepada Tuhan harus tercermin dalam kepekaan sosial. Hal tersebut tampak dalam praktik salat berjamaah yang mengajarkan persatuan dan kesetaraan.
“Dalam shaf salat, semua berdiri sejajar tanpa melihat status sosial. Ini pesan kuat bahwa kebersamaan bukan menyeragamkan, melainkan menyatukan langkah untuk tujuan yang lebih besar. Di dalamnya ada nilai Bhinneka Tunggal Ika,” tuturnya.
Khofifah berharap peringatan Isra’ Mi’raj tidak berhenti sebagai seremoni tahunan, tetapi benar-benar dihidupkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai fondasi masyarakat yang harmonis dan berkeadaban. (*)
