Studi Harvard Ungkap AI Bisa Picu Kelelahan Otak atau “Brain Fry”
Surabaya, Ragamjatim.id – Studi terbaru yang dipublikasikan dalam Harvard Business Review mengungkap bahwa penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) secara berlebihan dapat memicu kelelahan mental yang disebut AI brain fry.
Istilah brain fry menggambarkan kondisi ketika seseorang mengalami kelelahan kognitif akibat terlalu sering menggunakan, berinteraksi, atau mengawasi sistem AI dalam pekerjaan sehari-hari.
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 1.488 pekerja penuh waktu di Amerika Serikat.
“Para peserta menggambarkan perasaan berdengung atau kabut mental dengan kesulitan fokus, pengambilan keputusan lebih lambat, dan sakit kepala,” tulis laporan studi yang dirilis Kamis (5/3).
Pengawasan AI Membuat Otak Bekerja Lebih Keras
Riset itu menemukan bahwa pola penggunaan AI tertentu justru membuat otak bekerja lebih keras dibanding sebelumnya.
Salah satu penyebab utama brain fry adalah pengawasan intensif terhadap sistem AI. Banyak pekerja saat ini harus mengelola berbagai alat AI sekaligus, mulai dari alat riset, analisis data, hingga generator kode.
Alih-alih membuat pekerjaan lebih ringan, situasi ini sering membuat pekerja harus terus memeriksa hasil pekerjaan AI, mengoreksi kesalahan, serta berpindah-pindah antara berbagai sistem.
Dalam studi tersebut, pekerja yang harus memantau AI secara intens tercatat menggunakan 14 persen lebih banyak energi mental dibandingkan mereka yang tidak.
Tingkat pengawasan yang tinggi juga berkaitan dengan peningkatan 12 persen kelelahan mental dan 19 persen lebih banyak kelebihan informasi di tempat kerja.
Seorang manajer teknik dalam penelitian tersebut menggambarkan pengalamannya seperti membuka belasan tab browser di dalam kepala.
“Semuanya berebut perhatian. Saya mendapati diri saya membaca ulang hal yang sama, lebih sering ragu-ragu dari biasanya, dan tidak sabar,” ujarnya.
Terlalu Banyak AI Justru Turunkan Produktivitas
Studi ini juga menemukan pola menarik dalam penggunaan alat AI. Produktivitas pekerja memang meningkat ketika mereka menggunakan dua hingga tiga alat AI sekaligus.
Namun setelah melewati jumlah tersebut, produktivitas justru mulai menurun.
Fenomena ini menunjukkan bahwa multitasking dengan terlalu banyak sistem AI dapat membuat otak kewalahan.
Akibatnya, banyak pekerja merasa lebih banyak waktu dihabiskan untuk mengelola alat AI daripada menyelesaikan masalah inti pekerjaan mereka.
Dampak Brain Fry bagi Perusahaan
Kelelahan otak akibat AI bukan sekadar rasa tidak nyaman. Penelitian ini menunjukkan kondisi tersebut memiliki dampak nyata terhadap performa kerja.
Pekerja yang mengalami AI brain fry tercatat mengalami 33 persen lebih banyak kelelahan dalam pengambilan keputusan, membuat 11 persen lebih banyak kesalahan kecil, dan 39 persen lebih banyak kesalahan besar.
Selain itu, keinginan untuk keluar dari pekerjaan juga meningkat. Sekitar 34 persen pekerja yang mengalami kelelahan otak akibat AI mengaku memiliki niat aktif untuk resign.
Angka ini lebih tinggi dibandingkan pekerja yang tidak mengalami kondisi tersebut.
Sebuah studi sebelumnya pada 2018 juga memperkirakan bahwa perusahaan dengan pendapatan sekitar US$5 miliar dapat mengalami kerugian sekitar US$15 juta per tahun akibat keputusan bisnis yang kurang tepat.
Peningkatan kelelahan dalam pengambilan keputusan bahkan dapat meningkatkan kerugian tersebut hingga jutaan dolar setiap tahunnya.
AI Tetap Bisa Mengurangi Burnout
Meski demikian, penelitian ini juga menemukan sisi positif dari penggunaan AI.
Ketika teknologi tersebut digunakan untuk menggantikan tugas-tugas rutin atau pekerjaan berulang, tingkat burnout pekerja justru turun sekitar 15 persen.
Dengan kata lain, AI membantu ketika berfungsi sebagai asisten yang mengambil alih pekerjaan membosankan, bukan sebagai sistem yang harus terus diawasi manusia.
Rekomendasi untuk Perusahaan
Para peneliti memberikan sejumlah rekomendasi bagi pemimpin perusahaan agar penggunaan AI tetap sehat dan produktif, di antaranya:
- Merancang ulang pekerjaan, tugas, dan alat secara holistik antara manusia dan AI
- Menetapkan ekspektasi yang jelas terkait penggunaan AI dan beban kerja
- Mengalihkan metrik dari aktivitas kerja ke dampak yang dihasilkan
- Mengembangkan keterampilan pekerja dalam mengelola beban kerja berbasis AI
- Mengelola perhatian manusia sebagai sumber daya yang terbatas
Peneliti menilai fenomena kelelahan otak akibat AI menunjukkan betapa cepat dan kuatnya teknologi ini memengaruhi cara manusia bekerja.
Karena itu, penggunaan AI perlu dilakukan secara bijak agar memberikan dampak positif, baik bagi pekerja maupun dunia bisnis.(red)

Posting Komentar