Berbagi Cerita: Pengalaman Patah Hati, Bucin, dan Berhasil Move on
Ragamjatim.id - Halo para pembaca, salam kenal semuanya, pada kesempatan kali ini aku mau menulis pengalaman aku yang mulai berhenti berharap kepada manusia khususnya dalam dunia percintaan. Setelah mengalami patah hati yang sepatah-patahnya sampai mengalami depresi mendalam, tak menyangka juga akhirnya aku bisa move on.
Karena waktu patah hati kemarin, rasanya dunia sudah berakhir, sempat berpikir untuk mengurung diri dari dunia luar, pengennya menyendiri di rumah, tidak memiliki cita-cita atau impian dalam hidup. Semua yang aku pikirkan yaitu hidupku sudah hancur sejak kepergian dia, lalu untuk apa aku meraih ini itu dalam hidup.
Aku pernah jatuh cinta berkali-berkali, sudah dekat dengan beberapa cowok, namun hanya 2 cowok yang benar-benar membuat hati ini patah. Cowok pertama sebut saja namanya X, dia adalah cowok yang baik sekali, sangat mengerti dengan mood aku, selalu menjaga perkataannya, pendengar yang baik, namun aku bertemu dengannya disaat aku remaja, dimana sifatku masih kanak-kanak, sehingga membuat dia pergi selamanya dariku.
Setelah kepergiannya aku menangis menyesal, tapi yang terjadi biarlah terjadi. Tidak ada chat dengannya, tidak ada lagi berbagi cerita. Aku benar-benar kehilangan seorang cowok yang baik.
Tahun lalu aku iseng melihat sosial medianya, sekarang dia sudah berbahagia dengan keluarga kecilnya. Ingin sekali aku menanyai apa kabarnya, menghubungi dia kembali, ya sekedar bernostalgia, tapi gak jadi, aku takut merusak rumah tangganya. Hati ini hanya rindu denganmu, semoga ada orang sepertimu lagi ya.
Setelah kepergian X dari hidupku, dan tentunya butuh waktu 3-4 tahun untuk move on. Sangat lama, karena rasa rindu dan penyesalan saling beradu hingga akhirnya merelakan dia dari hidupku. Selama proses penyembuhan itu, aku benar-benar jujur kepada cowok yang mendekatiku, bahwa aku belum move on dari seseorang.
Setelah move on dari si X, aku mulai membuka hati. Sebut saja namanya Y. Aku bertemu dengannya saat aku masih pengangguran, dan sibuk kesana kemari mencari pekerjaan. Aku hampir ingin menyerah dalam hidup karena masalah ekonomi, dan alasanku ingin menikah dengannya karena aku ingin ada seseorang yang akan menafkahi aku, sehingga aku tidak perlu lagi mencari kerja.
Namun komunikasi kami berjalan tidak lancar, dan hubungan kami juga berakhir. Tidak ada kabarnya ya tak masalah.
Lalu aku bertemu dengan seorang cowok sebut saja namanya W. Awal dekat dengannya cuma sekedar berteman saja, tidak ada rasa. Aku masih ingat kenapa hubungan kami semakin dekat. Dulu aku punya masalah yang buat aku ingin menyerah, namun disaat itu dia benar-benar hadir dan membantu aku. Hubungan kami semakin dekat dan kami berpacaran.
Selama menjalin hubungan dengan si W, awalnya dia manis, namun seiring berjalannya waktu dia menunjukkan beberapa red flag yang bodohnya aku maklumi.
Sifat red flag-nya yaitu ketika ada masalah dia diam tidak ada komunikasi, suka menghilang, berkata-kata merendahkan diriku, membandingkan aku dengan wanita lain, dan banyak lagi. Namanya wanita bucin, antara otak dan hati tidak sejalan.
Akhirnya kami putus, nah disitu aku benar-benar patah hati sekali. Aku masih mencintainya, tapi tidak dengan sifat manipulatif dan NPD-nya. Aku tahu dia tidak baik, tapi entahlah aku masih menginginkannya.
Ketika putus dengannya melalui chat, dia menunjukkan sifat NPD-nya. Aku tidak mau berdebat dengannya. Aku iyakan apa saja katanya ketika dia merendahkanku, benar-benar menjatuhkan harga diriku pada saat itu.
Aku tidak balik merendahkan dia, karena dia sudah rendah tanpa aku rendahkan, cuma dia menilai dirinya lebih tinggi dari kenyataannya.
Putus darinya meninggalkan rasa marah dan rindu. Aku rindu momen ketika kami masih bersama, lalu benci mengingat sifat NPD dan manipulatifnya. Karena rindu yang mendalam, dan tak ada lagi dia yang biasanya selalu ada untukku, aku mulai depresi.
Ketika patah hati yang aku ingat yaitu kebaikan dan kehangatannya. Aku menginginkan itu terjadi lagi, dan menutup mata dengan sifat manipulatifnya.
Aku menyesal kenapa aku memutuskannya, seharusnya aku beri dia kesempatan, dia bisa berubah. Perasaan rindu dan menyesal membayangi hari-hariku. Rasanya hidupku gelap dan depresi.
Berbulan kemudian perlahan aku mulai proses penyembuhan patah hati. Lalu dia hadir lagi dalam hidupku di saat aku sudah 50% move on.
Kami balikan lagi, selama menjalin hubungan dengannya awalnya baik-baik saja, balikan sama mantan rasa bahagianya sebentar, lalu kemudian rasanya biasa saja. Hari demi hari berlalu, dia masih dengan sifat manipulatif dan NPD-nya.
Aku masih ingat yang buat aku benar-benar muak dengan sifat manipulatifnya, yaitu ketika dia menyalahkan aku dan membesar-besarkan masalah. Aku tahu dia lagi memainkan sifat manipulatifnya, tapi aku mundur satu langkah dengan mengiyakan kata-kata manipulatifnya. Dan hubungan kami berakhir. Lega rasanya.
Aku masuk dalam tahap penyembuhan diri dari depresi dan patah hati, dan itu memakan waktu lebih dari setahun untuk kembali pulih. Aku menonton salah satu video di youtube, alasan kamu belum move on karena kamu berharap rasa cinta dari seseorang dan kamu butuh rasa cinta itu, dan benar saja waktu bersamanya aku benar-benar merasa dicintai, dan itulah yang membuat aku susah move on disamping sifat negatifnya.
Lalu di video itu dijelaskan, semua manusia butuh cinta, dan mendapatkan cinta itu bukan hanya dari lawan jenis tapi bisa dari Tuhan, dari diri sendiri, dari keluarga, pertemanan, dan dari sekitar.
Dan dari video itu aku mulai sadar, dan mempercepat proses move on aku. Aku tidak butuh cinta manusia manipulatif dan NPD seperti dia. Ketika patah hati dulu, yang selalu aku ingat yaitu tentang keromantisannya, kebaikannya, kehangatannya dan mengesampingkan sifat negatifnya. Namun ketika sudah move yang selalu teringat yaitu sifat buruknya.
Setelah sembuh patah hati dari si W, aku secara tak sengaja bertemu dengan R. Dia benar-benar membuatku jatuh cinta lagi. Dia ganteng, kaya, dan pendengar yang baik. Cuma aku sama si R, tidak berharap banyak. Aku ragu apakah dia mencintaiku atau tidak. Kalau iya syukurlah, kalau tidak yaudahlah. Sekarang benar-benar fokus memperbaiki diri.
Terima kasih sudah membaca
Penulis: Zizeya
Baca Juga:

Posting Komentar