Siswa SDK Wea Au Kembali Belajar di Kelas Darurat Pascagempa
![]() |
| Siswi Kelas 6 SDK Wea Au NTT, korban bencana yang kini sudah mulai Sekolah lagi dibawah tenda PMI |
Salah satu siswa, Milan, siswi kelas 6 SDK Wea Au, mengaku senang dapat kembali bersekolah dan bertemu dengan teman-temannya.
“Saya senang bisa ketemu kembali dengan teman-teman,” kata Milan.
Milan mengatakan saat gempa terjadi dirinya sedang tertidur. Ia kemudian dibangunkan dan digendong ayahnya keluar rumah.
“Saat gempa saya masih tidur, jadi tidak sadar. Saat sadar, bapak saya gendong keluar rumah,” tuturnya.
Menurut Milan, kondisi ruang kelas darurat sebelumnya cukup panas ketika matahari mulai meninggi. Selain itu, pada pagi hari kursi di dalam kelas terkadang basah karena embun.
“Saya senang bisa ketemu kembali dengan teman-teman,” kata Milan.
Milan mengatakan saat gempa terjadi dirinya sedang tertidur. Ia kemudian dibangunkan dan digendong ayahnya keluar rumah.
“Saat gempa saya masih tidur, jadi tidak sadar. Saat sadar, bapak saya gendong keluar rumah,” tuturnya.
Menurut Milan, kondisi ruang kelas darurat sebelumnya cukup panas ketika matahari mulai meninggi. Selain itu, pada pagi hari kursi di dalam kelas terkadang basah karena embun.
“Kalau pagi kursi kelasnya basah karena ada embun. Pagi-pagi tidak terlalu panas, tapi kalau siang mataharinya sudah naik jadi panas,” ujarnya.
Untuk membuat ruang belajar lebih nyaman, PMI Kabupaten Nagekeo memasang terpal sebagai atap kelas darurat. Milan mengaku lebih nyaman mengikuti pembelajaran setelah terpal terpasang.
“Saya senang sekali sekarang kelas aku, soalnya tidak kena panas lagi,” katanya.
“Saya senang sekali sekarang kelas aku, soalnya tidak kena panas lagi,” katanya.
Kepala Sekolah SDK Wea Au, Marselina Mogi, mengatakan pihak sekolah telah mencoba sejumlah metode pembelajaran selama masa tanggap darurat, termasuk pembelajaran daring. Namun, metode tersebut dinilai belum efektif.
“Di masa tanggap darurat bencana beberapa sudah coba kami lakukan untuk pembelajarannya, mulai dari daring, tapi tidak efektif,” ujar Marselina.
Sekolah kemudian mendatangi sejumlah pos pengungsian untuk memberikan pembelajaran kepada siswa. Upaya tersebut juga belum berjalan secara efektif karena kondisi siswa dan lingkungan pengungsian.
“Di masa tanggap darurat bencana beberapa sudah coba kami lakukan untuk pembelajarannya, mulai dari daring, tapi tidak efektif,” ujar Marselina.
Sekolah kemudian mendatangi sejumlah pos pengungsian untuk memberikan pembelajaran kepada siswa. Upaya tersebut juga belum berjalan secara efektif karena kondisi siswa dan lingkungan pengungsian.
“Kami melakukan kunjungan ke pos-pos pengungsian untuk melakukan pembelajaran untuk anak didik, tetapi juga masih belum efektif,” katanya.
Pihak sekolah selanjutnya menggelar rapat bersama pemerintah desa dan wali murid. Dalam pertemuan tersebut disepakati pembangunan ruang kelas darurat untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung.
Pihak sekolah selanjutnya menggelar rapat bersama pemerintah desa dan wali murid. Dalam pertemuan tersebut disepakati pembangunan ruang kelas darurat untuk memastikan kegiatan belajar tetap berlangsung.
Ruang belajar sementara itu dibangun secara swadaya oleh masyarakat dari dua dusun bersama para wali murid menggunakan bambu. Namun, bangunan tersebut awalnya belum memiliki atap sehingga siswa terpapar panas saat pembelajaran berlangsung.
Kebutuhan atap kemudian disampaikan melalui komunikasi dengan pihak yayasan. Yayasan selanjutnya menghubungi PMI Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan dukungan.
“Yayasan menghubungi pihak PMI, belum sampai sehari sudah mendapatkan respons bahwa hari ini PMI Nagekeo akan melakukan pemasangan terpal di ruang kelas darurat di lapangan,” tutur Marselina.
Pemasangan terpal tersebut dilakukan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar siswa selama masa tanggap darurat bencana.
Dengan adanya ruang belajar darurat yang lebih terlindungi, para siswa SDK Wea Au kini dapat kembali mengikuti pembelajaran dan berkumpul bersama teman-temannya meski kondisi sekolah belum sepenuhnya kembali seperti sebelum gempa. (yan)
Kebutuhan atap kemudian disampaikan melalui komunikasi dengan pihak yayasan. Yayasan selanjutnya menghubungi PMI Kabupaten Nagekeo untuk mendapatkan dukungan.
“Yayasan menghubungi pihak PMI, belum sampai sehari sudah mendapatkan respons bahwa hari ini PMI Nagekeo akan melakukan pemasangan terpal di ruang kelas darurat di lapangan,” tutur Marselina.
Pemasangan terpal tersebut dilakukan untuk mendukung keberlangsungan kegiatan belajar siswa selama masa tanggap darurat bencana.
Dengan adanya ruang belajar darurat yang lebih terlindungi, para siswa SDK Wea Au kini dapat kembali mengikuti pembelajaran dan berkumpul bersama teman-temannya meski kondisi sekolah belum sepenuhnya kembali seperti sebelum gempa. (yan)
Baca Juga:

Posting Komentar