Saat Kredit Murah Belum Cukup Membuat UMKM Kembali Tumbuh
![]() |
Foto : Dafid Iswaludlin menunjukkan produk sepatu dan tas kulit produksi Zyllan Shoes Leather di Sidoarjo. Usahanya tetap bertahan meski omzet dan jumlah pekerja menurun. |
Di sebuah kawasan, tepatnya Jalan Monginsidi, Sidoklumpuk,
Sidoarjo, suara aktivitas produksi sepatu dan tas kulit masih terdengar. Di
tengah perubahan zaman dan selera pasar, Dafid Iswaludlin tetap mempertahankan
usaha yang telah dirintisnya sejak 2007. Usaha itu bernama Zyllan Shoes Leather
Belasan tahun lalu, bisnis sepatu dan tas kulit tersebut
sempat menikmati masa keemasan. Pada 2014-2015, omzetnya pernah mencapai
sekitar Rp25 juta setiap pekan. Pekerjanya pun mencapai sekitar 25 orang. Kini,
suasananya berbeda.
Jumlah pekerja tinggal lima orang. Omzet pun tidak lagi
seperti dulu. Sebagian besar pendapatan harus diputar kembali untuk menjaga
roda usaha tetap bergerak.
“Kalau dulu omzet bisa sampai Rp25 juta setiap minggu.
Sekarang kondisinya sudah berbeda,” kata Dafid, kepada media ini Rabu
(30/9/2026).
Pandemi Covid-19 menjadi salah satu titik perubahan. Setelah
itu, perilaku konsumen ikut bergeser. Persaingan semakin terbuka dan kanal
pemasaran berubah mengikuti perkembangan teknologi. Namun Dafid tidak menyerah.
Ia tetap mencoba memperbarui model sepatu dan tas,
memperbaiki peralatan produksi, serta mengikuti perubahan pasar. Dalam
perjalanan itu, akses pembiayaan perbankan turut membantu.
Dafid mengaku telah dua kali memperoleh pembiayaan UMKM dari
perbankan, masing-masing senilai Rp50 juta.
“Bantuan kredit sangat membantu pelaku UMKM, terutama untuk
pembelian model sepatu dan tas, upgrade peralatan dan kebutuhan usaha lainnya,”
ujarnya
Kisah Dafid menjadi potret kecil dari cerita besar
pembiayaan UMKM di Jawa Timur.
Berdasarkan data di Dinas Koperasi dan UKM Pemerintah
Provinsi Jawa Timur hingga Juli 2026 telah meluncurkan Kredit Prokestra
(Program Kesejahteraan Rakyat) sekitar Rp867,44 miliar kepada 28.538 pelaku
usaha. Pemerintah juga memberikan subsidi bunga sekitar Rp116 miliar.
Program tersebut dirancang untuk memberikan ruang bagi
pelaku UMKM memperoleh pembiayaan dengan beban bunga yang lebih ringan. Bagi
pelaku usaha kecil, tambahan modal tentu bukan perkara sepele.
Rp10 juta atau Rp50 juta bisa berarti tambahan mesin, bahan
baku, kemasan baru, stok barang atau modal untuk mencoba produk baru.
Tetapi pengalaman Dafid Iswaludlin menunjukkan bahwa
perjalanan UMKM tidak berhenti ketika modal sudah berada di tangan.
Sebab setelah modal datang, pertanyaan berikutnya adalah:
siapa yang akan membeli produknya?
Modal Ada, Pasar Tetap Menjadi Tantangan
Sepatu produksi Zyllan dijual sekitar Rp200 ribu hingga
Rp350 ribu. Sementara tas kulit berada pada kisaran Rp400 ribu hingga Rp1 juta.
Produk tersebut harus berhadapan dengan perubahan daya beli
konsumen, tren fesyen, persaingan produk dan perubahan cara masyarakat
berbelanja. Bagi pelaku UMKM, perubahan tersebut bisa terasa langsung.
Dulu, promosi melalui media sosial menjadi salah satu cara
memperkenalkan produk. Kini kanal penjualan berkembang semakin luas dan
persaingan di ruang digital semakin padat.
Dafid pun harus mengikuti perubahan tersebut. Dan di sinilah
kredit murah menemukan tantangannya.
Kredit dapat membantu membeli mesin. Kredit dapat membantu
menyediakan bahan baku. Kredit dapat membuat pelaku usaha memiliki napas lebih
panjang.
Tetapi kredit tidak otomatis mendatangkan pelanggan. Karena
itu, pembiayaan dan pemasaran menjadi dua sisi yang tidak bisa dipisahkan.
Pelaku UMKM membutuhkan modal, tetapi pada saat yang sama
membutuhkan kemampuan mengelola produk, membangun merek, memperluas pasar dan
memanfaatkan teknologi.
Ketika Angka NPL Bercerita
Kredit Prokestra mencatat tingkat Non-Performing Loan (NPL)
sekitar 0,33 persen per Juli 2026.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kredit bermasalah dalam
program tersebut relatif rendah. Namun, ada cerita lain yang perlu
dilihat. Kemampuan membayar cicilan
tidak selalu berarti usaha sedang berkembang.
Pelaku usaha bisa saja tetap membayar cicilan sembari
mengurangi biaya, menahan ekspansi atau mempertahankan jumlah pekerja yang ada.
Dengan kata lain, usaha bisa tetap hidup tanpa harus tumbuh.
Karena itu, keberhasilan pembiayaan UMKM tidak cukup dilihat
dari lancarnya cicilan. Perubahan omzet, jumlah pekerja, kapasitas produksi dan
luas pasar juga penting diperhatikan.
Bagi Dafid, kredit telah memberikan manfaat nyata. Peralatan
bisa diperbarui dan kebutuhan produksi dapat dipenuhi. Tetapi perjalanan untuk
mengembalikan usaha ke masa kejayaannya masih panjang.
Pendampingan Jadi Bagian Penting
Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Onny Setiawan mengatakan,
pemerintah provinsi memiliki peran dalam membantu pelaku UMKM mengakses
pembiayaan perbankan.
Menurutnya, masih banyak pelaku UMKM dan koperasi yang belum
memahami mekanisme pengajuan kredit.
“Yang bisa dilakukan pemerintah provinsi adalah pendampingan
agar pengusaha UMKM bisa mengakses bank. Untuk aturan mainnya harus mengikuti
OJK,” kata Onny.
Ia menilai intervensi pemerintah juga dapat dilakukan untuk
mengurangi beban pelaku usaha. “Misalnya kalau kredit Rp10 juta, pemprov
menanggung 50 persen sehingga pengusaha UMKM tidak berat,” ujarnya.
Pendampingan tersebut menjadi penting karena bagi sebagian
pelaku UMKM, urusan pembiayaan bukan sekadar soal tersedia atau tidaknya uang.
Ada prosedur, persyaratan, administrasi dan kemampuan menyusun rencana usaha
yang harus dipahami.
Setelah kredit diperoleh pun masih ada pekerjaan lain:
bagaimana membuat uang tersebut menghasilkan nilai tambah.
Koperasi dan Cerita yang Sama
Cerita tentang pentingnya aktivitas ekonomi juga muncul
dalam pengembangan Koperasi Desa Merah Putih (KDKMP). Hingga Mei 2026, Jawa
Timur tercatat memiliki 8.494 KDKMP yang terdiri atas 7.721 koperasi desa dan
773 koperasi kelurahan. Namun jumlah tersebut belum otomatis menggambarkan
aktivitas ekonomi.
Kepala Dinas Koperasi UKM Jawa Timur Endy Alim Abdi Nusa
mengatakan, pada Juli 2026, baru 1.097 KDKMP yang tercatat telah menjalankan
aktivitas usaha, memiliki anggota dan melakukan transaksi dalam sistem
Simkopdes Kementerian Koperasi. Pembentukan koperasi bukan tujuan akhir.
Koperasi harus memiliki anggota, aktivitas usaha dan
transaksi yang memberikan manfaat ekonomi. Pesan tersebut sebenarnya memiliki
garis yang sama dengan pembiayaan UMKM.
Membangun lembaga dan menyalurkan modal adalah langkah awal.
Tantangan sebenarnya adalah membuatnya hidup
Menjaga Napas, Mencari Jalan Tumbuh
Hampir dua dekade menjalankan Zyllan Shoes Leather membuat
Dafid memahami satu hal: menjalankan usaha bukan sekadar soal memiliki
modal.Modal memang penting. Namun setelah modal tersedia, pelaku usaha harus
berhadapan dengan pasar yang terus berubah
Kredit Rp50 juta daat membantu membeli peralatan. Subsidi
bunga dapat meringankan cicilan. Tetapi keberlanjutan usaha tetap ditentukan
oleh kemampuan menghasilkan penjualan.
Karena itu, perjalanan kredit murah Jawa Timur menarik
dilihat bukan hanya dari angka penyalurannya. Rp867,44 miliar merupakan angka
besar. Di baliknya ada ribuan cerita pelaku usaha dengan kondisi yang
berbeda-beda. Ada yang sedang berkembang. Ada yang sedang mempertahankan
usahanya. Ada pula yang masih mencari jalan untuk bangkit.
Dafid masih membuka pintu usaha, mempertahankan lima pekerja
dan mencoba membaca selera pasar yang terus berubah. Baginya, kredit memberikan
ruang untuk bernapas.
Tetapi untuk kembali berlari, UMKM membutuhkan lebih dari
sekadar modal.
Mereka membutuhkan pasar, pendampingan, inovasi dan
ekosistem usaha yang membuat setiap rupiah pembiayaan mampu menghasilkan nilai
tambah. Sebab pada akhirnya, keberhasiln kredit murah bukan hanya ketika
cicilan dibayar tepat waktu.
Keberhasilan itu juga terasa ketika mesin produksi kembali
sibuk, pekerja bertambah, pesanan meningkat dan omzet perlahan kembali tumbuh.
Di sanalah sebuah kredit tidak lagi sekadar menjadi utang,
tetapi berubah menjadi modal untuk menyalakan kembali mesin ekonomi UMKM. (red)

Posting Komentar