10 Upacara Adat Jawa Timur yang Hingga Kini Masih Dilestarikan

Surabaya – Upacara adat adalah sebuah upacara atau kebiasaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang pada suatu daerah tertentu, umumnya tidak terlepas dari sebuah peristiwa yang terjadi pada zaman dahulu.

Oleh karena itu upacara adat suatu daerah biasanya berbeda-beda, disebabkan sejarah dari daerah pasti berbeda, pada hal ini khusus upacara adat yang ada pada daerah Jawa Timur banyak berkaitan dengan sumber mata air maupun pertanian. Upacara digelar sebagai wujud syukur kepada leluhur maupun Tuhan Yang Maha Esa.


Berikut 10 upacara adat di Jawa Timur :

Labuh Sesaji dan Larung Sesaji

Tradisi Labuh Sesaji merupakan upacara adat Jawa Timur yang waktunya tahunan diselenggarakan di Telaga Sarangan. Tradisi ini diadakan pada bulan Ruwah, hari Jum’at Pon yang bertujuan sebagai ucapan terima kasih dari masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masyarakat Jawa Timur beranggapan Telaga Sarangan merupakan hadiah dari Tuhan. Telaga tersebut dianggap mendatangkan kemakmuran bagi masyarakat Magetan khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Larung sesaji adalah sebuah tradisi upacara adat yang dilakukan oleh masyarakat Jawa Timur yang berada di daerah pesisir pantai utara dan pantai selatan. Upacara adat Larung sesaji berbeda dengan upacara adat Labuh sesaji.

Upacara ini dapat dilakukan dengan cara menghanyutkan sesajen ke laut dalam rangka sebagai tanda rasa syukur dari hasil tangkapan ikan selama mereka melaut. Upacara larung sesaji ini umumnya dilaksanakan pada tanggal 1 muharram atau satu suro.

Upacara Adat Ngurit

Upacara Ngurit adalah upacara yang berhubungan dengan pertanian. Upacara dimaksudkan untuk permohonan perlindungan dan ucapan terima kasih kepada Sang Pencipta.

Upacara ini dilakukan pada saat menaburkan benih. Pada saat benih ditabur diadakan selamatan dengan sajian nasi golong, jenang abang, jenang sengkolo, cok bakal, dan jeroan ayam (isi perut ayam). Cok bakal merupakan sajian inti dalam budaya Jawa.

Upacara dimaksudkan agar benih yang ditaburkan dapat subur. Penduduk Desa Sawo dan Grogol, Ponorogo, Jawa Timur yang sebagian besar menganut Islam masih melaksanakan upacara ini.

Yadnya Kasada

Upaca adat ini merupakan ritual yang digelar oleh orang-orang Suku Tengger, Bromo, Jawa Timur. Konon kabarnya, kebiasaan ini adalah upacara untuk memperingati pengorbanan seorang Raden Kusuma anak Jaka Seger dan lara Anteng.

Upacara adat Kasada Bromo diadakan setiap setahun sekali saat datangnya bulan purnama pada bulan Kasada atau kesepuluh menurut kalender Jawa. Namun, menurut kalender Tengger, upacara dilakukan pada bulan ke 12.

Warga yang ikut upacara berkumpul di hamparan pasir (segara wedhi) untuk berdoa dan memberi sesaji di kaki Gunung Bromo. Tujuan upacara ini adalah sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, memohon agar hasil panen melimpah, dan menolak bala atau bahaya.

Upacara Adat Kebo-keboan

Upacara adat ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan masyarakat Suku Osing, Banyuwangi, Jawa Timur. Asal-usul tradisi kebo-keboan ini bersaal karena banyaknya sebuah musibah pageblok. Pada saat waktu itu masyarakat terkena wabah penyakit dan juga tanaman yang dapat merugikan warga daerah tersebut. Banyak dari warga yang meninggal dan juga kelaparan akibat adanya penyakit misterius tersebut.

Upacara dilanjutkan dengan Ruwatan Wayang Kulit dengan cerita Udan Mintoyo serta ziarah ke makam Menak Sopal. Tradisi Bersih Dam dilakukan setiap memasuki bulan Selo, tepatnya Jumat Kliwon.

Upacara Adat Keduk Beji

Upacara Adat Keduk Beji adalah upacara bersih sendang. Upacara ini digelar warga Desa Tawun, Kecamatan Kasreman, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Tradisi leluhur ini dilakukan sejak lama hingga sekarang. Upacara sebagai wujud peringatan hilangnya Raden Ludrojoyo yang hilang saat Tapa Kungkum (berendam) di Sendang Tawun.

Upacara ini biasanya digelar setiap hari Selasa Kliwon jelang bulan Suro berdasarkan perhitungan kalender Jawa Islam.

Upacara diawali dengan pengedukan atau dibersihkannya sendang (kolam) dari kotoran. Uniknya, pembersihkan ini hanya boleh dilakukan oleh laki-laki dengan mengambil semua kotoran dengan saling memukul menggunakan ranting yang diiringi tabuhan gendang.

Saling memukul difilosofikan sebagai sikap legowo, tidak boleh mendendam satu sama lain. Lalu, upacara dilanjutkan dengan tari persemahan Galih Nogo Seno dan penyileman (menyelam ke pusat sumber air, untuk menggantikan kendi yang dilakukan oleh keturunan Ludrojoyo).

Upacara Adat Grebegan

Grebegan adalah salah satu tradisi upacara adat yang memiliki sifat kesyukuran, dilakukan bersama-sama oleh masyarakat suku Jawa dengan tokoh utamanya yaitu seorang raja. Upacara adat Grebegan ini dilaksanakan selama tiga kali dalam datu tahun, diantaranya yaitu pada tanggal 12 Mulud, 1 Syawal, dan juga tanggal 10 bulan ke-12 Masehi.

Pada saat upacara grebegan ini raja mengeluarkan sedekahnya berupa hasil alam seperti sayuran dan juga sejenisnya, umumnya sedekah ini dibentuk seperti bidang kerucut seperti gunung, yang akan di rebutkan oleh masyakat.

Upacara Temu Manten Pegon

Upacara adat Temu Manten Pegon Jawa Timur adalah proses pertemuan antara pihak mempelai pengantin laki – laki dengan pihak mempelai pengantin perempuan. Tradisi ini terkenal di Kota Surabaya. Manten Pegon atau Pengantin Pegon merupakan pengantin yang dirias sedemikian rupa. Riasan yang dilakukan merupakan akulturasi budaya antara Arab, Jawa, Belanda, dan China.

Gabungan budaya tersebut menjadi warna dominan dalam busana para pengantin dan rombongan pengantin.

Saat prosesi pertemuan pengantin ini dilaksanakan ternyata dengan cara diarak yaitu mengarak pihak pengantin pria dan rombongan guna menjemput pengantin perempuan dimana setelah ditemukan keduanya kembali diarak keliling oleh rombongan. Kegiatan ini menarik perhatian warga karena berlangsung cukup meriah.

Tedhak Siten

Tedhak Siten merupakan upacara adat Jawa Timur yang diadakan karena adanya kepercayaan sementara orang bahwa tanah mempunyai kekuatan gaib. Selain itu adanya kepercayaan bahwa tanah dijaga oleh Bethara Kala. Karenanya si anak perlu dikenalkan kepa¬da Bathara Kala sipenjaga tanah melalui upacara yang disebut Tedhak Aiten supaya Bathara Kala tidak marah.

Keyanikan masyarakat sekitar, jika Bathara Kala marah, maka akan menimbulkan suatu bencana bagi si- anak itu.

Upacara Adat Ruwah Desa

Ruwah Desa adalah salah satu jenis upacara adat Jawa Timur yang dilaksanakan pada Bulan Ruwah sebelum masuk bulan Ramadhan. Tujuan dari tradisi Ruwah Desa ini yaitu untuk mendoakan nenek moyang mereka yang telah mendirikan atau Babad desa tersebut.

Selain untuk tujuan mendoakan nenek moyang tersebut, tradisi Ruwahan juga mempunyai tujuan untuk meminta agar selalu di beri keselamatan dan ketentraman bagi penduduk desa.

Demikian sedikit ulasan tentang Upacara Adat Jawa Timur yang harus kalian ketahui. Semoga dapat membantu semua masyarakat Indonesia khususnya para generasi muda agar dapat mengenal dan sekaligus melestarikan kebudayaan asli Negara Indonesia tercinta ini.

Selengkapnya Tentang Seni dan Kebudayaan Jawa Timur yang Wajib Dilestarikan


0 Komentar