Kultur Tengger: Menjaga Harmoni Alam dan Tradisi di Lereng Bromo
Probolinggo, RagamJatim.id – Di antara kabut pagi yang menggantung di lereng Gunung Bromo, masyarakat Suku Tengger masih setia menjaga tradisi dan kepercayaan leluhur mereka. Kultur Tengger bukan sekadar adat istiadat semata, melainkan filosofi hidup yang menekankan keseimbangan antara manusia, alam, dan spiritualitas.
Jejak Sejarah Suku Tengger
Suku Tengger diyakini merupakan keturunan Kerajaan Majapahit yang memilih menetap di pegunungan untuk mempertahankan keyakinan Hindu setelah runtuhnya kerajaan tersebut. Hingga kini, masyarakat Tengger masih memegang ajaran Hindu dengan kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam masyarakat Tengger, keyakinan kepada Sang Hyang Widhi dan penghormatan kepada para leluhur menjadi inti kehidupan, tercermin dalam setiap ritual adat mereka. Mereka percaya bahwa menjaga alam dan hidup harmonis dengan lingkungan adalah bentuk ibadah yang tak terpisahkan.
Yadnya Kasada: Puncak Spiritual Tengger
Dalam masyarakat Tengger, keyakinan kepada Sang Hyang Widhi dan penghormatan kepada para leluhur menjadi inti kehidupan, tercermin dalam setiap ritual adat mereka. Mereka percaya bahwa menjaga alam dan hidup harmonis dengan lingkungan adalah bentuk ibadah yang tak terpisahkan.
Yadnya Kasada: Puncak Spiritual Tengger
Salah satu puncak dari kultur Tengger adalah Yadnya Kasada, ritual tahunan yang digelar setiap bulan Kasada pada kalender Jawa Kuno. Dalam ritual ini, masyarakat Tengger membawa sesaji berupa hasil bumi, ternak, dan makanan untuk dipersembahkan ke kawah Bromo sebagai ungkapan syukur atas berkah yang mereka terima selama setahun.
“Kasada bukan hanya ritual, tapi juga momen persatuan masyarakat Tengger untuk berterima kasih kepada Sang Hyang Widhi,” ujar Sukatno (53), dukun adat Tengger yang ditemui RagamJatim.id, Kamis (17/7/2025).
Ritual ini menarik perhatian ribuan wisatawan setiap tahun, sekaligus menjadi momen masyarakat Tengger menunjukkan kedekatan mereka dengan alam. Persembahan yang dilemparkan ke kawah Bromo dianggap sebagai simbol kerelaan berbagi rezeki dengan alam.
Sistem Sosial yang Harmonis
“Kasada bukan hanya ritual, tapi juga momen persatuan masyarakat Tengger untuk berterima kasih kepada Sang Hyang Widhi,” ujar Sukatno (53), dukun adat Tengger yang ditemui RagamJatim.id, Kamis (17/7/2025).
Ritual ini menarik perhatian ribuan wisatawan setiap tahun, sekaligus menjadi momen masyarakat Tengger menunjukkan kedekatan mereka dengan alam. Persembahan yang dilemparkan ke kawah Bromo dianggap sebagai simbol kerelaan berbagi rezeki dengan alam.
Sistem Sosial yang Harmonis
Masyarakat Tengger dikenal memiliki sistem sosial yang masih sangat erat dengan gotong royong. Mereka terbiasa bekerja bersama-sama dalam kegiatan pertanian, persiapan upacara adat, maupun saat membangun rumah warga.
“Di sini semua masih saling membantu, tidak ada yang merasa lebih tinggi, karena hidup itu untuk bersama,” kata Sari (34), warga Desa Ngadisari, Bromo.
Selain itu, Suku Tengger memiliki struktur kepemimpinan adat yang masih dipegang teguh, dengan adanya dukun adat dan kepala desa yang bekerja sama menjaga keharmonisan sosial serta kelestarian tradisi.
Pertanian sebagai Urat Nadi Kehidupan
“Di sini semua masih saling membantu, tidak ada yang merasa lebih tinggi, karena hidup itu untuk bersama,” kata Sari (34), warga Desa Ngadisari, Bromo.
Selain itu, Suku Tengger memiliki struktur kepemimpinan adat yang masih dipegang teguh, dengan adanya dukun adat dan kepala desa yang bekerja sama menjaga keharmonisan sosial serta kelestarian tradisi.
Pertanian sebagai Urat Nadi Kehidupan
Ladang sayur yang menghijau di lereng Bromo menjadi sumber penghidupan utama masyarakat Tengger. Mereka menanam kentang, kubis, wortel, hingga bawang daun dengan tetap menjaga pola tanam ramah lingkungan agar tidak merusak ekosistem pegunungan.
Bagi mereka, bumi bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi juga ruang sakral yang harus dijaga kesuburannya demi anak cucu kelak.
Tantangan Modernisasi dan Upaya Pelestarian Kultur Tengger
Bagi mereka, bumi bukan sekadar tempat bercocok tanam, tetapi juga ruang sakral yang harus dijaga kesuburannya demi anak cucu kelak.
Tantangan Modernisasi dan Upaya Pelestarian Kultur Tengger
Meskipun pariwisata berkembang pesat di kawasan Bromo, masyarakat Tengger tetap berupaya menjaga nilai-nilai kearifan lokal mereka agar tidak terkikis oleh modernisasi. Namun, mereka juga perlahan menerima pendidikan modern untuk anak-anak mereka dengan tetap menanamkan nilai luhur budaya Tengger.
Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah bekerja sama dengan tokoh adat Tengger dalam upaya pelestarian tradisi, termasuk menjadikan beberapa ritual seperti Kasada sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
“Pelestarian budaya Tengger tidak hanya tugas masyarakat Tengger, tetapi juga kita semua yang ingin melihat keberagaman budaya Indonesia tetap hidup,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Probolinggo, Rini Wulandari, kepada RagamJatim.id.
Wisata Budaya yang Berkelanjutan
Pemerintah Kabupaten Probolinggo telah bekerja sama dengan tokoh adat Tengger dalam upaya pelestarian tradisi, termasuk menjadikan beberapa ritual seperti Kasada sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
“Pelestarian budaya Tengger tidak hanya tugas masyarakat Tengger, tetapi juga kita semua yang ingin melihat keberagaman budaya Indonesia tetap hidup,” ujar Kepala Dinas Pariwisata Probolinggo, Rini Wulandari, kepada RagamJatim.id.
Wisata Budaya yang Berkelanjutan
Potensi wisata budaya di Bromo bukan hanya soal panorama matahari terbit, tetapi juga tentang kearifan lokal Suku Tengger yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Homestay milik warga Tengger kini banyak menjadi pilihan wisatawan untuk merasakan kehidupan dan nilai-nilai adat Tengger secara langsung.
Wisatawan yang datang diimbau untuk menjaga etika dan kelestarian lingkungan selama berkunjung, karena Bromo bagi masyarakat Tengger adalah tempat suci dan simbol kehidupan.
Penutup: Kultur Tengger sebagai Cermin Keharmonisan
Wisatawan yang datang diimbau untuk menjaga etika dan kelestarian lingkungan selama berkunjung, karena Bromo bagi masyarakat Tengger adalah tempat suci dan simbol kehidupan.
Penutup: Kultur Tengger sebagai Cermin Keharmonisan
Kultur Tengger mengajarkan tentang bagaimana manusia seharusnya hidup berdampingan dengan alam dan sesama manusia dengan rasa hormat dan syukur. Di tengah perkembangan zaman, nilai-nilai ini menjadi pengingat penting bagi siapa saja yang haus akan kedamaian dalam hidup yang semakin serba cepat.
Kearifan lokal Suku Tengger bukan hanya aset budaya bagi masyarakat Bromo, tetapi juga aset bangsa yang patut dijaga dan dikenalkan kepada dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam.
(Tim RagamJatim.id)
Kearifan lokal Suku Tengger bukan hanya aset budaya bagi masyarakat Bromo, tetapi juga aset bangsa yang patut dijaga dan dikenalkan kepada dunia sebagai simbol harmoni antara manusia dan alam.
(Tim RagamJatim.id)