Henri Nurcahyo, Dari Dokter Hewan ke Penjaga Budaya Panji, Raih Anugerah Kebudayaan PWI 2026
Jakarta, Ragamjatim.id – Latar belakang pendidikan kedokteran hewan tak menghalangi Henri Nurcahyo menapaki jalan sunyi kebudayaan. Alumni Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) itu justru dikenal luas sebagai wartawan, penulis produktif, sekaligus pegiat utama Budaya Panji di Indonesia.
Atas dedikasinya selama lebih dari satu dekade menghidupkan kembali Cerita Panji sebagai pusaka budaya Nusantara, Henri dianugerahi Anugerah Kebudayaan PWI Pusat 2026 pada puncak peringatan Hari Pers Nasional (HPN), 9 Februari 2026, di Serang, Banten.
“Dengan penghargaan ini, saya makin sadar bahwa saya telah tersesat di jalan yang benar. Kesesatan yang justru menemukan tujuan,” ujar Henri, mantan wartawan Memorandum, Surabaya Post, dan Majalah Jakarta-Jakarta Biro Surabaya.
Kini, Henri berfokus mengelola portal dan komunitas BrangWetan, sekaligus menulis lebih dari 60 judul buku, sebagian besar bertema Cerita dan Novel Panji.
Menemukan Panji, Menemukan Jalan Hidup
Keterlibatan Henri dalam dunia Panji bermula pada 2008, saat ia ditunjuk Dewan Kesenian Jawa Timur menangani Program Konservasi Budaya Panji. Momentum itu terjadi bersamaan dengan Pasamuan Internasional Budaya Panji di Candi Jalatunda, Trawas, Mojokerto.
Di titik itulah kesadarannya berubah. Cerita Panji ternyata bukan sekadar dongeng populer seperti Ande-Ande Lumut atau Keong Emas, melainkan sebuah sistem budaya besar yang tersebar luas di Nusantara dan Asia Tenggara.
Terdapat ratusan versi Cerita Panji yang ditulis dalam berbagai aksara dan bahasa, dipentaskan dalam seni pertunjukan, divisualkan dalam batik, tenun, topeng, hingga terpahat dalam relief candi. Pada 2017, naskah-naskah Panji dari berbagai negara bahkan diakui UNESCO sebagai Memory of the World.
Jurnalisme, Akademik, dan Aktivisme Budaya
Naluri jurnalistik Henri mendorongnya menelusuri jejak Panji hingga ke kampung-kampung, kampus, dan forum internasional. Ia aktif berdiskusi dalam seminar akademik maupun jagongan budaya di pelataran candi.
Pengetahuannya tentang Panji juga dibagikan di ruang akademik. Henri menjadi dosen luar biasa pada mata kuliah Kajian Panji (Antropologi Sastra) di Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia, Universitas PGRI Adi Buana Surabaya.
Kekhawatiran Akan Klaim Budaya
Di balik apresiasi nasional dan internasional, Henri menyimpan kegelisahan. Ia khawatir Cerita Panji suatu hari justru lebih diakui negara lain dibandingkan Indonesia.
“Bagaimana kalau suatu saat Cerita Panji diakui milik Thailand, seperti Reog yang pernah diklaim Malaysia?” ucapnya.
Kekhawatiran itu beralasan. Di Thailand, Cerita Panji berkembang dengan nama Inou dan Bossaba, didukung negara, universitas, dan industri kreatif. Panji hadir dalam buku, lagu, sinetron, seni rupa, hingga merek komersial.
“Semoga Cerita Panji tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” harap Henri.(*)
