Pemkab Banyuwangi Berhasil Kembalikan 3.259 Anak Putus Sekolah Lewat Program Rindu Bulan
Pemkab Banyuwangi berhasil mengembalikan 3.259 anak putus sekolah melalui Program Rindu Bulan dan berbagai bantuan pendidikan.
Ragamjatim.id, Banyuwangi – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi terus memperkuat upaya agar tidak ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan. Melalui berbagai program bantuan pendidikan, ribuan anak yang sempat tidak bersekolah kini berhasil kembali melanjutkan pendidikan, baik melalui jalur formal maupun pendidikan kesetaraan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menegaskan pemerintah daerah berkomitmen memastikan setiap anak memperoleh hak pendidikan hingga jenjang SMA atau sederajat.
"Bagi kami, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mengenyam pendidikan apa pun persoalannya. Setiap anak berhak mendapatkan haknya untuk bersekolah melalui berbagai skema bantuan," ujar Ipuk, Kamis (16/7/2026).
Berbagai Bantuan Disiapkan untuk Cegah Anak Putus Sekolah
Pemkab Banyuwangi telah menyiapkan beragam bentuk dukungan sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Program tersebut meliputi:
- bantuan perlengkapan sekolah
- bantuan uang saku
- pendidikan kesetaraan
- pendampingan bagi anak yang sempat putus sekolah agar kembali belajar serta fasilitasi berbagai bantuan pendidikan lainnya.
Pendekatan ini dilakukan karena penyebab anak tidak bersekolah berbeda-beda, mulai dari faktor ekonomi, lingkungan keluarga, hingga kondisi sosial lainnya.
Program Rindu Bulan Jadi Andalan
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah Program Rintisan Desa Tuntas Wajib Belajar 12 Tahun (Rindu Bulan).
Program ini mengoptimalkan peran pemerintah desa dan kelurahan dalam mendata sekaligus mengembalikan Anak Tidak Sekolah (ATS) ke jalur pendidikan.
Mereka diarahkan kembali ke sekolah formal ataupun mengikuti pendidikan kesetaraan sesuai kondisi masing-masing.
Pelaksanaan program dilakukan secara kolaboratif dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain:
- pemerintah desa dan kelurahan
- satuan pendidikan
- Kementerian Agama
- Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur dan
- Badan Amil Zakat Nasional (Baznas)
Menurut Ipuk, pendataan dimulai dari tingkat desa agar penanganan dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
"Penyisiran kami lakukan dari lingkup desa. Kalau kita kunci dari wilayah terkecil, penanganannya akan lebih tepat sasaran karena penyebab anak putus sekolah berbeda-beda sehingga bentuk bantuannya juga harus disesuaikan," jelasnya.
Berhasil Kembalikan 3.259 Anak ke Bangku Sekolah
Sejak diluncurkan pada 2023, Program Rindu Bulan telah memberikan hasil yang signifikan.
Sebanyak 3.259 Anak Tidak Sekolah (ATS) berhasil kembali melanjutkan pendidikan.
Tidak hanya mengembalikan mereka ke bangku sekolah, Pemkab Banyuwangi juga terus memberikan pendampingan agar anak-anak tersebut mampu menyelesaikan pendidikannya hingga lulus.
"Tidak sekadar mengembalikan mereka ke sekolah, kami juga terus mendampingi, baik dari sisi prestasi maupun kebutuhan pendidikannya hingga lulus," kata Ipuk.
Bupati Ipuk Turun Langsung Beri Motivasi
Selain melalui pendataan dan pemberian bantuan, Bupati Ipuk juga rutin mengunjungi rumah anak-anak yang berisiko putus sekolah.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memberikan motivasi kepada anak maupun keluarganya agar tetap melanjutkan pendidikan.
Menurut Ipuk, pendidikan menjadi salah satu kunci utama dalam memutus rantai kemiskinan sehingga seluruh pihak perlu bergotong royong memastikan anak-anak tetap bersekolah.
"Dengan kolaborasi banyak pihak, kami berharap semakin banyak anak Banyuwangi yang bisa menyelesaikan pendidikannya. Pendidikan merupakan salah satu kunci memutus rantai kemiskinan," ujarnya.
Pendampingan Dimulai dari Verifikasi Data
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Banyuwangi Alfian menjelaskan, proses penanganan diawali dengan verifikasi dan validasi data anak yang berpotensi putus sekolah.
Selanjutnya, tim melakukan kunjungan langsung ke rumah untuk mengetahui penyebab anak tidak lagi bersekolah.
Hasil visitasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan bentuk bantuan yang paling sesuai.
"Anak-anak yang memang benar berstatus ATS akan kami visitasi untuk mengetahui akar persoalannya. Dari situ kami menentukan afirmasi atau bantuan yang paling sesuai, baik mengembalikan ke sekolah formal, pendidikan kesetaraan, maupun memfasilitasi akses berbagai bantuan pendidikan yang tersedia," jelas Alfian.
Penyisiran Dilakukan hingga Tingkat Desa
Pemkab Banyuwangi secara aktif melakukan penyisiran terhadap anak-anak yang berpotensi putus sekolah hingga ke tingkat desa.
Pendekatan ini memungkinkan pemerintah mengetahui kondisi riil di lapangan sehingga bantuan yang diberikan lebih tepat sasaran dan sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.
Program SAS Tanamkan Kepedulian Antar Siswa
Selain Program Rindu Bulan, Banyuwangi juga memiliki Program SAS (Siswa Asuh Sebaya).
Melalui gerakan ini, para siswa diajak menyisihkan sebagian uang sakunya untuk membantu teman-teman yang kurang mampu.
Dana yang terkumpul digunakan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pendidikan, seperti:
- sepeda
- kacamata
- perlengkapan sekolah
- uang saku dan
- kebutuhan pendidikan lainnya.
Program tersebut tidak hanya membantu siswa dari keluarga kurang mampu, tetapi juga menanamkan nilai empati, kepedulian sosial, dan semangat gotong royong di lingkungan sekolah.
Komitmen Wujudkan Wajib Belajar 12 Tahun
Berbagai program yang dijalankan Pemkab Banyuwangi menunjukkan komitmen pemerintah daerah dalam mewujudkan program Wajib Belajar 12 Tahun sekaligus menekan angka anak putus sekolah.
Melalui kolaborasi pemerintah, sekolah, desa, lembaga keagamaan, hingga masyarakat, Banyuwangi berharap semakin banyak generasi muda yang mampu menyelesaikan pendidikannya dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Pendidikan yang merata dinilai menjadi investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mengurangi kemiskinan di daerah. (*)
Baca Juga:

Posting Komentar