PMI Jatim Salurkan 155 Ribu Liter Air Bersih ke Bondowoso, Libatkan Komunitas Lintas Agama
PMI Jatim menyalurkan 155 ribu liter air bersih di Bondowoso bagi 1.922 warga terdampak kekeringan dengan dukungan komunitas lintas agama.
Ragamjatim.id, Bondowoso – Palang Merah Indonesia (PMI) Jawa Timur terus memperkuat penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan di Kabupaten Bondowoso. Dalam aksi kemanusiaan tersebut, PMI tidak hanya berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan PMI setempat, tetapi juga menggandeng berbagai komunitas lintas agama dan organisasi masyarakat.
Kepala Bidang Penanggulangan Bencana PMI Jawa Timur, Edi Purwinarto, turun langsung meninjau distribusi air bersih di Desa Purnama, Kecamatan Tegalampel, Rabu (15/7/2026). Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan bantuan menjangkau warga yang paling membutuhkan sekaligus mengevaluasi kondisi di lapangan.
Sebelumnya, tim monitoring PMI Jawa Timur juga melakukan pemantauan distribusi air bersih di Dusun Bunder, Desa Sumberpinang, Kecamatan Pakusari, Kabupaten Jember sebagai bagian dari respons kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Timur.
Dua Dusun di Desa Purnama Paling Terdampak
Dalam peninjauan tersebut, Edi didampingi jajaran PMI Bondowoso, unsur Kecamatan Tegalampel, Sekretaris Desa Purnama Abdul Ghafur, serta perwakilan Paguyuban Umat Buddha.
Sekretaris Desa Purnama, Abdul Ghafur, menjelaskan bahwa Dusun Keramat dan Dusun Tugu menjadi wilayah yang paling sering mengalami krisis air bersih setiap musim kemarau.
Menurutnya, Desa Purnama memiliki delapan dusun, namun baru empat dusun yang memiliki fasilitas sumur bor, baik bantuan pemerintah maupun milik warga.
"Idealnya setiap dusun memiliki dua sumur bor agar kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi," ujar Abdul Ghafur.
Ia menambahkan, saat musim kemarau debit sumber air menurun drastis sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan warga. Sebaliknya, ketika musim hujan, kualitas air menjadi keruh dan berlumpur sehingga tidak layak dikonsumsi.
Komunitas Lintas Agama Turut Membantu
Distribusi air bersih kali ini juga menjadi bukti kuatnya semangat gotong royong lintas agama di Bondowoso.
Hendra, anggota Paguyuban Vihara Bondowoso, mengatakan pihaknya sengaja terjun langsung ke lokasi agar dapat melihat kondisi masyarakat sekaligus membantu meringankan tugas relawan PMI.
Sementara itu, Pengurus PMI Bondowoso Wahyudi menyebutkan bantuan juga datang dari umat Katolik Paroki serta komunitas alumni lintas sekolah angkatan 1976 yang bersama-sama mendukung penyediaan air bersih bagi warga.
Kolaborasi berbagai elemen masyarakat tersebut dinilai menjadi kekuatan penting dalam menghadapi dampak musim kemarau yang semakin panjang.
Kekeringan Diperkirakan Berlangsung Lebih Lama
Edi Purwinarto menegaskan PMI Jawa Timur akan terus melaksanakan distribusi air bersih selama musim kemarau berlangsung.
Upaya tersebut dilakukan melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, PMI kabupaten/kota, serta berbagai organisasi kemasyarakatan agar penanganan kekeringan dapat berjalan lebih efektif.
Menurut Edi, musim kemarau tahun ini diperkirakan berlangsung lebih panjang akibat pengaruh fenomena El Niño.
Dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur, sebanyak 29 daerah berpotensi mengalami kekeringan.
Hingga pertengahan Juli 2026, tercatat 11 daerah telah menetapkan status darurat kekeringan, sementara enam daerah secara aktif melaksanakan distribusi air bersih kepada masyarakat.
Bondowoso Tetapkan Darurat Kekeringan Selama 90 Hari
Kabupaten Bondowoso telah menetapkan status darurat kekeringan selama 90 hari yang berlaku sejak 14 April 2026.
Sebanyak 13 desa dilaporkan terdampak kekurangan air bersih.
Selama periode penanganan hingga pertengahan Juli 2026, PMI Bondowoso telah melaksanakan:
- 31 kali distribusi air bersih
- 155.000 liter air disalurkan
- Menjangkau 753 kepala keluarga
- Melayani sekitar 1.922 jiwa
- Distribusi dilakukan ke lima desa
Untuk mendukung operasi tersebut, PMI mengerahkan tiga unit truk tangki air, terdiri atas satu unit bantuan PMI Jawa Timur dan dua unit truk sewaan dari PDAM.
Medan Berat Jadi Tantangan Distribusi
Meski distribusi terus berjalan, PMI menghadapi tantangan cukup besar di lapangan.
Sebagian besar wilayah terdampak berada di kawasan pegunungan dengan akses jalan yang menanjak, sempit, dan mengalami kerusakan di sejumlah titik.
Selain itu, jarak sumber air menuju lokasi distribusi cukup jauh sehingga setiap armada hanya mampu melakukan maksimal dua kali perjalanan dalam sehari.
Kondisi tersebut membuat proses penyaluran membutuhkan waktu dan biaya operasional yang lebih besar.
Pipanisasi dan Sumur Bor Jadi Solusi Jangka Panjang
Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, PMI Jawa Timur menilai pembangunan jaringan pipanisasi dari sumber air menuju permukiman warga menjadi solusi yang lebih berkelanjutan dibanding hanya mengandalkan distribusi menggunakan truk tangki.
Selain itu, penambahan sumur bor di setiap dusun juga dinilai sangat penting agar masyarakat memiliki akses air bersih yang lebih stabil sepanjang tahun, terutama saat musim kemarau.
Dengan langkah tersebut, diharapkan ketergantungan terhadap bantuan air bersih dapat berkurang dan masyarakat memiliki sumber air yang lebih aman serta berkelanjutan di masa mendatang. (*)
Baca Juga:

Posting Komentar